TRIBUNPEKANBARU.COM, BENGKALIS - Dinas Tanaman Pangan Holtikultura Peternakan (DTPHP) Bengkalis sampai saat ini memastikan belum temukan adanya hewan ternak di Bengkalis yang terpapar penyakit mulut dan kuku.
Bahkan hingga Kamis (14/5) masih nol kasus PMK Bengkalis.
Hal ini diungkap Pejabat Fungsional Veteriner Bidang Kesehatan Hewan dan Perternakan DTPHP Bengkalis Drh M H Mardani kepada tribunpekanbaru.com, Kamis siang.
Menurut dia, ada beberapa langkah langkah pencegahan PMK yang sudah berjalan dilaksanakan pihaknya sejak awal tahun lalu.
Diantaranya pihaknya mengiatkan sosialisasi terkait ciri ciri yang dicurigai PMK terjadi pada hewan ternak.
Seperti adanya kondisi luka pada rongga mulut dan gangguan anggota gerak pada hewan ternak rentan PMK.
Perternak bahkan selalu diminta untuk di laporkan kepada Petugas Kesehatan Hewan Puskeswan terdekat jika ciri ciri tersebut ditemukan.
Selain sosialisasi yang gencar, kegiatan vaksinasi juga masih terus berjalan.
Awal tahun ini saja DTPHP Bengkalis sudah mengalokasikan vaksin sebanyak 400 dosis dan selesai pada bulan ini.
"Tahap kedua juga akan berlanjut pelaksanaan vaksinasinya. Dalam waktu dekat alokasi vaksin PMK untuk Bengkalis akan segera di ambil di Provinsi Riau," terangnya.
Baca juga: Kasus PMK di Riau Masih Tinggi, Peternak Diminta Tingkatkan Kewaspadaan
Baca juga: Jelang Idul Adha 2026, Disbunnak Keswan Klaim Belum Ada Hewan Kurban Terjangkit Penyakit di Kampar
Mardani menjelaskan, pihaknya juga meningkatkan pengawasan terhadap PMK ini, bahkan dilakukan jauh hari sebelum adanya pengawasan hewan kurban. Pengawasan yang dilakukan terutama pada hewan sapi, kambing, domba dan kerbau.
Menjelang pelaksanaa kurban ini pihaknya berharap masyarakat, baik pelaku usaha, peternak, maupun panitia kurban bisa mengamati tanda tanda PMK.
Kalau menemukan adanya hewan kurban dicurigai memiliki tanda tanda PMK segera laporkan kepada petugas kesehatan hewan terdekat.
Menurut Mardani, dalam pengawasan hewan kurban sendiri sejauh ini DTPHP sudah melakukan pengawasan langsung. Dari sebelas kecamatan, petugas yang melakukan pengawasan sudah melaporkan hasil pemeriksaan hewan kurban yang mereka lakukan.
"Sejauh ini hasil pemeriksaan hewan kurban yang dilakukan hingga tanggal 14 Mei ini belum ada hewan kurban yang dicurigai memiliki tanda tanda terpapar PMK. Hanya saja temuan dalam pemeriksaan hewan kurban masih ada hewan terdapat hewan yang belum cukup umur untuk jadi hewan kurban, terutama pada hewan sapi," jelasnya.
Dalam pemeriksaan yang sudah dilakukan sampai saat ini sudah pencapai sekitar enam ratusan lebih hewan kurban. Dengan mayoritas hewan kurban yang diperiksa merupakan hewan jenis sapi dan kambing.
"Kalau secara target hewan kurban yang akan diperiksa sekitar empat ribu dua ratus ekor. Memang dibandingkan yang sudah diperiksa, dengan target hewan kurban masih banyak yang harus dilakukan pemeriksaan lagi," jelasnya.
Sejauh ini pemeriksaan hewan kurban dilakukan masih terkonsentrasi pada tempat tempat pengumpulan atau pelaku usaha yang menyediakan hewan kurban. Untuk tingkat peternak pemeriksaan dilakukan dalam bentuk insidentinal.
Mardani mengatakan, hewan kurban kabupaten Bengkalis masih didominasi dari hewan ternak lokal. Kalaupun ada yang dari luar, sebagian besar masih dari dalam provinsi Riau atau dari Kabupaten yang masih di provinsi Riau.
Namun hewan yang berasal dari luar biasanya sudah memiliki surat kesehatan untuk memenuhi syarat lalulintas hewan. Bahkan beberapa surat harus melengkapi surat sudah melakukan vaksinasi PMK.
"Begitu juga hewan dari Bengkalis yang keluar, atau dilalulintaskan keluar kabupaten Bengkalis diharuskan harus melakukan pemeriksaan kesehatan, bahkan dilakukan ujilabor terhadap pesimen darahnya memastikan tidak terpapar PMK," jelasnya.
Mardani mengatakan, pelaku usaha harus melaporkan sapi yang masuk dari luar daerah. Pelaporan akan disampaikan pelaku usaha hewan ternak saat petugas melakukan pemeriksaan hewan mereka.
"Sejauh ini pelaku usaha yang sudah diperiksa hewannya mereka sudah memiliki surat kesehatan hewan kurbannya," tandasnya.(tribunpekanbaru.com/Muhammad Natsir)