BANJARMASINPOST.CO.ID - Tak terima istri minta cerai, suami sekap dan mengancam membakar tiga anak kandungnya.
Bahkan, drama ini membuat menghebohkan warga di Bandung, Jawa Barat yang menjadi tempat kejadian perkara..
Pelaku diduga mengurung ketiga anaknya di dalam rumah, bahkan sempat mengancam akan membakar tempat tinggal mereka.
Kini terungkap, aksi nekat itu diduga dipicu persoalan rumah tangga setelah sang istri meminta cerai.
Ketiga anak tersebut kini berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat dan kini telah diserahkan kembali kepada ibunya.
Peristiwa mencekam itu terjadi di Jalan Lemah Neundeut Nomor 82, Kelurahan Sukawarna, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, pada Selasa (12/5/2026) sekitar pukul 00.54 WIB.
Baca juga: Diduga Sopir Ngantuk, Truk Masuk Got di Landasan Ulin Banjarbaru
Kasus ini pertama kali diketahui setelah petugas gabungan menerima laporan mengenai seorang pria yang diduga menyekap tiga anaknya di dalam rumah sambil mengancam akan melakukan tindakan ekstrem.
Laporan tersebut langsung ditindaklanjuti oleh tim gabungan yang terdiri dari petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung (Damkarmatan), kepolisian, hingga tim medis.
Kepala Damkarmatan Kota Bandung, Sony Bakhtiyar, mengatakan situasi di lokasi saat itu sangat genting sehingga memerlukan penanganan cepat serta negosiasi intensif.
“Berdasarkan informasi dari kepolisian, ada dugaan seseorang hendak melakukan bunuh diri sekaligus menyekap tiga anaknya di dalam bangunan. Situasinya sangat kritis sehingga membutuhkan tindakan darurat,” ujar Sony, Selasa (12/5/2026).
Setibanya di lokasi, petugas langsung berkoordinasi dengan pihak keluarga, pelapor, serta aparat kepolisian termasuk Tim Prabu untuk membagi tugas penyelamatan dan pengamanan area.
Proses evakuasi dimulai sekitar pukul 01.10 WIB.
Tim gabungan kemudian masuk ke dalam rumah untuk melakukan penyisiran menyeluruh.
Petugas awalnya memeriksa seluruh ruangan, termasuk bagian lantai atas bangunan, namun tidak menemukan siapa pun.
Saat hendak turun kembali, petugas menemukan sebuah ruang tersembunyi di bawah lantai yang digunakan sebagai tempat penyimpanan berbagai kemasan oli.
Dari lokasi itu, petugas melihat celah kecil yang tertutup gorden.
Setelah diperiksa lebih dekat, mereka menemukan tiga anak sedang tertidur di dalam ruang sempit tersebut.
“Petugas langsung mengevakuasi ketiga anak itu dengan aman, lalu menyerahkan mereka kepada ibunya,” jelas Sony.
Setelah anak-anak berhasil diselamatkan, petugas kembali melakukan pencarian terhadap pria yang diduga sebagai pelaku.
Namun hingga penyisiran selesai, keberadaan pria tersebut tidak ditemukan.
Diduga, pelaku sudah lebih dulu melarikan diri sebelum aparat tiba.
Seorang tetangga korban bernama Ali mengungkapkan, konflik rumah tangga diduga menjadi pemicu aksi nekat tersebut.
Menurutnya, istri pelaku disebut sudah tidak tahan dengan kondisi rumah tangga mereka dan berniat mengajukan perceraian.
“Awalnya sih istrinya minta cerai, tapi suaminya enggak terima. Mungkin itu yang bikin emosinya memuncak,” kata Ali.
Ia mengatakan pasangan tersebut tinggal di rumah kontrakan sambil menjalankan usaha bengkel mobil.
Namun, usaha mereka disebut sedang terpuruk dalam enam bulan terakhir.
“Bengkelnya seperti bangkrut. Sering tutup, banyak pelanggan juga komplain. Mungkin tekanan ekonomi bikin depresi,” ujarnya.
Ali mengaku pertengkaran antara pasangan itu bukan hal baru.
Menurutnya, warga sekitar sudah beberapa kali mendengar suara cekcok dari rumah tersebut.
“Kalau mereka berantem, tetangga jadi enggak nyaman. Sudah sering cekcok, tapi kemarin itu sepertinya puncaknya,” tuturnya.
Terkait kabar pelaku hendak membakar rumah, Ali mengatakan dirinya tidak melihat secara langsung upaya pembakaran.
Namun, ia mengetahui bahwa pria tersebut sempat menyiramkan bensin di sekitar rumah.
“Setahu saya cuma nyiram bensin saja. Mungkin itu cuma gertakan supaya istrinya enggak jadi cerai,” katanya.
Saat banyak warga mulai berdatangan ke lokasi, pelaku diduga langsung kabur meninggalkan rumah.
Kini rumah kontrakan tersebut disebut dalam keadaan kosong.
Sementara itu, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk menemukan keberadaan pria tersebut serta mendalami motif pasti di balik dugaan penyekapan terhadap tiga anak kandungnya.
Banyak pasangan yang memutuskan untuk bercerai, meskipun tampaknya kehidupan rumah tangga mereka terlihat bahagia dan stabil dari luar.
Sering kali, masalah yang timbul merupakan akumulasi dari perselisihan di masa lampau yang kemungkinan belum terselesaikan dengan baik.
Baca juga: Perhatikan, 6 Langkah Sebelum Bilang Ingin Bercerai kepada Pasangan
Masalah-masalah tersebut juga biasanya sangat privasi dan tergantung bagaimana kedua belah pihak dapat menghadapinya.
Meski begitu, ada juga alasan umum yang menyebabkan pasangan suami istri memutuskan untuk menghakhiri kehidupan pernikahan mereka.
Seorang relationship coach sekaligus pendiri Smart Dating Academy, Bela Gandhi membagikan beberapa alasan utama perceraian yang kerap ditemui dari klien-kliennya, sebagai berikut ini.
1. Perselingkuhan
Perselingkungan biasanya menjadi salah satu pendorong utama perceraian. Bukan hanya perselingkuhan fisik saja yang terjadi, tetapi juga perselingkuhan emosional.
"Ada pula perselingkuhan yang tak terhitung jumlahnya, yang saya dengar terjadi karena media sosial," katanya.
Menurut seorang psikoterapis, Esther Perel, perselingkuhan adalah pengkhianatan terbesar yang dapat membuat sebuah pernikahan benar-benar berakhir.
Penghancuran kepercayaan dalam hubungan yang sudah lemah sering kali dapat menjadi simpul kematian bagi hubungan tersebut.
2. Masalah keuangan
Hidup dalam kemiskinan sangat menegangkan dan stres karena keuangan dapat menyebabkan sumber pertengkaran dan berujung pada perceraian.
Perbedaan dalam cara kita membelanjakan barang atau menghemat uang juga bisa menjadi hambatan yang sulit dalam hubungan.
Masalah lain yang berhubungan dengan uang adalah ketika wanita lebih sukses dan memiliki penghasilan yang lebih tinggi dari pasangannya. Bentuk-bentuk modernisasi seperti ini dapat menyebabkan hubungan untuk tergelincir.
3. Kecanduan
Kecanduan sering disebut-sebut sebagai alasan perceraian. Kecanduan berkisar dari alkohol, seks, hingga obat-obatan. Kecanduan membajak otak pasangan dan dapat menjadi prioritas utama seseorang.
Sehingga, kecanduan bisa mendatangkan malapetaka pada seluruh keluarga dengan cara yang benar-benar mengerikan.
Ketika pasangan yang menjadi korban mengatakan "cukup sudah" dan mengumpulkan keberanian untuk pergi, hubungan itu mungkin ditakdirkan untuk bercerai.
4. Situasi luar biasa
Beberapa pernikahan harus kandas akibat adanya situasi yang luar biasa seperti pasangan yang diagnosis kanker atau karena kematian anak-anak.
Situasi ini membuat orang-orang merasa frustasi dan sangat menguji hubungan pernikahan.
Rasa sakit kehilangan atau penyakit menjadi terlalu besar untuk ditanggung, sehingga menyebabkan hubungan dapat menguap.
Kendati demikian, Perel mengungkapkan, bahwa pasangan yang sehat dapat menahan dan bahkan tumbuh dari trauma ini. Ketika mereka benar-benar dapat menghormati kebutuhan dan metode berduka pasangan mereka.
5. Ketidakcocokan
Jika kita sudah tidak selaras pada hal-hal besar dalam kehidupan seperti agama, nilai-nilai inti, di mana kita ingin hidup, atau bagaimana kita ingin hidup, maka gesekan pasti akan terjadi.
Ketidakcocokan tidak mudah ditangani, terutama ada satu pasangan yang telah berubah secara signifikan selama beberapa waktu menjalani rumah tangga bersama.
Kita mungkin memerlukan bantuan untuk menavigasi diskusi ini dengan konselor atau terapis. Atau mintalah nasihat dari seorang teman yang pernah mengalami situasi yang sama.
Perel menekankan, kuncinya adalah mencoba memahami mengapa pasangan tiba-tiba merasa seperti ini dan mendiskusikan masalah dengan kebaikan, bukan kemarahan.
6. Perbedaan yang tidak bisa didamaikan
Sederhananya, ada perbedaan yang sudah tidak bisa diselesaikan dan tidak ada harapan untuk melanjutkan pernikahan.
Perbedaan tersebut sudah membuat pernikahan rusak. Mungkin juga dipicu dengan perkelahian besar, permusuhan, dan kemarahan.
Apabila kita merasa seperti berada di ambang perceraian, tetapi masih berharap untuk tetap melanjutkan pernikahan, carilah konseling individu atau pasangan sesegera mungkin.
Melakukan konsultasi bisa menyelamatkan pernikahan dan bahkan mungkin membawanya ke tingkat yang lebih baik dari sebelumnya.
(Banjarmasinpost.co.id/TribunJambi.com)