Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Angin Bandung berembus lembut, membawa aroma tak biasa di pelataran Gedung Sate, landmark bersejarah Jawa Barat, Minggu (17/5/2026) malam. Lampu-lampu sorot berwarna-warni membelah langit malam, sementara ribuan pasang mata terpaku pada panggung megah yang berdiri anggun.
Minggu malam adalah puncak Milangkala Tatar Sunda, sebuah perayaan yang bukan sekedar seremonial, melainkan mesin waktu yang membawa penontonnya pulang ke akar kebudayaan.
Sehari sebelumnya, Sabtu (16/5/2026), kemeriahan telah memantik kota lewat kirab budaya yang penuh warna. Namun malam ini, atmosfer terasa lebih magis dan sakral.
Di antara lautan manusia yang memadati area, tampak beberapa tokoh nasional duduk berbaur menikmati suasana. Ada Jaksa Agung, ST Burhanudin, Sinta Wahid (istri mendiang Presiden Abdurrahman Wahid yang hadir membawa kesejukan hingga Didit Prabowo, putra Presiden RI, yang malam itu memilih melebur dalam kehangatan budaya Sunda.
Panggung mendadak hening, ketika seorang anak kecil melangkah maju. Dia adalah Ni Hyang Sukma Ayu, putri Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Dengan gerak tangan yang lemah gemulai dan tatapan mata yang lugu namun mantap, jemarinya menari, merajut cerita lewat gerak tari tradisional yang memukau.
Baca juga: Jadwal Persib Setelah Tekuk Dramatis PSM, Jamu Persijap di GBLA dalam Laga Terakhir Super League
Riuh tepuk tangan membahana, menjadi pengantar yang sempurna bagi penyanyi legendaris, Heti Koes Endang. Saat suara khas Heti melantunkan bait-bait Bubuy Bulan, suasana magis semakin pekat. Malam semakin larut, namun energi justru semakin memuncak.
Chocky Sitohang dan Oni S.O.S muncul di atas panggung, membuka sebuah pertunjukan kolosal yang dinanti-nanti. Lewat perpaduan musik teatrikal dan permainan cahaya yang megah, kisah keagungan kerajaan Pajajaran dan kewibawaan Prabu Siliwangi dihidupkan kembali. Tepukan kendang dan lengkingan tarawangsa malam itu seolah memanggil kembali kenangan kolektif masyarakat Sunda akan kejayaan masa lalu.
Di balik gemerlap lampu dan indahnya tarian, ada pesan mendalam yang ingin disampaikan. Ketika Gubernur Jabar, KDM naik ke podium. KDM mengenang kembali perjalanannya sejak menjadi Wakil Bupati Purwakarta pada 2003. Baginya, Sunda bukanlah sekedar suki atau batas wilayah, melainkan sebuah watak ideologis.
"Ada tiga hal dalam kerangka berpikirnya, yakni alam bihari, alam kiwari, dan alam poe isuk," ujarnya
Dia membedah filsafat itu satu per satu. Bihari adalah alam ide, gagasan, dan pikiran. Itulah nilai dasar Sunda. Nilai-nilai ini yang kemudian mewujud menjadi watak kebudayaan ketika masuk ke ruang dan waktu hingga melangkah ke masa depan.
Namun, KDM menyelipkan keprihatinan yang mendalam. Dia melihat ada yang retak dalam pembangunan pascaruntuhnya Pajajaran, di mana para pemimpin mulai memisahkan cara berpikir teologis dengan ekologis.
Baca juga: BREAKING NEWS: Usai PSM Ditekuk Persib, Stadion BJ Habibie Parepare Rusuh
Refleksi budata seketika berubah menjadi pengingat yang menampar realitas. Sebagai Gubernur, KDM memaparkan data pahit, di mana Jabar telah kehilangan sekitar 1,2 juta hektar lahan hijau. Hutan-hutan berganti beton, dan serapan air berubah fungsi.
"Sisi perspektif, urat Jabar itu di Pakuan Pajajaran. Jadi, perubahan harus dilakukan dari Pakuan Pajajaran," kata KDM.
Bagi KDM, wilayah eks Pajajaran kini justru menjadi area yang paling eksploitatif dengan tingkat kerusakan lingkungan tertinggi. Dampaknya, tak main-main dan kini harus dibayar mahal warga, seperti banjir bandang di kawasan Puncak, luapan air di Gunung Cikuray, hingga genangan abadi di Bandung Selatan menjadi alarm alam yang sudah berbunyi terlalu keras. Pembenahan, katanya, tak bisa ditunda lagi. (*)