Laporan Hasim Arfah, Wartawan Tribun-timur.com dan Media Centre Haji 2026 dari Arab Saudi
TRIBUN-TIMUR.COM, JEDDAH — Fase kedatangan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi perlahan mendekati garis akhir.
Namun di balik padatnya arus jemaah yang terus berdatangan setiap hari, para petugas Daerah Kerja (Daker) Bandara PPIH Arab Saudi kini mulai menghadapi tantangan baru, bersiap meninggalkan bandara untuk memasuki fase paling krusial dalam penyelenggaraan haji, yakni Armuzna.
Hingga Sabtu (16/5/2026) siang waktu Arab Saudi, sebanyak 168.009 jemaah haji Indonesia yang tergabung dalam 435 kelompok terbang telah tiba di Tanah Suci.
Jumlah itu mencapai sekitar 83 persen dari total keseluruhan jemaah tahun ini.
Kepala Daker Bandara PPIH Arab Saudi, Abdul Basir, mengatakan operasional kedatangan tahun ini diwarnai tantangan besar karena tingginya jumlah jemaah lanjut usia yang membutuhkan perhatian khusus sejak turun dari pesawat.
“Total jemaah lansia kita mencapai 36.627 orang atau sekitar 21 persen dari total jemaah Indonesia tahun ini,” ujar Basir di Jeddah.
Baca juga: Petugas Haji Layani Jemaah Lansia seperti Orangtua Sendiri
Angka tersebut menjadi gambaran nyata bahwa pelayanan haji tahun ini tidak sekadar soal memindahkan ribuan orang dari bandara menuju hotel, tetapi juga memastikan jemaah dengan kondisi rentan tetap aman dan nyaman di tengah suhu ekstrem Arab Saudi.
Setiap hari, petugas bandara harus berjibaku melayani jemaah yang kelelahan setelah penerbangan panjang, pengguna kursi roda, hingga jemaah sakit yang memerlukan penanganan cepat setibanya di terminal kedatangan.
Bahkan pada Kloter 10 Embarkasi Aceh (BTJ 10), jumlah jemaah pengguna kursi roda mencapai 37 orang dalam satu kloter.
Jumlah itu menjadi yang tertinggi selama operasional kedatangan tahun ini.
“Memang membutuhkan waktu lebih panjang untuk pelayanan, tetapi seluruh petugas tetap siaga untuk membantu jemaah, khususnya lansia,” katanya.
Di tengah ritme pelayanan yang nyaris tanpa jeda, para petugas kini juga mulai mempersiapkan diri menghadapi fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Sebelum jemaah terakhir tiba, konsolidasi internal sudah dilakukan untuk memindahkan fokus pelayanan dari bandara menuju Arafah.
Menurut Basir, petugas Daker Bandara nantinya akan diperbantukan sebagai Satuan Tugas Arafah guna memperkuat pelayanan saat jutaan jemaah mulai bergerak menuju puncak ibadah haji.
“Sebelum kedatangan jemaah terakhir selesai, kami sudah mulai konsolidasi untuk penugasan Armuzna,” ujarnya.
Rencananya, para petugas bandara akan diberangkatkan menuju Makkah pada 23 Mei sebelum diterjunkan ke Arafah untuk menyambut kedatangan jemaah mulai 25 Mei 2026.
Peralihan tugas tersebut menjadi momen penting karena para petugas harus bergerak dari satu fase pelayanan ke fase lain tanpa jeda istirahat panjang. Setelah berminggu-minggu menangani kedatangan di bandara, mereka akan kembali menghadapi kepadatan jutaan manusia di Armuzna.
Meski operasional berjalan relatif stabil, sejumlah insiden kecil tetap terjadi di lapangan. Ada jemaah yang sakit sesaat setelah keluar dari terminal, ada pula paspor yang tertinggal di pesawat atau terbawa jemaah lain.
Namun seluruh persoalan tersebut, menurut Basir, dapat ditangani cepat oleh petugas di lapangan.
“Ada beberapa jemaah yang harus dirawat di rumah sakit, tetapi semuanya tertangani dengan baik. Begitu juga paspor yang tertinggal, semuanya bisa diselesaikan,” katanya.
Di sisi lain, cuaca panas yang terus meningkat menjadi perhatian serius PPIH Arab Saudi menjelang puncak haji. Suhu udara di Makkah dan Jeddah mulai terasa lebih menyengat dibanding hari-hari sebelumnya.
Karena itu, Basir meminta jemaah mulai membatasi aktivitas fisik yang tidak mendesak demi menjaga stamina menghadapi wukuf di Arafah.
“Cuaca semakin panas. Jemaah harus menjaga pola makan, cukup minum, cukup istirahat, dan jangan terlalu sering keluar hotel kalau tidak ada kepentingan penting,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar jemaah tidak menghabiskan energi untuk aktivitas sunnah berlebihan sebelum fase utama ibadah dimulai.
“Ibadah puncaknya ada di Arafah. Jadi tenaga harus benar-benar dijaga,” pungkasnya. (hasim arfah/mch 2026)