TRIBUNTRENDS.COM - Mengintip asrinya rumah bersejarah milik dr. Sardjito di Yogyakarta.
Rumah dengan bangunan lawas dan pekarangan yang luas ini tampak asri dan sejuk.
Modelnya sangat kental dengan hunian zaman dulu yang begitu menenangkan.
Sayang, rumah bersejarah ini akan dilepas oleh ahli warisnya.
Prof dr Sardjito sendiri merupakan Rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM)
dr. Sardjito juga dikenal sbagai Pahlawan Nasional.
Rumah bersejarahnya yang terletak di Jalan Cik Di Tiro Nomor 16, Terban, Kota Yogyakarta, kini resmi ditawarkan untuk dijual.
Baca juga: Makin Ketat! Aturan Baru Kawasan Malioboro Yogyakarta, Larangan PKL & Bus Wisata, Merokok Kena Denda
Video iklan penjualan rumah dr Sardjito ini beredar di media sosial.
Rumah tersebut memilik luas lahan sekitar 1.000 meter persegi.
Pengurus dan penjaga rumah yang bernama Budhi Santoso pun mengungkap alasan mengapa rumah penuh sejarah tersebut akhirnya dijual.
Menurut penuturan Budhi yang sudah menjaga rumah dr. Sardjito sejak tahun 1980 ini, keputusan menjual aset sudah disepakati oleh para ahli waris.
Langkah ini diambil untuk menghindari potensi perpecahan keluarga terkait pengelolaan warisan di masa depan.
"Dengan berat hati saya sampaikan kepada para ahli waris, dan mereka setuju kalau ini dilepas. Saya berharap yang membeli adalah orang terbaik," ujar Budhi saat ditemui di lokasi, Rabu (13/5/2026), dikutip dari Kompas.com.
Rumah milik dr. Sardjito ini menyimpan banyak sejarah perjuangan dan pendidikan.
Rumah tersebut memiliki gaya klasik dengan atap segitiga runcing.
Selain menjadi tempat tinggal dr. Sardjito, rumah tersebut juga sering dijadikan lokasi diskusi kebangsaan oleh tokoh-tokoh politik nasional.
Menariknya, rumah tersebut juga pernah menjadi tempat pelestarian jamu, termasuk obat peluruh batu urin yang dikembangkan dr. Sardjito.
Tak heran kalau rumah tersebut menyimpan nilai hsitoris yang tinggi.
Meski sudah tampak tua, rumah tersebut masih berdiri kokoh.
Kondisi fisik bangunan juga masih sangat terawat.
Lantai ubin merah yang mengkilap dan nuansa lawas rumah pun tetap dipertahankan.
Baca juga: Angkringan Plataran Senopati Yogyakarta, Hasil Patungan Jukir yang Kehilangan Lahan, Sentra Kuliner
Budhi berharap rumah bersejarah itu dapat dimiliki oleh institusi yang mampu menjaga nilai dan warisan sejarahnya tetap hidup, seperti Universitas Gadjah Mada atau Universitas Islam Indonesia.
Menurutnya, bangunan tersebut masih sangat layak dimanfaatkan untuk kepentingan sosial maupun pendidikan yang sejalan dengan semangat perjuangan dr. Sardjito.
Ia membayangkan rumah itu bisa kembali difungsikan sebagai rumah dinas rektor, museum, hingga fasilitas pelayanan masyarakat seperti Puskesmas.
"Itu kan masih selaras dengan semangat dr. Sardjito. Rektor UGM juga sudah sempat berkunjung ke sini," imbuhnya.
Di balik harapan itu, Budhi mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap rumah penuh kenangan tersebut.
Karena itu, ia merasa berat apabila suatu saat bangunan bersejarah itu berubah menjadi tempat usaha komersial yang dinilai jauh dari nilai aslinya.
"Kalau dibeli oleh siapa pun lalu dipakai untuk kafe, saya susah menerima, rasanya mengelus dada. Saya lebih rela jika tetap digunakan sebagai hunian atau fungsi sosial," ungkap Budhi.
Ia menilai fungsi sosial atau hunian akan lebih menghormati sejarah panjang yang melekat pada rumah tersebut.
Budhi juga mengungkapkan bahwa penawaran rumah itu sudah disampaikan kepada sekitar 10 pihak, termasuk sejumlah tokoh di Yogyakarta.
Meski begitu, ia memilih tidak membuka harga jual properti tersebut karena menghormati privasi keluarga ahli waris.
(TribunTrends/Ninda)