BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Kesulitan mendapatkan biosolar di Kalimantan Selatan tidak hanya dikeluhkan sopir truk. Operator mesin pemanen padi atau komben di Kabupaten Tapin juga merasakannya.
Seorang operator komben bernama Udin, Jumat (15/5), mengaku hanya mendapatkan 20 liter solar bersubsidi untuk mengoperasikan mesinnya. Padahal kapasitas tangki mesin yang digunakannya sekitar 90 liter. “Ini cuma dapat 20 liter. Itu pun susah sekali mencarinya,” ujar Udin saat ditemui di lokasi panen.
Biosolar didapatnya dengan harga Rp 18 ribu per liter atau jauh lebih tinggi dibanding harga eceran tertinggi (HET) di SPBU yakni Rp 6.800. Itu pun setelah Udin menunggu dua hari.
Akibat keterbatasan bahan bakar minyak (BBM), mesin panennya sempat kehabisan biosolar di tengah aktivitas memanen sawah warga. “Pas kehabisan di sini tadi,” ungkapnya sambil menunjukkan lokasi komben berhenti beroperasi.
Usai mengisi biosolar, Udin kembali melanjutkan pekerjaan menuju lokasi panen berikutnya.
Kelangkaan biosolar untuk kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan) dikeluhkan operator dan petani karena dapat menghambat proses panen. Warga berharap ada perhatian pemerintah daerah agar distribusi biosolar di sektor pertanian lebih mudah didapat, terutama saat musim panen.
Sementara itu antrean truk dan angkutan lainnya terpantau ramai di beberapa SPBU Pertamina dan AKR di Kandangan dan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Jumat.
Seperti di SPBU Tibung, SPBU AKR Jambu dan SPBU Kaliring. Oleh karena di sini biosolar tersedia, truk dan angkutan lain memadatinya dari pagi.
Dikatakan Pengawas SPBU Tibung, Cacan, untuk solar di tempatnya tersedia, dengan jadwal buka dari pagi sampai siang,
Baca juga: BMKG Kalsel Ingatkan Potensi Banjir Rob di Wilayah Perairan Kotabaru, Dampak Fase Super New Moon
Begitu pula di SPBU Kaliring. Tampak antrean panjang truk untuk mengisi BBM di SPBU tersebut dengan jadwal sekitar pukul 14.00 wita sampai selesai.
Diterangkan Pengawas SPBU Kaliring, Sabrudin, kedatangan biosolar tidak setiap hari. Bila dulu dalam satu bulan bisa 25 tangki, saat ini hanya 20 tanki bahkan kurang. Beberapa hari terakhir, stok tersedia sehingga banyak truk yang antre.
“Maksimal satu kali pembelian biosolar 40 liter per mobil. Bila tidak banyak stok hanya 20 liter,” ungkapnya.
Dia memastikan pihaknya tidak melayani pembelian menggunakan jeriken atau pengisian berulang (pelangsiran). Begitu pula waktu pengisian, perlu menyesuaikan waktu agar tidak berbenturan dengan pengisian di SPBU lain.
“Penggunaan barcode tetap dilakukan, karena bila tidak pakai itu minyak ini tidak bisa keluar. Kami tidak melayani juga untuk mobil dinas, sehingga diarahkan langsung mengisi dexlite,” jelasnya.
Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) tengah ramai diperbincangkan rekaman video pengisian BBM di SPBU Gambah, Kecamatan Barabai, dalam kondisi gelap. Video beredar sejak Selasa (12/5) malam. Tampak sejumlah truk mengantre dan melakukan pengisian ketika sebagian lampu penerangan SPBU padam.
Kondisi tersebut memunculkan berbagai dugaan dari warganet. Jajaran Satreskrim Polres HST pun langsung melakukan pengecekan dan meminta klarifikasi pengelola SPBU.
Kasat Reskrim AKP M Andi Patinasarani mengatakan hasil penyelidikan sementara tidak ditemukan adanya pelanggaran distribusi BBM subsidi.
Menurut dia, kendaraan yang terekam dalam video diketahui sedang mengisi BBM nonsubsidi jenis dexlite. “Berdasarkan keterangan pengelola dan hasil pengecekan di lapangan, pengisian yang terjadi bukan biosolar, melainkan dexlite,” katanya, Jumat.
Ia menjelaskan kondisi SPBU yang tampak gelap terjadi karena operasional sudah mendekati jam tutup.
Meski demikian, pihak kepolisian mengingatkan pengelola agar menjaga penerangan saat pelayanan untuk menghindari kesalahpahaman.
Sedang Pengawas SPBU Gambah, Daffa Fizaldi, menjelaskan operasional pihaknya berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 21.00 Wita. Ia mengatakan video viral terjadi saat pelayanan hampir berakhir. Petugas mulai mematikan sebagian lampu guna menghentikan antrean kendaraan baru.
“Lampu dimatikan supaya antrean tidak terus bertambah karena jam operasional sudah hampir tutup,” ujarnya.
Menurut Daffa, kendaraan yang masih berada di area SPBU saat itu merupakan antrean terakhir yang tetap dilayani petugas sebelum operasional ditutup total.
(banjarmasinpost.co.id/muhtar wahid/adiyat ikhsan/stanislaus sene)