TRIBUNNEWS.COM - Nama Dick Advocaat menjadi salah satu yang cukup disorot di Piala Dunia 2026. Ia akan memimpin negara terkecil dalam sejarah Piala Dunia.
Di usia 78 tahun, Advocaat kembali mencuri perhatian setelah memimpin Timnas Curacao lolos ke Piala Dunia 2026.
Ini jadi pencapaian bersejarah karena Curacao menjadi negara dengan populasi terkecil yang pernah tampil di putaran final Piala Dunia.
Menariknya, perjalanan menuju Piala Dunia 2026 sempat diwarnai drama, terutama setelah kepastian lolos ke putaran final pada November tahun lalu
Advocaat memilih mundur dari jabatan pelatih pada Februari 2026 lalu, karena alasan kondisi kesehatan putrinya.
Namun setelah situasi keluarga membaik dan Curacao mengalami hasil kurang memuaskan bersama Fred Rutten -pelatih yang menggantikannya, federasi sepak bola Curacao akhirnya memanggilnya kembali.
Keputusan itu langsung disambut positif oleh pemain dan sponsor tim nasional Curacao yang memang menginginkan Advocaat kembali memimpin skuad menuju Piala Dunia.
Baca juga: 30 Hari Jelang Piala Dunia 2026, Curacao Ganti Pelatih Lagi: Dick Advocaat Kembali, Rekor Menanti
Nama Dick Advocaat mungkin tidak setenar pelatih-pelatih modern seperti Pep Guardiola atau Carlo Ancelotti.
Namun dalam dunia sepak bola, sosok berjuluk “The Little General -Jenderal Kecil” itu merupakan salah satu pelatih paling berpengalaman yang pernah ada.
Selama hampir enam dekade, Advocaat sudah menjelajahi berbagai level sepak bola dunia, mulai dari klub kecil Belanda hingga tim-tim besar Eropa.
Ia dikenal sebagai pelatih dengan disiplin tinggi, detail taktik yang kuat, dan kemampuan membangun mental tim underdog agar mampu bersaing melawan kekuatan besar.
Hal itu pula yang kini terjadi bersama Curacao.
Dengan usianya yang sudah menginjak 78 tahun, Dick Advocaat dipastikan menjadi pelatih tertua dalam sejarah Piala Dunia.
Sebelum terkenal sebagai pelatih, Advocaat lebih dulu menjalani karier sebagai pemain sejak akhir 1960-an, seperti dilansir The Guardian.
Ia bermain sebagai gelandang bertahan dan memperkuat sejumlah klub Belanda seperti ADO Den Haag, Roda JC, hingga VVV-Venlo.
Karier bermainnya memang tidak terlalu istimewa. Ia bahkan lebih dikenal sebagai pemain pekerja keras dibanding bintang lapangan.
Namun dari situlah mentalitas sosok kelahiran Den Haag, Belanda, 27 September 1947 ini terbentuk.
Pada 1980, saat masih bermain bersama Utrecht, ia mulai mencoba dunia kepelatihan dengan menangani klub amatir DSVP.
Langkah tersebut menjadi awal dari perjalanan panjang yang kemudian mengubahnya menjadi salah satu pelatih paling berpengalaman di Eropa.
Kariernya mulai menanjak ketika menjadi asisten pelatih timnas Belanda di bawah legenda sepak bola Belanda, Rinus Michels.
Dari Michels, Advocaat banyak belajar tentang disiplin, organisasi permainan, dan filosofi sepak bola modern.
Perlu diketahui, Rinus Michels dikenal sebagai sosok pencetus Total Football Belanda. Ia melatih Belanda di empat periode berbeda dan membawa juara Euro 1988.
Baca juga: 4 Negara Debutan di Piala Dunia 2026, Ada Curacao yang Pernah Dikalahkan Timnas Indonesia
Nama Dick Advocaat mulai benar-benar dikenal ketika menangani timnas Belanda pada awal 1990-an.
Ia membawa Belanda mencapai perempat final Piala Dunia 1994 sebelum disingkirkan Brasil yang akhirnya menjadi juara dunia.
Untuk diingat, Piala Dunia 1994 yang digelar 30 tahun lalu itu diselenggarakan di tanah yang sama dengan edisi kali ini tempat Curacao akan bermain, di Amerika Serikat.
Setelah melatih Belanda, karier klubnya juga melejit. Bersama PSV Eindhoven, ia sukses mempersembahkan gelar Liga Belanda dan Piala Belanda.
Namun salah satu periode terbaiknya terjadi saat menangani Rangers.
Advocaat membawa Rangers meraih treble domestik pada musim 1998/1999 dan kembali mendominasi sepak bola Skotlandia pada musim berikutnya.
Kesuksesan itu membuat namanya semakin dihormati di Eropa.
Karier Advocaat kemudian membawanya melatih di berbagai negara seperti Jerman, Rusia, Turki, Serbia, hingga Uni Emirat Arab.
Puncak kesuksesan klubnya terjadi bersama Zenit Saint Petersburg. Pada 2008, ia membawa klub Rusia tersebut menjuarai UEFA Cup dan UEFA Super Cup.
Ironisnya, Zenit kala itu mengalahkan mantan klubnya sendiri, Rangers, di final UEFA Cup.
Selain dikenal sebagai ahli taktik, Advocaat juga punya reputasi sebagai pelatih yang mampu membangun mental juara dalam tim yang sebelumnya tidak terlalu diunggulkan.
Itulah sebabnya banyak pihak menyebut Curacao sangat cocok ditangani olehnya.
Baca juga: Profil Timnas Curacao: Debutan dari Laut Karibia, Negara Seluas Palembang yang Tampil di Piala Dunia
Advocaat rehat dari dunia sepakbola pada 2023 lalu, setelah menyelesaikan musim di Liga Belanda bersama ADO Den Hag.
Namun, Curacao menawarkan pekerjaan yang tak bisa ia tolak, dan akhirnya membuat dirinya kembali aktif melatih pada 2024.
Banyak yang mengira itu hanya petualangan singkat. Namun yang terjadi justru di luar dugaan.
Advocaat yang sudah berusia tiga seperempat abad, berhasil mengubah Curacao menjadi tim yang disiplin dan sulit dikalahkan.
Mereka melewati kualifikasi Piala Dunia 2026 tanpa kekalahan dan akhirnya memastikan tiket bersejarah ke putaran final.
Curacao bahkan menjadi negara dengan populasi terkecil yang pernah lolos ke Piala Dunia, hanya sekitar 155 ribu penduduk.
"Ini untuk pulau ini dan anak-anak yang berani bermimpi besar," kata Advocaat usai Curacao memastikan tiket Piala Dunia.
Pada Piala Dunia 2026 nanti, Curacao tergabung di Grup E bersama Jerman, Ekuador, dan Pantai Gading.
Meski tidak diunggulkan, Curacao diyakini tetap bisa menjadi salah satu kejutan turnamen berkat tangan dingin Dick Advocaat.
(Tribunnews.com/Tio)