TRIBUNBENGKULU.COM - MC legendaris Sonny Tulung ikut angkat bicara terkait polemik yang menyeret nama Shindy Lutfiana usai final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat.
Shindy menjadi sorotan publik setelah dianggap membela keputusan dewan juri saat peserta dari SMAN 1 Pontianak memprotes penilaian dalam babak final LCC.
Polemik itu pun memicu kritik dan hujatan terhadap Shindy di media sosial.
Menanggapi hal tersebut, Sonny Tulung menilai situasi yang dihadapi seorang MC dalam acara siaran langsung memang tidak mudah.
Menurutnya, seorang pembawa acara kerap dihadapkan pada kondisi spontan di luar naskah saat acara berlangsung live.
"Selama hampir 40 tahun menjadi MC, saya paham banget situasi kayak gini memang enggak gampang buat MC karena acaranya live. Banyak momen yang unscripted, di luar script dan kadang MC itu bicaranya spontan, enggak sadar bahwa komentar itu bisa viral, menimbulkan pro dan kontra bahkan jadi hujatan," ujar Sonny seperti dikutip dari Instagramnya pada Rabu (13/5/2026).
Meski begitu, Sonny juga mengingatkan bahwa kemampuan public speaking bukan hanya soal lancar berbicara, tetapi juga kemampuan membaca situasi di depan publik.
"Sebetulnya, bukan cuma di dunia MC, siapapun yang bicara di depan umum itu harus tahu kapan situasi mulai sensitif atau genting. Karena public speaking bukan cuma kemampuan bicara, tapi juga kemampuan membaca situasi," lanjutnya.
Sebelumnya, Shindy menuai sorotan usai mengucapkan kalimat, “Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja,” ketika peserta memprotes keputusan dewan juri terkait jawaban yang dianggap salah.
Ucapan tersebut kemudian viral dan dinilai sebagian publik tidak menunjukkan sikap netral sebagai pembawa acara.
Curhatan MC Shindy Lutfiana
Melalui akun Instagram pribadinya, @shindy_mcwedding, Shindy menyampaikan permohonan maaf kepada publik atas pernyataannya yang dianggap tidak netral dan kurang berempati.
"Dengan segala kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas semua ucapan saya, terutama yaitu: "mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja" yang seharusnya tidak patut saya sampaikan dalam kapasitas saya sebagai MC pada kegiatan tersebut," katanya dikutip dari akun Instagram pribadinya, @shindy_mcwedding, Selasa (12/5/2026).
"Atas kejadian tersebut, dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya memohon maaf kepada seluruh pihak yang merasa kecewa, tersakiti, maupun terdampak oleh ucapan-ucapan saya," sambungnya.
Shindy pun berjanji akan menjadikan kejadian tersebut sebagai bahan evaluasi diri agar lebih bijak saat membawakan acara ke depannya.
"Besar harapan saya, permohonan maaf saya ini dapat diterima, dan saya berkomitmen untuk menjadikan kejadian ini sebagai evaluasi terhadap diri saya, agar dapat bersikap lebih baik dan bijak ke depannya," pungkasnya.
Namun setelah polemik tersebut viral, Shindy mengaku harus menerima dampak besar dalam kariernya sebagai MC.
Melalui Instagramnya, ia mengaku kehilangan sejumlah pekerjaan akibat desakan dan tuntutan netizen yang marah atas tindakannya.
"Ketika aku baca ribuan komentar dari netizen, hampir semua isinya hujatan untuk aku, semua kata-kata isi kebun binatang keluar, sumpah serapah aku terima, sampai seruan boikot Shindy MC. Dan sampai akhirnya memang benar-benar semua harapan dan tuntutan netizen terwujud, aku hilang pekerjaan," tulis Shindy dengan perasaan sedih, dikutip pada Rabu (13/5/2026).
"Aku bisa menerima itu semua dengan tabah, sabar, ini memang risiko yang harus aku terima atas kesalahanku," sambungnya.
Shindy mengaku yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan pekerjaan, melainkan sikap sejumlah rekan seprofesi yang dinilainya ikut menghakimi hingga merayakan kejatuhannya.
"Tidak ada yang lebih menyakitkan dalam kejadian ini, ketika aku melihat dari teman-teman sejawat seprofesiku memanfaatkan momen 'jatuhnya aku sekarang' untuk menghakimiku bahkan merayakannya," tambahnya lagi dengan nada kecewa.
Meski demikian, Shindy memilih tetap berprasangka baik dan menganggap kejadian ini sebagai pelajaran hidup.
"Aku tetap akan berprasangka baik kepada Allah, semoga semua ini ada hikmahnya, semua ini pelajaran berharga buatku, terima kasih kak @Bovithalim," tandasnya.
Adapun dampak polemik tersebut mulai dirasakan Shindy setelah sejumlah rekanan kerja memutus kerja sama dengannya.
Salah satunya adalah Evicatering yang sebelumnya menggunakan jasa Shindy sebagai MC. Melalui akun Instagram @Evicatering, pihaknya menyatakan resmi menghentikan kerja sama dengan Shindy per 12 Mei 2026.
"Terimakasih banyak atas masukannya kakak Kakak Semua , Alhamdulillah Owner Kami langsung bertindak tegas untuk memutus hubungan kerja dengan MC tersebut," tulis akun tersebut.
Kronologis Singkat
Polemik ini berawal ketika peserta dari SMAN 1 Pontianak memprotes keputusan dewan juri yang menyebut jawabannya salah terkait pertanyaan yang menyangkut mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Protes tersebut disampaikan setelah jawaban sama persis yang disampaikan oleh tim dari SMAN 1 Sambas justru dinyatakan benar.
"Mohon maaf, jawaban yang kami sampaikan sama," kata peserta tersebut.
Lalu, salah satu juri yakni Dyastasita, membantah jawaban dari peserta SMAN 1 Pontianak sama dengan SMAN 1 Sambas.
Perbedaan yang dimaksud tentang tidak adanya penyebutan DPD dalam pertimbangan pemilihan anggota BPK.
Namun, peserta SMAN 1 Pontianak meyakini telah menjawab sama seperti yang disampaikan oleh peserta dari SMAN 1 Sambas.
"Tadi disebutkan regu C (SMAN 1 Pontianak) itu (jawabnya) pertimbangan dari DPD-nya tidak ada. DPR tadi (jawabnya)," kata Dyastasita.
"Ada (jawaban pertimbangan DPD). Tadi saya jawabnya seperti ini anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," jawab peserta.
Hanya saja, Dyastasita tetap tidak yakin peserta dari SMAN 1 Pontianak menjawab seperti yang disampaikan tersebut.
Lalu, peserta ingin meminta pandangan lain seperti dari penonton untuk mengkonfirmasi terkait jawabannya.
Kemudian, Dyastasita menegaskan keputusan dewan juri adalah mutlak. Lalu, pembawa acara juga meminta agar peserta menerima keputusan dari juri.
Jika masih ingin melakukan protes, pembawa acara meminta agar peserta mengecek tayangan ulangnya.
"Mohon diterima adik-adik terkait keputusan dewan juri karena tentunya dewan juri yang hadir hari ini sudah sangat berkompeten dan sangat teliti untuk mendengarkan jawaban dari adik-adik. Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja," kata Shindy.
"Nanti mungkin bisa dilihat tayangan ulangnya setelah acara selesai," imbuhnya.
Selanjutnya, ada juri lain, yakni Kepala Badan Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI, Indri Wahyuni, yang menganggap artikulasi peserta SMAN 1 Pontianak tidak jelas saat menjawab pertanyaan.
Dia menilai hal tersebut menjadi penyebab jawaban peserta dianggap salah oleh dewan juri.
"Kan sudah diperingatkan sejak awal. Artikulasi itu penting. Jadi biasakan menjawab itu dengan artikulasi yang jelas. Dewan juri kalau menurut kalian sudah (terdengar) tetapi dewan juri menilai kalian tidak (benar) karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas ya artinya dewan juri berhak memberikan (pengurangan) nilai -5," katanya.
Di sisi lain, peserta dari SMAN 1 Sambas dinyatakan sebagai juara dalam kompetisi ini dan berhak mewakili Provinsi Kalbar di tingkat nasional.