Seperti Raja 40 Hari, Cerita Bahagia Nenek Epa Jalani Haji di Usia 82 Tahun
Tiara Shelavie May 16, 2026 09:36 AM

Laporan langsung wartawan Tribunnews.com dan Media Center Haji dari Arab Saudi, Sri Juliati

TRIBUNNEWS.COM - Suara gelak tawa terdengar dari kamar hotel 471 yang berada di Sektor 6 Jarwal, Kota Makkah.

Kamar di lantai empat itu dihuni lima jemaah haji lanjut usia (lansia) asal embarkasi Palembang, Sumatera Selatan. 

Di antara mereka, ada sosok Nenek Epa, perempuan 82 tahun yang wajahnya tak pernah lepas dari senyum.

Siang itu, suasana kamar Nenek Epa terasa hangat.

Candaan demi candaan mengalir ketika tim kesehatan kloter; pembimbing ibadah yang dipimpin Kepala Seksi Pembimbing Ibadah daker Makkah, Erti Herlina, dan tim Media Center Haji (MCH) datang berkunjung. 

Kehadiran rombongan tamu rupanya membuat Epa salah tingkah.

"Deg-degan seperti mau dapat hadiah," ujarnya sambil tertawa kecil, memperlihatkan satu gigi yang masih tersisa.

Ucapan polos itu langsung mengundang tawa semua yang datang ke kamar Epa.

Namun di balik suasana cair tersebut, tim kesehatan mendapati tekanan darah Epa sedang meningkat.

“Nenek punya darah tinggi?" tanya petugas kesehatan.

"Tidak… tapi kenapa naik?" jawabnya lugu.

Baca juga: Disorientasi dan Demensia pada Jemaah Haji, Apa Bedanya?

Petugas kesehatan lantas meminta Epa beristirahat dan sementara waktu tidak beraktivitas ke Masjidil Haram. 

Erti pun turut menenangkan dengan menjelaskan, shalat di musala hotel tetap bernilai pahala besar karena masih berada di kawasan Tanah Suci. 

Selain itu, jemaah juga tetap mendapat bimbingan ibadah dan manasik di hotel.

Di usianya yang sudah melewati delapan dekade, Epa justru menunjukkan ketahanan fisik yang membuat banyak orang kagum. 

Ia berhasil menuntaskan seluruh rangkaian umrah wajib tanpa bantuan kursi roda.

"Semua jalan kaki, Alhamdulillah sampai tahalul selesai," katanya mantap.

Ia mengaku hampir tidak memiliki keluhan kesehatan berarti. 

Pendengarannya masih baik, penglihatannya jelas, bahkan lututnya tetap kuat menopang aktivitas sehari-hari.

"Di rumah saya tinggal di rumah kayu. Naik turun tangga bisa sampai 40 kali sehari," tuturnya.

Kebiasaan itu membuat tubuhnya tetap bugar. Belum lagi rutinitas tahajud yang tak pernah ditinggalkan.

"Tahajud tiap malam, jam 2," ujarnya.

Tunggu 13 Tahun

Perjalanan Epa menuju Tanah Suci bukan perjalanan singkat. 

Ia sudah menunggu selama 13 tahun sejak pertama kali mendaftar haji. 

Tahun lalu sebenarnya ia mendapat kesempatan berangkat, tetapi memilih menunda karena takut pergi sendiri tanpa pendamping.

Keputusan itu berubah tahun ini. 

Epa akhirnya mantap berangkat setelah ditemani sahabat dekatnya, Herawati yang masih memiliki hubungan keluarga dan tinggal berdekatan dengannya di kampung halaman.

"Karena ada kawan setia, jadi saya berani," katanya sambil tersenyum.

Bagi Epa, keberangkatannya tahun ini adalah ketetapan terbaik dari Allah.

"Sudah diatur… berangkatnya tahun ini," katanya.

Momen yang paling membekas baginya terjadi saat pertama kali melihat Ka'bah di Masjidil Haram. 

Ia mengaku tak mampu menahan air mata.

"Ya Allah, Tuhanku, terima kasih aku dipanggil datang ke sini, Ya Allah…" ucapnya sembari mengusap wajah dengan kedua tangannya.

"Belum tentu orang setua aku ini, kan (dipanggil berhaji)," tambahnya.

Doa-doanya pun sederhana. Ia mendoakan anak-anak, keluarga, dan orang-orang tercinta agar selalu diberi kebaikan.

Dilayani bak Raja

Hari-hari Epa di Tanah Suci diisi dengan kegiatan sederhana bersama teman-teman sekamarnya. 

Makan, tidur, beribadah, lalu bercengkerama bersama. 

Namun justru kesederhanaan itu membuatnya merasa sangat bahagia.

"Enak… seperti raja. Raja 40 hari," katanya disambut tawa teman-temannya.

Menurut Epa, selama di Tanah Suci semua kebutuhan jemaah dilayani dengan baik. 

Makanan tersedia, petugas sigap membantu, dan suasana terasa hangat seperti keluarga sendiri.

Meski mengaku lulusan Sekolah Rakyat (SR), Epa tetap akrab dengan Al-Qur'an. 

Ia bahkan bercerita, banyak orang seusianya di kampung dulu tidak bisa membaca huruf latin, tetapi lancar membaca Al-Qur'an.

"Satu juz sekali duduk," ujarnya bangga.

Selama berada di Madinah, ia telah menamatkan empat juz bacaan Al-Qur'an. 

Kini di Makkah, ia melanjutkan kebiasaannya membaca Yasin dan Al-Waqiah setiap hari.

Suasana kamar kembali pecah oleh tawa ketika Epa memperkenalkan dirinya di hadapan para tamu.

"Nama saya Epa… nama internasional," katanya polos.

Seketika seluruh penghuni kamar tertawa. 

Di penghujung perbincangan, Epa menyampaikan harapan sederhana yang masih disimpannya. 

Ia ingin suatu hari kembali lagi ke Tanah Suci bersama anak-anak dan cucunya.

Dengan mata berkaca-kaca, ia menutup ceritanya dengan doa pelan.

"Ya Allah… semoga anak, cucu, dan keturunanku bisa datang juga ke Makkah," ujarnya yang langsung disambut dengan seruan amin. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.