Tak Banyak yang Tahu, Ayah Josepha Peserta LCC 4 Pilar MPR RI Protes ke Juri Bukan Sosok Sembarangan
Hendrik Budiman May 16, 2026 06:54 PM

 


TRIBUNBENGKULU.COM - Sosok ayah Josepha, peserta Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI yang sempat menjadi sorotan usai melayangkan protes kepada dewan juri, ternyata bukan orang biasa. 

Pria tersebut diketahui memiliki latar belakang dan jabatan yang cukup dikenal.

Belakangan diketahui, ayah Josepha memiliki jabatan strategis dan dikenal di lingkungan kerjanya. 

Fakta tersebut membuat publik semakin penasaran terhadap sosok keluarga peserta yang menjadi perhatian dalam ajang nasional itu.

Dibalik sikap pemberani Josepha siswi SMAN 1 Pontianak saat dicurangi, kini profesi ayahnya jadi sorotan.

Sebelumnya, Josepha karib disapa Ocha menjadi perbincangan karena keberaniannya menyuarakan protes terhadap juri yang menyalahkan jawabannya.

Ocha sudah menjawab dengan benar namun dinilai salah oleh juri.

Baca juga: Tanggapan Orang Tua Ocha Usai Anaknya Viral di LCC 4 Pilar MPR RI: Semua Bidang Dia Kuasai 

Tapi ketika kelompok lain yang menjawab sama persis dengan Ocha, justru dinilai benar

Ternyata ayah Josepha memiliki jabatan mentereng.

Ayah Josepha bernama Andre Kuncoro.

Dia bekerja sebagai Staf Ahli Pertanian Lembaga Gemawan.

Dilihat dari akun Facebooknya, Andre pernah bekerja di :

PNPM Mandiri Pedesaan tahun 2007

Koordinator TPP Kapuas Hulu P3MD Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi tahun 2021

Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa PDT dan Tranmigrasi tahun 2021

Staf Ahli Pertania Lembaga Gemawan.

Sebelumnya, Josepha karib disapa Ocha menjadi perbincangan karena keberaniannya menyuarakan protes terhadap juri yang menyalahkan jawabannya.

Ocha sudah menjawab dengan benar namun dinilai salah oleh juri.

Tapi ketika kelompok lain yang menjawab sama persis dengan Ocha, justru dinilai benar.

Tindakan tersebut membuat banyak sekali masyarakat menaruh simpati pada Ocha.

Termasuk orang tuanya, Andre Kuncoro.

"Publik Indonesia tidak hanya dipertontonkan acara lomba, tapi bagaimana seorang anak kecil dengan gagah berani menyuarakan keadilan dan kebenaran," kata Andre.

Menurutnya menang atau kalah dalam lomba merupakan bonus, terpenting anaknya mampu melewati semua prosesnya.

"Berkah yang luar biasa dan menjadi pelajaran bagi kita semua. Dalam lomba itu sportivitas harus dijunjung tinggi. Menang atau kalah itu biasa, yang penting prosesnya," katanya.

Ia berharap tindakan Ocha dapat menginspirasi untuk berani menyuarakan keadilan.

"Kebenaran tetap harus jadi kebenaran, dan keadilan harus tetap dijaga," katanya.

Andre menceritakan sosok Ocha sebagai pribadi yang getol sekali belajar.

"Ocha itu nggak banyak bicara. Dia lebih senang berada di kamar dengan dunianya sendiri, dengan laptopnya, belajar," katanya.

Menurutnya Ocha sering kali belajar sampai larut malam.

Sang ibu bahkan selalu mengingatkan untuk istirahat.

"Kadang tidak kenal waktu sampai tengah malam. Ibunya sering mengingatkan, ‘Dek tidur’. Tapi kalau belum selesai, dia belum mau tidur," katanya.

Sebagai orang tua, Andre mengaku beberapa kali mencoba mengajak Ocha bersantai atau bermain bersama teman-temannya. 

Namun ajakan itu sering ditolak karena dianggap membuang waktu.

"Kita suruh main dengan temannya juga nggak mau. Katanya buang-buang waktu," katanya.

Aktif Membina Anak-Anak

Meski lebih senang belajar, Ocha ternyata aktif mengikuti kegiatan sosial. Andre menyebut putrinya rutin membantu membina anak-anak di kawasan Taman Catur Untan.

Di sana, Ocha membantu kegiatan edukasi seperti mewarnai, melukis, hingga mengajarkan pelajaran kepada anak-anak kecil.

“Biasanya di Taman Catur itu, membina adik-adik kecil, mewarnai, melukis, lalu mengajarkan pelajaran juga,” ungkapnya.

Andre mengaku keluarga terkadang khawatir melihat kebiasaan belajar Ocha yang sangat intens. Namun, ia menilai putrinya memang menikmati proses tersebut.

“Ocha hobinya memang di depan laptop belajar. Kadang kami orang tua juga khawatir, ini anak nggak stres. Tapi memang dia suka,” katanya.

Soal Beasiswa dan Masa Depan Ocha

Terkait tawaran beasiswa kuliah yang diterima Ocha setelah polemik LCC 4 Pilar viral, Andre mengatakan keluarga belum membahasnya lebih jauh.

Meski begitu, ia memastikan akan mendukung keputusan apa pun yang dipilih putrinya nanti.

“Kalau memang Ocha mau, kami dukung. Kemungkinan nanti kursus Mandarin untuk persiapan,” katanya.

Beasiswa untuk Josepha Alexandra Janggal 

TikToker Bima Yudho blak-blakan menyebut tawaran beasiswa ke China untuk Josepha Alexandra terkesan janggal.

Beasiswa tersebut diberikan setelah Josepha Alexandra, siswi SMAN 1 Pontianak, viral karena berani memprotes keputusan juri saat final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI.

Diketahui, Josepha sebelumnya memprotes keputusan juri yang menyatakan jawaban timnya salah.

Saat itu, juri yang menilai jawaban Josepha keliru ialah Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI Dyastasita Widya Budi dan Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI Indri Wahyuni.

Keputusan tersebut kemudian diperkuat oleh MC Shindy Lutfiana.

Usai polemik itu viral, anggota MPR RI Rifqinizamy Karsayuda menawarkan beasiswa kuliah gratis ke China untuk Josepha.

"Kalau Josepha berkenan, abang mau kasih beasiswa kuliah gratis ke China," katanya.

Tak hanya itu, Rifqi juga menjanjikan pekerjaan bagi Josepha setelah lulus kuliah.

"Nanti begitu selesai SMA, Josepha akan diberikan beasiswa sekolah kuliah gratis di China dan nanti akan ada pemberian pekerjaan langsung dari berbagai perusahaan multinasional untuk Josepha kalau sudah lulus dari China," katanya.

Namun, konten kreator TikTok Bima Yudho justru mencium adanya kejanggalan dari tawaran tersebut. Ia bahkan menyarankan Josepha agar tidak langsung menerima beasiswa itu.

"Kalau kata gua hati-hati jangan langsung lu ambil atau jangan lu ambil," katanya.

Menurut Bima, tawaran beasiswa tersebut terkesan sebagai bagian dari upaya meredam polemik yang terjadi dalam LCC Empat Pilar MPR RI.

"Yang mana kita tahu bahwa agenda ini itu untuk memanage communication crisis yang ada di Lomba Cerdas Cermat MPR," katanya.

Bima juga mempertanyakan alasan hanya Josepha yang mendapat beasiswa, sementara anggota Regu C lainnya tidak mendapatkan hal serupa.

"Dan yang dikasih beasiswa cuma lu lagi, temen lu gak dapat, terus beasiswanya menurut gua agak janggal ke China," katanya.

Selain itu, Bima menilai jurusan yang kemungkinan diminati Josepha seperti komunikasi, politik, atau seni justru kurang cocok jika kuliah di China.

"Gua yakin anak kayak lu yang udah ikut cerdas cermat pasti tertariknya ke art, komunikasi, politik yang mana China gak bagus untuk bidang ini."

"Kalau untuk art, komunikasi mending langsung ke US, UK, Australia. Kenapa ke China? karena murah, budget mereka punya cuma segini," lanjutnya.

Bima pun menyarankan Josepha mencari beasiswa langsung dari kampus atau pemerintah negara tujuan, bukan menerima tawaran dari pihak MPR.

"Mending kalau kata gua cari eksternal beasiswa dari negara tujuannya langsung, goverment atau dari kampusnya langsung. Semangat Josepha jangan mau dijadikan alat politik," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.