Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Wangi dupa menyerbak di kawasan Kiara Artha Park, pada helatan Kirab budaya Milangkala Tatar Sunda, Sabtu (16/5/2026) malam.
Puluhan kuda kavaleri kini sudah mengenakan baju seragam dengan aksesoris di kepalanya. Mereka berbaris siap ditunggangi para pemangku kebijakan.
Di belakangnya, deretan kereta kuda tak kalah menawannya dengan hiasan bunga dengan sentuhan budaya.
Karpet merah menjadi panggung utama, tak kala Gubernur Jabar Dedi Mulyadi hadir menyapa penonton.
Mereka berteriak dan melambaikan tangan orang nomor satu di Jawa Barat itu. Dari kejauhan, kerumunan penonton tampak bergerak rapat memenuhi area, menyerupai koloni semut yang tak henti berpindah.
Para penari dengan selendang menjuntainya bersolek dan meliuk enerjik saat tabuhan gendang dan gamelan memecah telinga.
Baca juga: Tiga Jam Dihias Cantik, Puluhan Delman Bergaya untuk Arak-Arakan Kirab Budaya di Bandung
Namun yang tetap mencuri perhatian ialah putri bungsu Dedi Mulyadi, Ni Hyang Sukma Ayu yang mengenakan kebaya berwarna hitam.
Meski usianya baru memasuki usia tujuh tahun, ia tampil percaya diri bersama para penari.
Riuhnya arak-arakan festival budaya, derap langkah para penari Bebegig terdengar dari kejauhan.
Wajah topeng raksasa dengan rambut gimbal dari anyaman bunga rotan, suara kolotok yang berdentang, menghadirkan suasana menggetarkan. Tak sedikit penonton yang menjerit saat grup dari Ciamis ini unjuk kebolehan.
Namun di balik tampilannya yang menyeramkan, Bebegig Sukamantri menyimpan pesan tentang perlindungan alam, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Kesenian ini berasal dari Desa Sukamantri, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Berbeda dengan orang-orangan sawah yang kerap disebut “bebegig” di beberapa daerah, Bebegig Sukamantri merupakan seni pertunjukan topeng yang dimainkan dalam tarian tradisional.
Topengnya menyerupai kepala singa seperti barong di Jawa dan Bali. Pembeda utamanya terletak pada rambut gimbal dari susunan bunga rotan atau bunga caruluk yang disebut bubuai.
Baca juga: Persib Dikaitkan Nama Chrigor Moraes, Striker Ganas Liga Malaysia Pemecah Rekor Legenda Persija
Ketua Sanggar Seni Bebegig Baladdewa, Sandi Purnama, mengatakan Bebegig lahir dari kata babagu. Tokoh bernama Prabu Samsuri disebut sebagai pencipta topeng tersebut.
“Prabu Samsuri menciptakan topeng ini untuk menjaga alam wilayah Sukamantri dari gangguan roh halus. Jadi sifatnya melindungi,” ujar Sandi, saat berbincang dengan TribunJabar.id, Sabtu (16/5/2026).
Dikatakan Sandi, masyarakat Sukamantri meyakini Bebegig sebagai simbol kemenangan dan penjaga lingkungan.
“Sosoknya diilhami dari wajah Prabu Sampulur ini dipercaya berhasil memusnahkan kagorengan atau kejahatan,” ucapnya.
Kemenangan itu, kata dia, dikenang melalui pembuatan kedok atau topeng wajah yang diwariskan menjadi kesenian rakyat.
Bebegig dibuat dari kayu gelondongan yang dibentuk menjadi topeng raksasa. Bentuknya memang seram, namun masyarakat di sekitar acara tak gentar mendekati untuk sekedar menyentuh hingga berfoto di dekat bebegig.
“Hampir seluruh bagian kostumnya menggunakan material alam,” ucap Sandi.
Dia merinci; mulai dari ranting pohon, daun waregu, hingga bunga bubuai dirangkai menjadi bagian kepala, mahkota, rok, sampai aksesori tubuh.
“Dari atas sampai bawah semuanya bernuansa alam,” kata Sandi.
Baca juga: Vellfire Rp 2 M Ludes Terbakar di Tol Cipularang KM 88, Api Diduga Berasal dari Sistem Kelistrikan
Daun palem waregu panca warna yang dipasang pada topeng memiliki makna filosofis tentang lima unsur kehidupan.
Sementara bentuk bubuai yang tersusun dalam satu simpul berderet melambangkan kebersamaan masyarakat Sunda.
“Itu menandakan kita harus bergotong royong, silih asah, silih asih, dan silih asuh,” ujarnya.
Tak hanya visualnya yang kuat, Bebegig juga menghadirkan identitas suara melalui kolotok, lonceng kayu yang dipasang pada kostum penari.
Saat para pemain berjalan, bunyi ritmis kolotok menjadi penanda khas pertunjukan Bebegig.
“Dari jarak 100 sampai 200 meter orang sudah tahu kalau itu Bebegig,” kata Sandi.
Kesan menyeramkan pada wajah Bebegig justru sengaja dipertahankan sebagai ciri utama.
“Bebegig memang harus seram, mereka kan seperti yang tadi disebut, mengusir hal-hal yang jahat,” ungkapnya.
Sandi bersyukur, di Sanggar Seni Bebegig Baladdewa, regenerasi masih terus diwariskan.
“Mayoritas pemain Bebegig rata-rata usia muda, terutama pelajar Sekolah Menegah Atas (SMA),” ujar Sandi.
Menurut dia, minat generasi muda terhadap budaya tradisional di Ciamis masih cukup besar. Bahkan anak-anak usia taman kanak-kanak mulai dikenalkan pada kesenian daerah.
“Ini bentuk regenerasi supaya budaya tetap hidup,” katanya.
Dalam satu pertunjukan, satu topeng dimainkan oleh satu orang penari.
“Untuk satu rombongan pertunjukan, biasanya bawa sekitar 38 personel. Ada penari Bebegig, penari pendukung, pemusik, hingga kru,” imbuhnya.
Pada sejumlah festival budaya di Jawa Barat, mereka dapat membawa hingga 12 Bebegig sekaligus.
Persiapan pertunjukan dilakukan cukup panjang. Proses pengambilan bahan hingga penyusunan perlengkapan dapat memakan waktu dua hari.
“Pemasangan ornamen juga aksesori buat satu Bebegig saja butuh waktu sekitar dua sampai tiga jam,” kata dia.
Meski harus berpindah kota dalam rangkaian festival budaya, para anggota sanggar tetap menjalani proses itu dari awal di setiap lokasi pertunjukan.
Diketahui, sebanyak 13 kampung adat serta perwakilan kesenian dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat turut ambil bagian dalam kirab tersebut.
“Kadang satu hari langsung pindah kota, tapi alhamdulillah semuanya berjalan lancar,” ujar Sandi.
Bagi masyarakat Sukamantri, Bebegig bukan sekadar hiburan rakyat.
Sandi menyebut, kesenian ini menjadi identitas budaya sekaligus pengingat hubungan manusia dengan alam.
Sandi berharap kegiatan budaya di Jawa Barat semakin sering digelar agar kesenian tradisional tetap mendapat ruang di tengah perkembangan zaman.
“Ya, mudah-mudahan dengan terselenggaranya acara ini tentang budaya ke depannya bisa lebih berkembang lebih sering diadakan. Apalagi ini event budaya, agar tetap lestari di Jawa Barat,” ujarnya. (*)