Kenapa Rebalancing MSCI Bikin IHSG Rontok? Ini Penjelasannya
GH News May 14, 2026 10:08 AM
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah setelah penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mencoret 18 saham asal Indonesia dari indeksnya. Hingga penutupan perdagangan hari ini, Rabu (13/5), IHSG tercatat melemah 1,98% ke level 6.723,32.

Pelemahan IHSG umumnya dipicu aksi jual besar-besaran oleh investor asing yang khawatir terhadap saham-saham Indonesia yang dikeluarkan dari indeks MSCI. Sejumlah saham tersebut juga tergolong saham unggulan atau blue chip yang biasa menopang gerak IHSG, terutama yang dicoret dari MSCI Global Standard Index.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan aksi jual investor asing terjadi karena hilangnya daya tarik pada saham-saham tersebut. Para investor asing juga menjadikan MSCI sebagai tolok ukur investasinya terhadap saham-saham Indonesia.

Beberapa di antaranya adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang tercatat melemah 9,09% ke harga Rp 3.700 per saham. Kemudian saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang melemah 11,36% ke harga Rp 3.200 per saham.

Kemudian PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang tercatat melemah hingga 11,16% ke harga Rp 1.035 per saham. Selanjutnya PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turun hingga menyentuh auto rejection bawah (ARB) sebesar 14,85% ke harga Rp 4.300 per saham dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sebesar 10,05% ke harga Rp 850 per saham.

"Adapun pengumuman ini menjadi sentimen negatif bagi IHSG sebab saham-saham yang dihapus ini kemungkinan besar akan kehilangan daya tarik di mata investor asing yang hanya berpatokan pada indeks MSCI," ujarnya kepada kepada detikcom, Rabu (13/5/2026).

Berdasarkan catatan detikcom, MSCI merupakan perusahaan penyedia indeks saham global yang berbasis di Amerika Serikat (AS). MSCI memiliki visi untuk memperkuat pasar global dengan menghubungkan para pelaku di seluruh ekosistem keuangan dengan bahasa yang sama.

Mengutip laman resmi MSCI, lembaga ini menyediakan analisis dan wawasan investasi untuk membantu investor melihat risiko dan peluang pasar. Selain itu, MSCI juga mendorong inovasi dalam pengambilan keputusan investasi dengan total Asset Under Management (AUM) mencapai US$ 21 triliun atau sekitar Rp 367.469 triliun (asumsi kurs Rp 17.498).

IHSG Koreksi Terbatas

Meski demikian, IHSG hari ini mencatat koreksi terbatas jika dibandingkan pengumuman pertama MSCI terkait transparansi pasar modal pada akhir Januari 2026. Pengumuman tersebut diketahui memicu aksi jual besar-besaran hingga Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan atau trading halt.

Co Founder PasarDana sekaligus Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee, mengatakan reaksi investor kali ini cenderung lebih tenang. Sebab, pencoretan sejumlah saham dari indeks MSCI lebih disebabkan faktor teknis, seperti perubahan metode penilaian dan tingkat likuiditas saham.

Ia juga menilai, banyak pelaku pasar dan fund manager yang telah mengantisipasi pengumuman tersebut dalam beberapa bulan terakhir. Sementara untuk fund manager pasif, sebagian memanfaatkan periode jangka pendek untuk rebalancing portofolionya mengikuti pengumuman MSCI.

"Perlu dipahami bahwa penghapusan (deletion) sejumlah emiten dari indeks ini lebih bersifat teknikal terkait metodologi bobot dan likuiditas, bukan serta-merta mencerminkan kerusakan fundamental pada perusahaan tersebut," ungkap Hans Kwee dalam keterangan tertulis.

Tak Ada Panic Selling

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pengumuman MSCI tidak banyak memicu aksi jual secara keseluruhan. Bahkan saham-saham yang dikeluarkan hari ini masih bergerak pada rentang yang dianggap wajar.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menilai aktivitas transaksi pasar modal saat ini masih dalam batas wajar sebagai imbas rebalancing indeks. OJK dan self regulatory organization (SRO) akan terus mencermati pergerakan IHSG menyusul pengumuman hari ini.

"Kemudian tadi frekuensi dan volume serta nilai transaksi juga cukup baik. Secara rata-rata tidak ada perbedaan, normal dibandingkan hari-hari sebelumnya. Jadi ini juga menunjukkan tidak adanya upaya panic selling atau reaksi satu arah berupa arus, katakanlah upaya menjual saham-saham tanpa diimbangi kekuatan pembelian," ungkapnya dalam konferensi pers di Gedung BEI, Rabu (13/5/2026).

Hasan menambahkan, menyebut koreksi yang terjadi pagi ini merupakan konsekuensi dari perbaikan dalam aksi reformasi pasar modal. Namun menurutnya, pelemahan yang terjadi ini masih tergolong wajar karena tidak terjun signifikan.

"Alhamdulillah per hari ini rasanya tingkat penurunannya tidak signifikan," jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.