
TRIBUNNERS - Di permukaan, Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) di Hotel Aston Cirebon tampak seperti reuni hangat para kiai muda dan elite Nahdliyin.
Unggahan media sosial KH. Imam Jazuli (Kiai Imjaz) menggambarkan atmosfer yang begitu cair: diskusi lintas sektor yang seru, obrolan masa depan NU, hingga momen jabat tangan hangat dengan Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
Namun, di balik narasi "menyenangkan dan unforgettable" yang ditulis Kiai Imjaz, para pengamat membaca realitas yang jauh lebih dinamis.
Forum yang berlangsung pada 13–17 Mei 2026 ini sejatinya adalah "medan laga" senyap dan panggung konsolidasi kekuatan menjelang Muktamar ke-35 NU yang akan digelar Agustus mendatang.
Dalam unggahannya, Kiai Imjaz secara khusus menyebutkan momen istimewa selepas acara kaderisasi tersebut.
"Istimewanya selepas acara kami foto bersama, bahkan saya dan Gus Yusuf (Chudlori) sempat bersalaman dengan Gus Yahya, ala kulli hal PMKNU itu menyenangkan dan unforgettable !!" tulis pengasuh Bina Insan Mulia tersebut.
Jabat tangan antara Kiai Imjaz, Gus Yusuf, dan Gus Yahya ini menjadi sangat ikonik mengingat posisi politik mereka saat ini.
Baca juga: PMKNU Dihadiri Tokoh-tokoh Nasional, Perkuat Kaderisasi Kepemimpinan
Gus Yahya hadir sebagai petahana yang siap mempertahankan kursi PBNU 1.
Di sisi lain, berdasarkan survei terbaru lembaga Insantara, nama Kiai Imjaz justru meroket sebagai salah satu kandidat kuat penantang petahana, didukung oleh barisan tokoh berpengaruh seperti Gus Yusuf Chudlori, Gus Miftah, dan Gus Ipang Wahid yang berada dalam satu angkatan PMKNU kali ini.
Kehadiran para pesohor NU di satu meja ini bukan tanpa alasan.
Berdasarkan Perkum Nomor 2 Tahun 2025, lulus PMKNU kini menjadi syarat wajib bagi siapa saja yang ingin maju sebagai calon ketua umum maupun pengurus harian PBNU.
Aktivis NU Cirebon, Mamang Hairudin, menilai kehangatan yang dipamerkan di media sosial tidak bisa menyembunyikan ketegangan politik di akar rumput.
"PMKNU di Aston ini bukan lagi kaderisasi biasa, ini adalah ‘Muktamar Kecil’.
Kehadiran KH Imam Jazuli, Gus Yusuf dkk di sini adalah sinyal bahaya bagi petahana," ujar Mamang.
Senada dengan hal itu, peneliti Insantara, Wildan Efendy, melihat momen jabat tangan tersebut sebagai simbol rivalitas yang elegan namun sengit.
"Langkah para calon Ketum mengikuti PMKNU adalah bentuk kepatuhan struktural.
Namun secara politis, berkumpulnya Kiai Imjaz, Gus Yusuf, Gus Miftah, dan Gus Ipang menegaskan lahirnya poros baru yang siap menggeser status quo," urai Wildan.
Menatap Abad Kedua NU: Gagasan Strategis vs Manuver Politik
Meskipun aroma kompetisi menyengat, subtansi materi PMKNU tetap menyentuh esensi masa depan organisasi.
Kiai Imjaz menceritakan bagaimana sesi kedua yang diisi oleh Gus Yahya mengupas tuntas soal kehadiran mujaddid (pembaru) NU di paruh awal abad kedua NU, serta pentingnya peran global hijau-hitam di kancah internasional.
Bagi pengamat politik pesantren, KH A. Mudzakkir, kehadiran Gus Yahya memberikan materi di depan para "rivalnya" adalah strategi defensif sekaligus ofensif yang cerdas.
"Gus Yahya ingin menunjukkan dia masih memegang kendali struktural sekaligus memantau pergerakan lawan.
Namun, dengan Kiai Imjaz yang makin kuat di survei, Gus Yusuf yang mengakar di Jawa Tengah, serta Gus Miftah-Gus Ipang yang menguasai ceruk milenial, panggung kepemimpinan NU jelas sedang bergeser ke arah regenerasi muda," tegas KH Mudzakkir.
Apakah jabat tangan hangat di Aston Cirebon merupakan sinyal perdamaian, atau justru ketenangan sebelum badai politik Muktamar Agustus 2026 dimulai? Yang pasti, bagi Kiai Imjaz dan poros baru NU, momen PMKNU Cirebon ini memang benar-benar unforgettable.