Nobar Film Pesta Babi di Palu Membludak, Penonton Rela Berdiri hingga ke Luar Ruangan
Lisna Ali May 14, 2026 09:22 AM

TRIBUNPALU.COM - Organisasi pers yang tergabung dalam Rumah Jurnalis menggelar diskusi dan nonton bareng film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

Kegiatan ini berlangsung di Sekber Rumah Jurnalis, Lorong 03 Jl Ahmad Yani, Kelurahan Talise, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (13/5/2026) malam.

Ratusan warga dari berbagai kalangan memadati lokasi sejak acara dimulai pukul 20.00 WITA.

Tercatat sekitar 300 orang hadir untuk menyaksikan film yang mengangkat realitas sosial di tanah Papua tersebut.

Peserta yang datang didominasi oleh mahasiswa, jurnalis, aktivis lingkungan, hingga pegiat sosial di Kota Palu.

Antusiasme yang tinggi membuat kapasitas ruangan di Sekber Rumah Jurnalis tidak mampu menampung seluruh penonton.

Baca juga: 3 Derbi Baru di Liga 1 Super League Musim Depan, Termasuk Derbi Ternate

Pantauan TribunPalu.com, banyak penonton yang rela berdiri di area luar ruangan karena terbatas tempat duduk.

Meski kondisi sangat padat, suasana nobar berlangsung tertib dan aman hingga seluruh rangkaian acara selesai.

Para peserta tampak serius mengikuti setiap adegan dalam film yang berdurasi sekitar satu jam tersebut.

Isi film Pesta Babi?

Film Pesta Babi menyoroti dampak ekspansi industri besar dan investasi terhadap kehidupan masyarakat asli Papua.

Dalam film dijelaskan bahwa tradisi pesta babi merupakan simbol persaudaraan dan hubungan spiritual masyarakat dengan tanah.

Namun, berbagai proyek industri dinilai telah mengancam keberlangsungan tradisi itu karena hutan terus mengalami kerusakan.

Dokumenter ini juga memperlihatkan dampak nyata kerusakan lingkungan seperti sungai yang tercemar dan menyempitnya ruang hidup.

Usai pemutaran film, panitia langsung melanjutkan kegiatan dengan sesi diskusi bersama tiga narasumber utama.

Baca juga: Ratusan Atlet Ikuti UKT Taekwondo Sulteng 2026, KONI Targetkan Prestasi Menuju PON 2028

Hadir sebagai pemateri yakni Dewan AMAN Wilayah Sulteng Rukmini Toheke dan Direktur Yayasan Tanah Merdeka (YTM) Richard Labiro.

Selain itu, hadir pula perwakilan mahasiswa Universitas Tadulako asal Papua, Aison Gwijangge, untuk memberikan testimoni langsung.

Diskusi ini dipandu oleh Heri Susanto dari Rindang.id yang bertindak sebagai moderator.

Dalam pemaparannya, para narasumber menekankan pentingnya menjaga hak-hak masyarakat adat di tengah arus investasi.

Mereka menyoroti bahwa persoalan yang terjadi di Papua memiliki pola yang hampir sama dengan konflik agraria di Sulawesi Tengah.

Menurutnya Ekspansi industri ekstraktif seringkali meminggirkan masyarakat asli dari tanah ulayat mereka sendiri.

Sesi tanya jawab menjadi bagian yang paling dinamis, di mana banyak mahasiswa aktif menyampaikan pandangan kritis mereka.

Kegiatan ini resmi ditutup menjelang tengah malam dengan ajakan untuk terus mengawal isu lingkungan dan hak asasi manusia.(*)

https://www.whatsapp.com/channel/0029VaGJUF060eBeALCKKw2b

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.