‎Nobar Film Pesta Babi, Pemuda Masohi Beri Pesan Jaga Tatanan Adat dan Kemanusiaan
Mesya Marasabessy May 18, 2026 11:52 AM

‎Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo 

‎MALTENG, TRIBUNAMBON.COM - Ratusan warga Kota Masohi yang didominasi para muda-mudi antusias nonton bareng (Nobar) Film Pesta Babi.

‎Digelar di pelataran Dinas Perpustakaan Maluku Tengah, Sabtu (16/5/2026) malam, mereka disuguhi film dokumenter bertemakan perampasan lahan masyarakat adat di Papua Selatan. 

‎Film yang disutradarai Dhandy Laksono itu mengulas bagaimana masyarakat adat di Papua diperhadapkan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mengambil alih sebagian besar lahan sumber penghidupan mereka.

‎Acara nobar dan diskusi ini merupakan hasil kolaborasi lintas organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan di Maluku Tengah, yang meliputi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), serta Front Pemuda Mahasiswa Maluku (FPM-M).

‎Kolaborasi ini juga diperkuat oleh sejumlah lembaga internal kampus lokal, di antaranya BEM Fakultas Hukum Universitas Dr. Djar Wattiheluw, BEM Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Dr. Djar Wattiheluw, BEM STAI Said Perintah Masohi, dan BEM STKIP Gotong Royong Masohi.

‎Dari film berdurasi hampir dua jam itu, pemuda Kota Masohi memberikan pesan kritis untuk menjaga tatanan adat dan kemanusiaan. 

‎Hal itu disampaikan Ketua KAMMI Maluku Tengah sekaligus perwakilan koalisi penyelenggara, Sultan Musa. Sultan mengajak masyarakat untuk semakin peduli.

‎"Salah satu pesan yang ingin kami sampaikan agar ditangkap oleh seluruh publik Maluku Tengah adalah timbulnya kesadaran serta kepedulian akan tatanan adat dan persoalan kemanusiaan. Kami ingin ada rasa kepedulian yang muncul dari seluruh masyarakat yang malam ini sama-sama telah menyaksikan film Pesta Babi," ujar.

Baca juga: Prakiraan Cuaca di Maluku Senin 18 Mei 2026: Sejumlah Daerah Berpotensi Hujan dan Berawan

Baca juga: Presiden Prabowo Sedih, Tiap Hari Dapat Dapat Laporan Soal Kinerja Buruk Pejabat

‎Sultan menyayangkan tatanan adat dan masalah kemanusiaan yang terjadi di depan mata sering kali luput dari perhatian publik. 

‎Melalui media film dokumenter ini, koalisi berharap ada pemantik empati baru di tengah masyarakat Maluku Tengah.

‎Sultan juga mengklarifikasi anggapan keliru yang kerap muncul di luar terkait judul film dokumenter tersebut. Menurutnya, narasi "Pesta Babi" sering kali disalahpahami secara harfiah sebagai sebuah pesta pora belaka. 

‎Padahal, film tersebut menyimpan kritik mendalam atas penindasan hak-hak mendasar masyarakat adat.

‎"Padahal sebenarnya, film ini memiliki pesan yang sangat mendalam. Salah satunya terkait dengan hak-hak masyarakat adat atas wilayah mereka, termasuk tanah-tanah ulayat. Ini pesan yang ingin saya sampaikan dan perlu dipahami oleh seluruh masyarakat adat," tegasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.