Mahasiswa Agribisnis USK Pelajari Peran Panglima Laot dalam Kehidupan Nelayan Aceh
Mursal Ismail May 17, 2026 01:38 AM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Aceh Besar 

SERAMBINEWS.COM, JANTHO - Sejumlah mahasiswa Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) mengikuti kuliah lapangan di Kantor Lembaga Hukum Adat Laot/Panglima Laot Aceh di Baet, Aceh Besar, Sabtu (16/5/2026).

Kegiatan tersebut membahas sejarah, fungsi, dan peran Lembaga Hukum Adat Laot/Panglima Laot dalam kehidupan masyarakat pesisir Aceh.

Kuliah lapangan itu diinisiasi oleh dosen Agribisnis Fakultas Pertanian USK, Monalisa, dengan menghadirkan Sekretaris Panglima Laot Aceh, Azwir Nazar, sebagai narasumber.

Dalam kegiatan itu, mahasiswa diperkenalkan pada peran dan fungsi Panglima Laot, serta praktik-praktik yang dijalankan para Panglima Laot dan nelayan di Aceh.

Azwir Nazar menjelaskan bahwa Panglima Laot merupakan lembaga adat yang telah hadir sejak abad ke-14 dan memiliki peran penting dalam sejarah Aceh.

“Panglima Laot ini merupakan Lembaga Persekutuan Adat sejak abad ke 14.

Bagaimana dulu para indatu kita memobilisasi perang melawan Portugis, lalu masa Iskandar Muda menjadi pemungut cukai di Selat Malaka hingga masa kemerdekaan dan bergabung dengan Indonesia,” kata mantan Presiden PPI Turki tersebut.

Baca juga: Ekses Angin Kencang, Pohon Tumbang Timpa Rumah Warga di Aceh Besar

Menurut Azwir, saat ini Panglima Laot memiliki tiga fungsi utama, yakni menjaga keamanan laut, menjaga ekosistem laut, dan menjaga adat istiadat.

Lembaga tersebut memiliki struktur kepengurusan mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga panglima laot lhok yang tersebar di sekitar 200 lhok di seluruh Aceh.

Dalam pemaparannya, Azwir juga menyinggung pengalaman nelayan Aceh saat menangani pengungsi Rohingya yang datang ke Aceh dan sempat memunculkan polemik di tengah masyarakat.

Menurutnya, persoalan tersebut harus dipandang dari sisi kemanusiaan.

“Jangankan manusia, hewan yang terapung di laut dan membutuhkan pertolongan pun wajib ditolong,” ujar Azwir. 

“Itu yang mendasari nelayan kita menolong siapa pun yang butuh pertolongan di laut,” lanjutnya. 

Baca juga: Bupati Aceh Besar Minta Pemda Dilibatkan dalam Proses Perencanaan Maupun Pelaksanaan Rehab Rekon

Lebih lanjut, ia turut mengapresiasi kehadiran mahasiswa dan dosen Agribisnis USK yang datang untuk mempelajari langsung kelembagaan adat Panglima Laot Aceh.

“Kami senang dapat berbagi dengan adik-adik mahasiswa dan ibu dosen tentang praktik baik serta pengalaman para tokoh Panglima Laot di Aceh dalam menjaga kearifan lokal.

Semoga kegiatan ini bermanfaat dan dapat membuka peluang kolaborasi di masa mendatang,” tuturnya.

Sementara itu, Monalisa mengatakan kegiatan kuliah lapangan tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai kelembagaan adat di Aceh, khususnya Panglima Laot, beserta tantangan yang dihadapi ke depan.

“Tujuan kami mengajak mahasiswa ke sini adalah agar mereka memperoleh pemahaman tentang kelembagaan adat di Aceh, khususnya Panglima Laot.

Mahasiswa juga diharapkan dapat memahami permasalahan nelayan serta aspek sosial, ekonomi, dan ekologi dalam bidang kelautan dan perikanan,” ujar Monalisa.

Baca juga: Cuaca Ekstrem, BPBD Aceh Besar Siagakan 10 Pos, Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Panglima Laot Aceh dan jajaran pengurus yang telah menerima dosen dan mahasiswa untuk belajar langsung mengenai kelembagaan Hukum Adat Laot/Panglima Laot Aceh. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.