TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU-Di balik antrean panjang kendaraan pengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di PT Toscano, Kelurahan Bambalamotu, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, tersimpan kisah perjuangan para sopir lintas daerah.
Salah satunya Agus, sopir truk asal Kota Raya, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Saat ditemui Tribun-Sulbar.com di lokasi antrean, Senin (18/5/2026), Agus tampak duduk di bawah truknya sambil menunggu giliran timbang.
Baca juga: Harga TBS Terjun Bebas, Petani Sawit Pilih Bersabar dari Pada Alih Fungsi Lahan jadi Persawahan
Baca juga: Ratusan Truk Sawit Antre Berhari-hari di PT Toscano Pasangkayu hingga Buah Membusuk
Wajahnya terlihat lelah setelah berhari-hari berada di perjalanan dan terjebak antrean panjang di depan pabrik.
Pria yang merupakan ayah dari tiga anak itu bercerita, dirinya berangkat dari Kota Raya sejak Rabu (13/5/2026).
Ia membawa muatan sawit menuju PT Toscano Pasangkayu dengan harapan buah bisa segera dibongkar dan dirinya cepat kembali ke rumah.
Namun harapan itu tidak berjalan sesuai rencana.
Perjalanan dari Kota Raya menuju Pasangkayu saja memakan waktu sekitar dua hari dua malam.
Setelah tiba di area pabrik, Agus justru kembali harus menunggu antrean selama dua hari dua malam sebelum mendapatkan giliran masuk.
“Berangkat hari Rabu dari Kota Raya. Sampai di sini ternyata antre lagi dua hari dua malam,” ujar Agus kepada Tribun-Sulbar.com.
Ia mengaku sudah cukup sering menjual buah sawit ke Pasangkayu.
Namun menurutnya, baru kali ini antrean kendaraan di pabrik begitu panjang hingga membuat sopir harus berhari-hari bertahan di lokasi.
“Memang saya sudah sering jual di sini, tapi baru sekarang antre panjang begini,” katanya.
Selama menunggu, Agus memilih tidur di dalam kabin truk bersama sopir lainnya yang juga mengantre.
Pada malam hari, deretan truk yang parkir di pinggir jalan berubah seperti tempat singgah dadakan bagi para sopir.
Sebagian sopir memasang tikar di bawah kendaraan, sementara lainnya memilih beristirahat di kursi sopir dengan kondisi seadanya.
Untuk makan sehari-hari, Agus mengandalkan warung kecil di sekitar area antrean.
Meski sederhana, pengeluaran selama menunggu menurutnya cukup besar.
Belum lagi biaya perjalanan jauh dari Sulawesi Tengah menuju Pasangkayu yang membutuhkan bahan bakar dan ongkos operasional tidak sedikit.
“Kalau antre begini pengeluaran juga banyak.
Makan di warung, beli rokok, kebutuhan lain. Belum solar di jalan,” ungkapnya.
Ia juga mengaku khawatir karena buah sawit yang dibawanya mulai mengalami penyusutan berat akibat terlalu lama menunggu di atas truk.
Beberapa tandan buah terlihat mulai menghitam dan mengeluarkan aroma fermentasi khas sawit matang.
Menurut Agus, kondisi itu tentu memengaruhi hasil penjualan yang diterimanya nanti.
“Kalau terlalu lama menunggu, buah juga mulai kurang beratnya,” ujarnya.
Meski harus menghadapi perjalanan panjang dan antrean berhari-hari, Agus tetap memilih menjual sawit ke Pasangkayu.
Ia menilai harga sawit di wilayah tersebut masih lebih tinggi dibandingkan daerah lain.
Selain harga yang lebih bagus, akses jalan menuju Pasangkayu juga dianggap lebih nyaman dilalui kendaraan pengangkut sawit.
Padahal, kata Agus, ada pabrik yang lebih dekat dari daerah asalnya, tepatnya di sekitar wilayah Gorontalo.
Namun ia memilih tidak menjual ke sana karena harga dinilai lebih rendah dan kondisi akses jalan kurang baik.
“Memang ada pabrik yang lebih dekat ke arah Gorontalo, tapi harga di sana agak murah dan jalannya juga kurang bagus,” jelasnya.
Baginya, memilih menjual ke Pasangkayu masih dianggap lebih menguntungkan meski harus mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya tambahan di perjalanan.
Di tengah panas matahari dan antrean kendaraan yang terus mengular, Agus hanya berharap proses timbang di pabrik bisa segera berjalan lancar agar dirinya dapat kembali pulang menemui keluarga.
“Maunya cepat selesai supaya bisa cepat pulang juga kumpul sama anak-anak,” tandasnya.(*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan