Pemerhati Pendidikan Soroti Pelajar Bunuh Adik Kelas di Karawang hingga Guru Tak Mampu Kelola Siswa
Joseph Wesly May 18, 2026 11:50 AM

 

TRIBUNBEKASI.COM, KARAWANG- Pemerhati Pendidikan menyoroti pelajar siswa SMK kelas 1 Kecamatan Batujaya, Karawang yang tewas ditikam kakak kelasnya sendiri.

I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya yang fokus pada Pendidikan terkait Kesehatan Mental Anak dan Remaja mengungkapkan, ruang kelas bukan lagi sekadar tempat transfer ilmu.

Di balik deretan bangku dan papan tulis, tersimpan krisis yang kian mengkhawatirkan yaitu kesehatan mental jutaan siswa Indonesia yang terabaikan.

"Seperti contoh belum lama ini kasus yang terjadi di Karawang, kakak kelas habisi nyawa adik kelasnya. Kondisi ini sudah melampaui batas toleransi," kata Dewa saat dihubungi pada Senin (18/5/2026).

Menurutnya, kesehatan mental siswa bukan lagi soal anak yang stres menghadapi ujian semata. Ini sudah menyentuh keselamatan jiwa, bahkan kehilangan nyawa anak didik.

Keprihatinan itu bukan tanpa dasar. Survei I-NAMHS tahun 2022 mengungkap satu dari tiga remaja Indonesia atau setara 15,5 juta jiwa disebutkan mengalami masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir.

Baca juga: Kasus Siswa Lecehkan Guru di Purwakarta, Hipnoterapi Bisa Jadi Solusi Krisis Karakter Remaja

Angka ini menjadi alarm keras yang seharusnya didengar semua pihak, terutama para pengambil kebijakan pendidikan dan guru yang berhadapan langsung dengan siswa setiap harinya.

"Tapi ironisnya, alih-alih menjadi garda terdepan, banyak guru justru ikut tumbang. Beban mengajar, tekanan administrasi, dan minimnya bekal penanganan psikologis membuat mereka mundur ke zona aman, sekadar fasilitator belajar. Tugas dianggap selesai begitu bel pulang berbunyi," beber dia.

Untuk menjawab kekosongan ini, menurutnya hipnoterapi bisa menjadi solusinya.

Seperti yang dilakukan LKP Indonesian Hypnosis Centre yang kerap menggelar pelatihan Hipnoterapi khusus bagi para guru hingga remaja dibeberapa daerah di Jakarta maupun sekitarnya.

Pelatihan ini bukan sembarangan, kurikulumnya mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Hipnoterapi yang ditetapkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Selain itu, lembaga penyelenggaranya juga telah terakreditasi pemerintah.

Para peserta yang seluruhnya merupakan guru swasta, dibekali tiga kemampuan krusial: teknik menangani konflik batin diri, terapi berbagai gangguan psikologis, hingga teknik terapi massal yang bisa diterapkan langsung di kelas.

Tak berhenti di situ, guru yang dinyatakan kompeten berpeluang memperoleh surat izin praktik resmi dari Kementerian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan setempat.

Legalitas tersebut dapat menjadikan guru tak lagi canggung menangani permasalahan-permasalahan terkait pikiran, perasaan dan perilaku warga sekolah.
 
Dewa meyakini, mencegah tragedi akibat kesehatan mental peserta didik dapat dimulai dari ruang kelas.

"Kalau guru bisa mengenali dan menangani lebih awal, kita bisa mencegah banyak tragedi," pungkasnya. (MAZ)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.