Ternyata Ini Dugaan Penyebab Maisir Rawani Bahu Bisa Tersambar Petir di Gorontalo
Wawan Akuba May 14, 2026 10:47 PM

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Aktivitas memancing di tengah hujan deras berujung petaka bagi Maisir Rawani Bahu (49), warga Kelurahan Tamulabutao 2, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Korban meninggal dunia setelah diduga tersambar petir saat berada di area waduk Kelurahan Buladu, Kecamatan Kota Barat, Kamis (14/5/2026) sore.

Peristiwa tersebut terjadi ketika cuaca di wilayah Kota Gorontalo mendadak berubah ekstrem menjelang magrib.

Hujan lebat disertai sambaran petir mengguyur kawasan waduk yang saat itu masih terdapat sejumlah warga beraktivitas di sekitar lokasi.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, korban diketahui sedang memancing ketika hujan mulai turun.

Baca juga: Identitas Warga Gorontalo Diduga Tewas Tersambar Petir saat Memancing di Waduk

Tak lama berselang, petir menyambar area sekitar waduk dan korban ditemukan tergeletak.

Insiden itu menjadi perhatian warga setelah rekaman video proses evakuasi korban beredar di media sosial.

Dalam video tersebut, terdengar suara anak kecil yang meminta warga membantu mengangkat tubuh korban.

Kantor Basarnas Gorontalo menjelaskan laporan pertama diterima sekitar pukul 16.50 Wita dari warga yang melihat langsung kejadian tersebut.

Saksi mata bernama Irwan Abdullah disebut berada tidak jauh dari lokasi korban saat sambaran petir terjadi.

Namun karena kondisi cuaca masih berbahaya, saksi memilih meminta bantuan petugas evakuasi.

Tim rescue kemudian bergerak menuju lokasi dan tiba sekitar pukul 17.37 Wita. Korban dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia sebelum akhirnya dibawa ke rumah duka di wilayah Suwawa, Kabupaten Bone Bolango.

Di balik kejadian tersebut, para ahli menjelaskan bahwa area terbuka menjadi salah satu lokasi paling berbahaya ketika terjadi hujan disertai petir.

Petir sendiri muncul akibat pelepasan muatan listrik dari awan menuju permukaan bumi.

Saat sambaran mendekati tanah, benda yang berada lebih menonjol atau terbuka memiliki potensi lebih besar menjadi titik sambaran.

Pakar petir dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Syarif Hidayat, pernah menjelaskan bahwa tubuh manusia di area terbuka dapat memicu pergerakan muatan listrik lebih cepat dibanding lingkungan sekitarnya.

Kondisi itu membuat seseorang lebih rentan tersambar petir, terutama jika berada di lapangan terbuka, area perairan, maupun tempat tanpa pelindung.

Selain faktor lokasi, aktivitas memancing juga dinilai memiliki risiko tinggi ketika cuaca buruk terjadi.

Joran pancing yang umumnya berbahan logam atau material penghantar dapat meningkatkan risiko tersambar listrik di area terbuka.

Menurut sejumlah referensi keselamatan cuaca, korban sambaran petir tidak selalu terkena secara langsung.

Arus listrik juga dapat menjalar melalui permukaan tanah atau benda di sekitar titik sambaran.

Karena itu, masyarakat diimbau segera menghentikan aktivitas luar ruangan saat hujan mulai disertai petir.

Area waduk, sungai, lapangan, persawahan, maupun tempat terbuka lainnya sebaiknya segera ditinggalkan untuk menghindari risiko fatal.

Fenomena petir sendiri memiliki daya listrik sangat besar. Dalam beberapa kasus, sambaran petir dapat menyebabkan luka bakar serius, kerusakan organ, hingga henti jantung dalam waktu singkat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.