TRIBUN-MEDAN.com - Nilai tukar rupiah terus melemah.
Pelemahan rupiah yang menembus level Rp17.600 per dolar AS jadi sorotan.
Dikhawatirkan pelaku usaha kecil langsung terkena dampaknya.
Harga kedelai di pasaran Indonesia saat ini bervariasi antara Rp10.500 hingga Rp13.000 per kg untuk tingkat pengecer dan pengrajin tahu-tempe.
Sementara di pasar marketplace kemasan eceran berkisar Rp15.000 hingga Rp25.000 per kg.
Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Golkar, Eric Hermawan, menyebut pengrajin tahu dan tempe kini mulai kesulitan menyiasati lonjakan harga kedelai yang dipicu depresiasi rupiah.
“Di tingkat akar rumput, perajin komoditas pangan seperti tahu dan tempe sudah mulai kelabakan menyiasati harga kedelai domestik yang melambung jauh di atas harga internasional,” kata Eric kepada wartawan, Senin (18/5/2026).
Eric menilai pelemahan rupiah yang menembus level Rp17.600 per dolar AS dipicu tekanan ganda dari faktor eksternal maupun domestik.
Dari sisi global, eskalasi geopolitik di Timur Tengah disebut memicu capital outflow atau keluarnya investasi dari pasar domestik.
Sementara di dalam negeri, muncul persepsi risiko fiskal yang dinilai turut memberi tekanan terhadap stabilitas rupiah.
Menurut Eric, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele karena dapat berdampak langsung terhadap stabilitas makroekonomi dan daya beli masyarakat.
Ia mengingatkan struktur industri nasional saat ini masih sangat bergantung pada bahan baku impor.
“Ketergantungan impor di sektor kimia, tekstil, elektronik hingga farmasi masih mencapai 70 persen.
Depresiasi rupiah dipastikan akan mendongkrak biaya produksi,” ujarnya.
Eric juga memperingatkan ancaman imported inflation atau inflasi impor yang mulai nyata di depan mata.
Dia mengatakan, ketika biaya bahan baku dan modal melonjak akibat pelemahan rupiah, produsen hanya memiliki dua pilihan sulit, yakni memangkas keuntungan atau menaikkan harga jual kepada konsumen.
“Kita sedang menghadapi ancaman imported inflation yang nyata. Ketika biaya modal dan bahan baku melonjak akibat melemahnya rupiah, produsen dihadapkan pada pilihan sulit: mengikis margin keuntungan atau membebankan biaya tersebut kepada konsumen melalui kenaikan harga,” ujar dia.
Meski demikian, Eric mengapresiasi tujuh langkah yang telah disiapkan Bank Indonesia (BI), termasuk intervensi pasar valuta asing dan pengetatan likuiditas dolar.
Namun, ia menegaskan stabilitas rupiah tidak bisa hanya mengandalkan instrumen moneter semata.
Eric meminta pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan, ikut mengambil langkah fiskal yang lebih agresif untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka pendek.
Salah satu yang didorong yakni pengaktifan mekanisme Bond Stabilization Fund (BSF) secara akuntabel guna meredam gejolak pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Selain itu, Eric mendesak pemerintah segera menggunakan anggaran darurat untuk membantu subsidi logistik dan distribusi pangan, terutama pada komoditas pokok yang harganya mulai melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Ia juga menyoroti adanya anomali harga dalam tata niaga kedelai impor.
Menurut Eric, harga domestik tetap tinggi meskipun harga global sedang turun akibat adanya distorsi rantai pasok dan asimetri informasi di pasar.
Karena itu, ia meminta kementerian terkait bersama lembaga pengawas memperketat pengawasan distribusi impor agar pelaku usaha kecil dan UMKM tidak terus dirugikan.
“Respons kebijakan fiskal kita harus adaptif, cermat, dan terukur. Pemerintah wajib menjaga ruang fiskal yang sehat agar APBN tetap mampu menjadi shock absorber demi mencegah PHK dan pelemahan daya beli masyarakat akibat depresiasi berkepanjangan,” pungkasnya.
1. Prabowo: Selama Purbaya Bisa Senyum, Tenang Aja..
Presiden Prabowo Subianto membuka pernyataannya soal pelemahan rupiah dengan gaya santai saat meresmikan Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
Di depan masyarakat dan tamu undangan, Prabowo menyinggung kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sedang ramai dibahas publik dan pelaku pasar.
Ia kemudian melontarkan candaan dengan menyebut nama Purbaya sambil meminta masyarakat tidak terlalu khawatir terhadap gejolak kurs dolar.
“Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja. Nggak usah takut. Mau dolar berapa ribu kek? Kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar,” kata Prabowo yang langsung disambut tawa hadirin.
Ucapan tersebut menjadi perhatian publik karena disampaikan ketika kurs rupiah sedang menjadi sorotan nasional. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang kerap dianggap sebagai salah satu indikator penting kondisi ekonomi Indonesia karena berkaitan dengan perdagangan internasional, impor, investasi, dan stabilitas pasar keuangan.
2. Prabowo Sebut Warga Desa Tak Terlalu Terdampak Kurs Dolar
Dalam pidatonya, Prabowo menilai masyarakat pedesaan tidak terlalu terdampak langsung oleh naik turunnya dolar Amerika Serikat.
Menurutnya, aktivitas ekonomi masyarakat desa lebih banyak menggunakan rupiah dan bertumpu pada kebutuhan pokok sehari-hari dibanding transaksi internasional.
Saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk pada hari yang sama, Prabowo kembali menyinggung soal rupiah dan dolar sambil mempertanyakan pandangan sebagian pihak yang dinilainya terlalu pesimistis terhadap kondisi ekonomi nasional.
“Sekarang ada yang selalu, entah apa saya enggak mengerti ya. Sebentar-sebentar Indonesia akan collaps, akan keos, akan apa ya kan? Rupiah begini, rupiah begitu apa? dolar begini, dolar. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok. Iya kan?” ujarnya.
Istilah “collapse” yang disebut Prabowo merujuk pada kondisi runtuhnya sistem ekonomi atau situasi krisis berat yang menyebabkan ekonomi suatu negara mengalami gangguan serius.
Pernyataan itu sekaligus menunjukkan pandangan Prabowo bahwa kondisi ekonomi masyarakat akar rumput tidak sepenuhnya bergantung pada fluktuasi pasar keuangan global.
3. Pengusaha dan Pelaku Aktivitas Internasional Disebut Paling Pusing
Meski berbicara dengan nada santai, Prabowo mengakui ada kelompok tertentu yang paling merasakan dampak pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Menurutnya, pihak yang paling terdampak adalah pengusaha dan masyarakat yang memiliki aktivitas internasional, termasuk mereka yang sering bepergian ke luar negeri.
“Yang pusing itu yang suka keluar negeri. Pengusaha lho,” ujar Prabowo sambil bercanda.
Pernyataan tersebut berkaitan dengan kondisi dunia usaha yang banyak menggunakan dolar AS dalam aktivitas perdagangan maupun impor barang.
Ketika dolar menguat terhadap rupiah, biaya impor bahan baku dan kebutuhan industri biasanya ikut meningkat. Situasi itu dapat memengaruhi harga barang, biaya produksi, hingga kondisi bisnis di dalam negeri.
Selain itu, masyarakat yang sering bepergian ke luar negeri juga akan mengeluarkan biaya lebih besar karena nilai tukar rupiah melemah terhadap mata uang asing.
4. Sentil Titiek Soeharto
Dalam kesempatan lain, Prabowo kembali melontarkan candaan ketika membahas masyarakat yang sering bepergian ke luar negeri.
Ia bahkan menyebut nama Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto sambil bercanda soal dampak kenaikan dolar terhadap orang yang gemar melancong ke luar negeri.
“Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa nggak pakai dolar, yang pusing yang itu yang suka ke luar negeri, hayo siapa ini? Mbak Titiek ini pusing ini,” kata Prabowo disambut gelak tawa hadirin.
Tak hanya menyebut Titiek Soeharto, Prabowo juga menyinggung sejumlah nama lain seperti Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, hingga Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie.
Candaan tersebut menjadi salah satu bagian pidato yang ramai dibicarakan publik karena memperlihatkan gaya komunikasi Prabowo yang santai di tengah isu serius mengenai kondisi rupiah dan ekonomi nasional.
5. Prabowo Yakin Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kuat
Di balik candaan soal dolar dan rupiah, Prabowo tetap menegaskan keyakinannya terhadap kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Fundamental ekonomi merupakan kondisi dasar yang menopang perekonomian suatu negara, seperti konsumsi masyarakat, cadangan devisa, produksi pangan, stabilitas energi, hingga tingkat inflasi.
Menurut Prabowo, masyarakat tidak perlu panik menghadapi fluktuasi nilai tukar karena tekanan ekonomi global juga dialami banyak negara lain.
“Percayalah, ekonomi kita kuat. Fundamental kita kuat. Orang mau ngomong apa, ya. Indonesia kuat. Percaya kepada kekuatan kita. Percaya kepada rakyat kita,” tegasnya.
Ia juga menilai ukuran kekuatan ekonomi Indonesia tidak bisa hanya dilihat dari kurs rupiah terhadap dolar AS semata.
Menurut Prabowo, kondisi pangan dan energi nasional yang masih stabil menjadi indikator penting bahwa Indonesia tetap berada dalam situasi aman dibanding sejumlah negara lain yang tengah menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik global.
“Banyak negara panik, Indonesia masih oke,” katanya.
(*/ Tribun-medan.com)
• Daftar Nama 26 Pemain Timnas Jepang di PIala Dunia 2026, Ada Pemain Liverpool dan Bayern Munchen
Sumber: tribunnews.com / Wartakota