Waspada! Anak Makin Rentan Jadi Korban Predator Seks di Dunia Digital
Abd Rahman May 14, 2026 07:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM – Kasus kekerasan seksual terhadap anak kini tidak hanya terjadi di lingkungan sekitar, tetapi juga mulai banyak bermula dari dunia digital melalui penggunaan handphone yang sehari-hari berada di tangan anak.

Fenomena ini disampaikan oleh Intan Hadiah Rastiti, SH dari Yayasan KAKAK yang selama ini aktif mendampingi korban kekerasan seksual anak.

Ia menjelaskan, pascapandemi terjadi perubahan pola kejahatan seksual terhadap anak yang cukup signifikan.

Jika sebelumnya pelaku lebih banyak berasal dari lingkungan terdekat atau keluarga, kini interaksi awal justru sering terjadi melalui media sosial dan dunia maya.

Baca juga: Pemuda 19 Tahun di Polman Ditemukan Meninggal di Dalam Kamar

Baca juga: Banjir Terjang Mamasa, Sungai Hahangan Meluap Rendam Rumah Warga

“Apalagi sekarang kekerasan seksual itu dimulai dari ranah online. Jadi kenalan dulu di online,” ujar Intan dalam podcast Momspiration yang disiarkan Tribunnews dan Tribun Health, Senin (11/5/2026).

Menurutnya, anak-anak saat ini sangat mudah membangun kedekatan emosional dengan orang yang belum pernah mereka temui secara langsung.

Bahkan, tidak sedikit yang sudah menjalin hubungan, saling memanggil dengan sebutan keluarga, hingga bertukar konten pribadi tanpa memahami risikonya.

“Anak-anak sekarang itu akrab duluan tanpa tahu siapa orangnya. Bahkan ada yang sudah pacaran, sudah kirim-kiriman foto,” katanya.

Ia menambahkan, kasus yang ditemukan tidak hanya terjadi pada remaja, tetapi juga anak usia sekolah dasar yang sudah terpapar risiko perkenalan dari aplikasi online.

Kondisi ini, kata Intan, menjadi peringatan serius bagi orang tua karena anak semakin mudah mengakses dunia digital tanpa pendampingan yang cukup.

Waspada untuk Orang Tua

Fenomena ini menurutnya menjadi alarm keras bagi orang tua. 

Sebab, banyak anak kini tumbuh dengan gadget sejak kecil, sementara pengawasan orang tua sering kali minim.

“Anak-anak memang semua juga harus punya gadget ya dengan tatanan hidup baru kan belajar di handphone,” ujarnya.

Masalahnya, orang tua sering kesulitan membedakan kapan anak benar-benar belajar dan kapan sedang menjelajah hal berbahaya di internet.

“Sehingga memang kita nggak bisa bedakan. Di handphone dia belajar, searching video atau lagi browsing apa, kita kurang tahu nih anak kita ngapain nih,” jelas Intan.

Ia menegaskan, kondisi ini menjadi pintu masuk besar bagi predator seksual untuk mendekati anak-anak secara perlahan.

“Memang angkanya menyumbang angka cukup tinggi untuk kasus kekerasan seksual,” katanya.

Menurut Intan, banyak anak akhirnya terjebak karena merasa sedang disayangi, diperhatikan, atau dicintai. 

Pelaku memanfaatkan kebutuhan emosional anak untuk membangun kedekatan.

Dalam sejumlah kasus, anak bahkan tidak merasa sedang menjadi korban.

“Kalau pelakunya adalah pacar, orang terdekat, kemudian orang yang bisa membuat mereka nyaman, itu bukan paksaan tapi lebih ke bujuk rayu,” ujarnya.

Pelaku biasanya memberikan perhatian, pujian, hadiah, hingga janji-janji tertentu agar anak menurut.

“Jadi memang anak-anak ini tidak ada rasa takut nih untuk melakukan,” katanya.

Situasi ini membuat kekerasan seksual online menjadi jauh lebih rumit dibanding sekadar ancaman fisik. 

Sebab korban sering kali merasa dirinya sedang berada dalam hubungan yang normal.

Intan mengingatkan, orang tua tidak bisa lagi menganggap pendidikan seksual sebagai hal tabu.

“Anak 3 tahun sudah bisa lah dikasih tau bahwa tubuhmu itu hanya boleh dipegang kamu, mamah sama dokter kalau pas periksa,” katanya.

Ia menyebut edukasi sederhana tentang bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh justru bisa menjadi perlindungan awal bagi anak.

“Semakin cepat dia tahu, semakin cepat dia bisa menolong dirinya sendiri,” ujarnya.

Menurut Intan, diamnya orang tua terhadap isu seksual justru membuat anak tidak punya alarm bahaya ketika mengalami pelecehan.

 


“Kalau anak merasa pantatku dari kecil dipegang ayah, pas sekolah dipegang teman dan itu nggak ada yang negur, nanti sampai dewasa dia dipegang-pegang pantatnya yang merasa hal yang biasa,” katanya.

Karena itu, ia meminta orang tua mulai terbuka membicarakan keamanan tubuh sejak dini.

“Jangan malu dan jangan merasa tabu,” tegasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.