Perang di Timur Tengah sempat memicu kekhawatiran dalam berwisata secara global. Geopolitik memanas belum usai, naiknya kurs mata uang jadi ancaman baru.
Vice President Organization and Inter Institution ASTINCO, Anton N. Sumarli berbicara kepada wartawan tentang situasi geopolitik yang belakangan tengah memanas dan kaitannya dengan pariwisata.
Ditemui di Gandaria City Mall, Jakarta pada Jumat (15/5/2026), ia mengakui bahwa penurunan tren wisata tak dapat ditampik akibat permasalahan tersebut.
Februari lalu, maskapai-maskapai Timur Tengah berhenti sementara karena serangan rudal Iran. Turis Eropa adalah yang paling terdampak, karena Timur Tengah menjadi hub dalam berbagai penerbangan lintas benua.
"Saat perang maskapai bisa cancel dan reschedule, tapi hotel tidak. Ini yang membuat chaos, mereka lost banyak," ucap Anton kepada detikTravel.
Meski penerbangan telah beroperasi, namun kerugian yang ditanggung saat itu masih harus terus diperbaiki. Bahkan, diperparah dengan harga avtur yang meroket.
"Meski ada subsidi tetap akan mahal. Bukan cuma keluar negeri yang anjlok, penerbangan ke dalam negeri juga tidak lebih baik" ungkapnya.
Tak dapat dipungkiri, harga tiket penerbangan ke dalam negeri memang mahal. Seringkali di atas penerbangan lintas negara. Menurut Anton, akan masa penurunan tren liburan akan mulai terlihat.
"Itu sudah pasti. Mungkin ada yang memang prepare jauh-jauh hari dan tetap berangkat. Tapi, pasti ada penurunan," tegasnya.
ASTINDO sendiri telah berdiskusi tentang ini kepada para agen travel. Kebanyakan, mereka melakukan efesiensi paket tur. Ada tempat-tempat wisata yang diganti agar harga tidak bengkak.
Beberapa orang malah senang diberi kebebasan untuk memilih tempat wisata. Agen travel juga bahagia karena mampu menekan pengeluaran terbesar untuk bus dan bensin.
Tapi, keadaan Indonesia diperparah dengan naiknya nilai kurs terhadap dollar. Nilai rupiah terus melemah menembus angka Rp 17.500 per hari ini. Bisa dibayangkan, betapa pusingnya konversi uang dengan nilai kurs yang rendah.
Jalan-jalan terasa kurang penting dan bisa ditunda. Namun, tak selalu pesimis. Panasnya konflik dan jatuhnya kurs menguatkan peluang baru bagi wisata overland, di mana wisatawan liburan tanpa menggunakan pesawat.
Alam yang indah di setiap daerah seakan jadi tempat healing murah dan dapat dicapai untuk mengobati rasa kangen jalan-jalan, bahkan bisa dibilang, 'blessing in disguise'.
"Ini tentu menguatkan pasar lokal," pungkas Anton dengan optimis.





