TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Tingginya kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Provinsi Riau harus menjadi perhatian semua pihak. Baik pemerintah daerah maupun peternak itu sendiri.
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Riau mengimbauan kepada para peternak agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai penyakit hewan menular.
Hingga pertengahan Mei 2026, ratusan ternak di sejumlah daerah masih terpapar PMK.
Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian serius agar penyebaran penyakit tidak semakin meluas dan menimbulkan kerugian lebih besar bagi peternak.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau, Mimi Yuliani, mengatakan selain PMK, peternak juga perlu mewaspadai penyakit lain yang rentan menyerang hewan ternak.
“Selain PMK, penyakit lain seperti Septicaemia Epizootica atau sapi ngorok, serta penyakit Jembrana juga menjadi ancaman serius,” kata Mimi Yuliani, Kamis (14/5/2026).
Menurutnya, peternak perlu lebih memperhatikan kondisi kesehatan ternak, kebersihan kandang, serta lalu lintas hewan untuk mencegah penyebaran penyakit.
Baca juga: PMK Mengganas di Riau, 758 Ekor Ternak Terpapar dan 226 Masih Terinfeksi
Ia menegaskan, pihaknya saat ini terus menggalakkan berbagai langkah preventif untuk menekan penyebaran penyakit ternak di Riau.
Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah vaksinasi hewan ternak di daerah rawan kasus.
“Kami terus melakukan vaksinasi hewan ternak, termasuk pemberian ring vaksinasi dalam radius tiga kilometer dari titik kasus. Vaksinasi dimulai dari desa yang masih bebas kasus dengan prioritas sapi dan kerbau,” terang Mimi.
Selain vaksinasi, petugas juga melakukan pemantauan kesehatan ternak serta edukasi kepada peternak di berbagai kabupaten dan kota.
Mimi meminta peternak tidak menunda pelaporan apabila menemukan gejala penyakit pada hewan ternaknya.
Gejala PMK yang umum muncul antara lain luka pada mulut, air liur berlebihan, ternak pincang, hingga demam tinggi.
“Kalau ada gejala, segera laporkan ke petugas agar cepat ditangani dan tidak menyebar ke ternak lainnya,” tutupnya.
Berdasarkan Rekapitulasi Laporan Sindrom PMK Provinsi Riau periode 1 Januari hingga 12 Mei 2026, total kasus PMK di Riau mencapai 758 ekor ternak yang tersebar di 19 kecamatan dan 37 desa.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 532 ekor ternak telah dinyatakan sembuh, sementara 226 ekor lainnya masih sakit dan dalam penanganan petugas.
Kabupaten Indragiri Hulu menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi.
Tercatat ada 368 kasus PMK yang tersebar di empat kecamatan dan 12 desa.
Dari jumlah itu, sebanyak 196 ekor ternak sembuh dan 172 ekor masih sakit.
Kabupaten Rokan Hulu mencatat 155 kasus PMK di enam kecamatan dan 12 desa.
Sebanyak 153 ekor ternak telah sembuh dan menyisakan dua kasus aktif.
Di Kabupaten Siak terdapat 118 kasus PMK yang tersebar di tiga kecamatan dan enam desa.
Seluruh ternak yang terpapar di daerah tersebut dilaporkan telah sembuh.
Kabupaten Kampar juga masih menjadi perhatian dengan 46 kasus PMK di dua kecamatan dan tiga desa.
Hingga kini baru lima ekor ternak dinyatakan sembuh, sedangkan 41 ekor lainnya masih sakit.
Kota Dumai mencatat 48 kasus PMK di satu kecamatan dan satu desa, namun seluruh ternak yang terpapar telah sembuh.
Sementara Kabupaten Indragiri Hilir melaporkan 12 kasus PMK di dua kecamatan dan dua desa.
Seluruh ternak yang terpapar di wilayah tersebut juga telah sembuh.
Sedangkan Kepulauan Meranti mencatat 11 kasus PMK di satu kecamatan dan satu desa.
Seluruh kasus di daerah tersebut masih dalam proses penanganan dan belum dinyatakan sembuh.
(Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)