TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO — Pemandangan kontras terlihat di Mega Mall Manado pada Minggu (17/5/2026).
Pusat perbelanjaan pertama di Sulawesi Utara yang biasanya dipadati pengunjung usai ibadah gereja pagi itu kini sunyi.
Tidak ada hiruk-pikuk aktivitas belanja.
Di depan lobi, tampak hanya ada polisi dan segelintir security yang berjaga depan lobi.
Garis polisi (police line) memagari jalan masuk ke dalam Mall pertama di Sulut tersebut, menandakan aktivitas operasional yang lumpuh total pasca-insiden kebakaran hebat yang terjadi pada Sabtu (16/5/2026) kemarin.
Sunyinya pusat perbelanjaan tersebut bukan tanpa alasan.
Sebagian besar penghuninya melayat ke rumah duka Patricia Tamawiwy di perumahan GPI Mapanget, Manado.
Patricia merupakan korban jiwa yang wafat dalam peristiwa kebakaran Mall tersebut, Sabtu (16/5/2026).
Bagi rekan-rekannya, almarhum adalah karyawan Mega Mall yang dikenal jujur, loyal dan setia.
Bahkan, di detik-detik akhir hidupnya, Patricia menunjukkan loyalitas sebagai pekerja.
Dedikasi tinggi inilah yang terus dikenang rekan-rekan almarhum dalam iman, pengharapan serta kasih.
Rasa kehilangan ini tidak hanya dirasakan oleh sesama rekan sejawat.
Mereka tak sendiri. Amelia Tungka Direksi Megamas juga turut hadir di rumah duka.
Kehadiran pimpinan tertinggi ini menjadi bukti betapa berartinya sosok Patricia.
Dalam kesempatan tersebut, Tungka mengucapkan belasungkawa, memberi penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan serta membangun solidaritas dalam suasana duka.
Berdasarkan pantauan Tribunmanado melayat ke rumah duka Minggu Sore, suasana penuh haru begitu terasa.
Bangsal penuh. Sebagian besar adalah rekan rekan almarhum sesama pekerja di Mega Mall.
Meskipun cuaca kurang bersahabat, hujan yang turun deras sejak pagi tak jadi penghalang bagi pelayat untuk memberi penghormatan terakhir bagi almarhumah.
Pihak keluarga menyampaikan apresiasi mereka atas banyaknya dukungan dan doa yang mengalir.
Garry Tamawiwy saudara dari Patricia mengucapkan Terima kasih pada para pelayat yang sudah turut memangku duka.
"Terima kasih pada yang sudah turut berbelasungkawa," katanya.
Hingga Minggu malam, pihak keluarga di GPI dilaporkan masih menanti kedatangan suami korban yang saat ini sedang bekerja di Kepulauan Talaud.
Jarak dan akses transportasi membuat keluarga harus menunggu kepastian tibanya sang suami sebelum mengambil keputusan lebih lanjut mengenai detail proses pemakaman.
Berdasarkan keterangan awal dari pihak keluarga, rencana prosesi pemakaman bagi almarhumah Pricilia Tamawiwy dijadwalkan akan berlangsung pada Selasa (19/5/2026).
Kebakaran terjadi pada Sabtu (17/5/2026) sekitar pukul 21.00 Wita. Api berkobar hebat, asap hitam pekat membumbung tinggi.
Kobaran api terlihat dari berbagai sudut di Kota Manado.
Para pengunjung dan karyawan Mega Mall berhamburan keluar saat mengetahui bahwa kebakaran sedang terjadi di pusat Bisnis pertama di Kota Tinutuan itu.
Namun, lima orang Staff Engineer Mega Mall, empat pria dan satu wanita, yang pada saat terjadinya kebakaran sedang berusaha memadamkan api di lantai paling atas terjebak di dalam gedung.
Tak berselang lama, petugas dari unsur Polri dan Pemadam Kebakaran tiba di lokasi kejadian.
Mereka sempat berupaya menerobos masuk untuk melakukan evakuasi, namun api masih menyala cukup besar.
Akses menuju lokasi pun terhalang oleh kobaran api yang cukup besar.
Asap tebal dan pekat menyelimuti seisi gedung Mega Mall.
Pukul 22.00 Wita, api berhasil dijinakkan. Petugas kembali melakukan upaya evakuasi. Tim Rescue pun diturunkan lengkap dengan peralatan pendukung seperti tabung oksigen.
Proses evakuasi terhadap kelima orang tersebut berlangsung hinggal, Minggu 17 Mei dini hari pukul 00.10 Wita.
Empat orang pria, semuannya selamat. Sementara korban perempuan Pricilia Tamawiwy ditemukan sudah meninggal dunia.