Dahsyat! Sekali Panen Agus Raup Rp 1 Miliar, Sukses Ubah Lautan Pasir Jadi Kebun Semangka
Machmud Mubarok May 17, 2026 07:35 PM

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Lokasi hamparan pasir di dekat kawasan pantai Pamugaran, Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran terlihat berbeda. Di tengah cuaca panas khas pesisir, ada deretan tanaman semangka hijau membentang luas.

Tak banyak yang mengetahui, lahan pasir yang dulu dianggap kurang produktif itu kini berubah menjadi sumber cuan bernilai fantastis. 

Sosok di balik keberhasilan itu bernama Agus Muhyanto, seorang petani semangka asal Pangandaran yang sukses menanam pohon semangka tanpa biji hingga menghasilkan omzet miliaran rupiah dalam sekali panen.

Dengan memanfaatkan lahan pesisir seluas sekitar 10 hektare, Agus menanam ribuan pohon semangka yang tumbuh subur di atas pasir pantai.

Pemandangan itu pun kerap menarik perhatian warga maupun pengendara yang melintas di kawasan Pamugaran.

"Total lahan untuk menanam semangka ini kurang lebih seluas 10 hektare," ujar Agus kepada sejumlah wartawan di lokasi kebun semangkanya, Minggu (17/5/2026) siang.

Baca juga: Begini Cara Pemuda di Ciamis Tingkatkan Hasil Budidaya Semangka

Baca juga: Berawal dari Modal Nekat, Sejumlah Pemuda di Pangandaran Berhasil Tanam Semangka

Menurut Agus, dalam sekali musim panen dirinya mampu menghasilkan sekitar 150 hingga 200 ton buah semangka. 

Dengan harga jual yang saat ini berada di kisaran Rp11 ribu per kilogram, omzet yang diperoleh bisa mencapai lebih dari Rp 1 miliar.

"Kalau dihitung minimal satu kali panen itu bisa Rp 1 miliar. Tapi harga memang fluktuatif, sekarang kita jual sekitar Rp 11 ribu per kilogram," katanya.

Budidaya semangka yang dijalankan Agus tergolong cepat. Sejak bibit dipindahkan dari polibag ke lahan tanam, buah semangka sudah bisa dipanen dalam waktu sekitar 60 hari.

Meski berada di kawasan pesisir dengan kondisi tanah berpasir, Agus membuktikan bahwa lahan itu tetap produktif jika dikelola dengan teknik pertanian yang tepat. Bahkan, kualitas semangka yang dihasilkan disebut memiliki rasa manis dan tekstur segar.

Jenis semangka yang dibudidayakan Agus merupakan semangka tanpa biji yang banyak diminati pasar. Ukuran buahnya cukup besar dengan warna daging merah cerah.

Tak hanya fokus pada keuntungan pribadi, Agus pun memberdayakan warga sekitar untuk ikut bekerja di kebun semangka miliknya. 

Sejumlah warga dilibatkan mulai dari proses penanaman, perawatan hingga panen."Pekerja kita melibatkan warga setempat sekaligus sambil belajar agar nanti bisa dikembangkan juga di tempat lain di Pangandaran," ucap Agus.

Menariknya, hasil panen semangka dari kebun tersebut saat ini sebagian besar dipasok untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Pangandaran.

Menurut Agus, kebutuhan buah semangka untuk dapur-dapur MBG cukup tinggi. Untuk itu, Ia memilih mendistribusikan hasil panen langsung dari kebun ke dapur penyedia makanan.

"Hasil panen kita drop di sekitar Pangandaran saja karena kebetulan ada program MBG. Jadi kita distribusikan langsung ke dapur-dapur MBG," ujarnya.

Memang, lanjut Ia, hingga saat ini jumlah petani semangka di Pangandaran masih sangat terbatas. Bahkan, Ia menjadi satu pemasok semangka lokal pertama yang secara rutin menyuplai kebutuhan untuk program MBG.

"Petani semangka di Pangandaran memang masih kurang. Kebanyakan masih mengambil pasokan dari luar daerah seperti Jambi," kata Agus.

Agus berharap, semakin banyak masyarakat yang tertarik mengembangkan budidaya semangka di Pangandaran. 

"Karena, selain memiliki potensi pasar yang besar, kondisi wilayah pesisir cukup cocok untuk pertanian semangka jika dikelola dengan benar," ucapnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.