SERAMBINEWS.COM – Pasar energi global kembali diguncang ketidakpastian besar sepanjang pekan ini.
Harga minyak dunia dilaporkan melonjak hingga 8 persen, setelah pernyataan konfrontatif dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran memupus harapan publik akan adanya kesepakatan jangka pendek untuk mengakhiri konflik serta penyitaan kapal di sekitar Selat Hormuz.
The Economic Times pada Sabtu (16/5/2026) melaporkan, harga minyak dunia dikonfirmasi mengalami kenaikan tajam hingga di atas 3 persen pada penutupan perdagangan sesi Jumat (15/5/2026).
Situasi ini dipicu oleh rapuhnya gencatan senjata dan mandeknya jalur diplomasi antara Washington dan Teheran.
Ketegangan geopolitik yang kembali memanas secara langsung mentransmisikan sentimen negatif ke papan perdagangan komoditas.
Baca juga: Harga Minyak Naik Usai Trump Sebut China Akan Beli Minyak Mentah AS
Dilansir dari The Economic Times, Sabtu (16/5/2026), berikut harga minyak mentah berdasarkan data akhir pekan.
Pergerakan liar ini mencerminkan kecemasan para pelaku pasar yang terus memantau stabilitas pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Hambatan utama dari normalisasi harga minyak global saat ini berakar pada jalan buntu diplomasi.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan pada Jumat bahwa Teheran sama sekali "tidak percaya" pada komitmen Amerika Serikat.
Iran hanya akan kembali ke meja runding jika Washington mampu menunjukkan keseriusan yang nyata.
Araqchi menggarisbawahi bahwa negaranya kini berada dalam posisi siap untuk menghadapi skenario apa pun, baik konflik lanjutan maupun solusi diplomatik.
Baca juga: Trump Pertimbangkan Venezuela Jadi Negara Bagian ke-51 AS, Tergiur Cadangan Minyak Rp650 Ribu T
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya mulai kehilangan kesabaran terhadap manuver Iran.
Di sela-sela akhir kunjungannya ke China, Trump mengeklaim telah mencapai kesepahaman dengan Presiden China Xi Jinping bahwa Iran tidak boleh diizinkan mengembangkan senjata nuklir dan harus segera membuka kembali Selat Hormuz.
Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan urat nadi energi paling vital di dunia.
Hampir seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) global mengalir melalui jalur sempit ini.
Selat tersebut menjadi rute ekspor utama bagi produsen raksasa dunia, termasuk Arab Saudi, Irak, dan Qatar.
Meskipun gencatan senjata secara teknis masih berlaku, retorika yang kian memanas membuat ekspektasi pembukaan kembali jalur pelayaran ini menurun drastis.
Meskipun Kementerian Luar Negeri China merilis pernyataan resmi yang menyebut bahwa konflik di Timur Tengah tidak memiliki alasan untuk terus berlanjut, Presiden Xi Jinping memilih tidak berkomentar secara terbuka di depan publik mengenai diskusinya dengan Trump terkait Iran.
Selain isu Timur Tengah, pasar juga mencermati dinamika internal kedua negara adidaya tersebut.
Ketegangan sempat bergeser ke wilayah Asia Timur ketika Presiden Xi mengingatkan Trump bahwa hubungan bilateral antara AS dan China dapat berada dalam bahaya besar jika persoalan kedaulatan Taiwan tidak diselesaikan secara bijak.
Baca juga: Update Hari ke-73 Perang Iran: Proposal Damai Ditolak Trump, Harga Minyak Dunia Tembus Rekor Baru
Lantas, ke mana arah pergerakan harga emas hitam ini ke depan?
Masih dikutip dari sumber yang sama, The Economic Times, beberapa pakar global telah memberikan pandangannya terhadap arah pergerakan harga minyak mentah dunia.
Lembaga keuangan global Morgan Stanley menyebutkan, bahwa pasar minyak dunia kini sedang berada dalam kondisi "perlombaan melawan waktu."
Analis yang dipimpin oleh Martijn Rats menyebutkan bahwa jika blokade di Selat Hormuz terus bertahan hingga Juni, faktor-faktor penahan laju harga akan melemah, yang berpotensi memicu lonjakan harga yang jauh lebih ekstrem.
Sejauh ini, harga minyak memang masih berada di bawah rekor tertinggi tahun 2022 saat invasi Rusia ke Ukraina dimulai.
Morgan Stanley menjelaskan hal ini terjadi karena pasar memasuki krisis kali ini dengan cadangan pasokan yang lebih kokoh, ditopang oleh tingginya ekspor minyak mentah dari AS serta melemahnya volume impor dari China. Investor pun awalnya percaya selat akan segera dibuka.
Namun, penutupan yang berkepanjangan diprediksi akan mencekik pasokan global melampaui batas kemampuan adaptasi AS maupun China.
Senada dengan hal itu, firma pialang Haitong Futures mengingatkan pelaku pasar untuk tetap waspada.
Gencatan senjata yang ada saat ini dinilai sangat rapuh dan sewaktu-waktu bisa runtuh, memicu eskalasi baru yang siap mendorong harga minyak ke level tertinggi baru.
Dampak jangka panjang yang lebih mengkhawatirkan datang dari proyeksi produsen.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memberikan peringatan keras bahwa gangguan pengapalan yang melintasi Selat Hormuz dapat mengacaukan stabilitas pasar hingga tahun 2027.
Gangguan ini diperkirakan menahan dan memengaruhi distribusi sekitar 100 million barel pasokan minyak mentah setiap minggunya.
Bagi negara importir neto minyak seperti Indonesia, perkembangan ini tentu wajib diwaspadai karena berpotensi memberi tekanan langsung pada beban subsidi BBM dalam negeri.
(Serambinews.com/Yeni Hardika)