Di Depan Komisi III DPR, Mantan ART Erin Taulany Cerita Dipukul hingga Ditendang oleh Majikan
Muhammad Zulfikar May 18, 2026 04:22 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Suasana rapat Komisi III DPR RI hening saat eks asisten rumah tangga (ART), Herawati menceritakan dugaan kekerasan yang dialaminya dari sang majikan, Rien Wartia atau Erin, Senin (18/5/2026).

Dengan suara bergetar dan beberapa kali menahan tangis, Hera mengaku mengalami pemukulan, hinaan, hingga pencekikan karena persoalan pekerjaan rumah.

Baca juga: Kasus Erin Eks Andre Taulany vs ART Hera Sampai ke Senayan, Komisi III DPR Audiensi dengan Korban

Peristiwa itu terjadi pada 28 April 2026 sekitar pukul 15.00 WIB saat Hera sedang membersihkan sofa di lantai dua rumah majikannya yang berada di Bintaro, Tangerang Selatan.

Menurut Hera, sang majikan tiba-tiba marah setelah melihat hordeng kamar anak pertama Erin belum dibuka dan pintu kamar mandi tidak ditutup.

“Dia bilang, ‘Kamu nih tolol, kamu nih bego, kamu kerja nggak pakai otak’,” ujar Hera di hadapan para legislator Komisi III DPR, Senin (18/5/2026).

Tak lama kemudian, Hera dipukul menggunakan sapu lidi yang sedang dipegangnya.

“Dipukul kepala saya bagian belakang satu kali. Habis itu beliau maki-maki lagi, terus mukul lagi yang kedua kali,” katanya.

Hera mengaku sempat memohon agar tidak diperlakukan seperti itu. Namun, Erin justru terus melontarkan hinaan kepadanya.

“Kata dia, ‘Ini rumah mewah, bukan rumah kamu, rumah gembel’,” tutur Hera.

Merasa ketakutan, Hera kemudian mencoba menghubungi pihak yayasan penyalur tenaga kerja untuk meminta dijemput. Dia bahkan memotret sapu yang disebut digunakan untuk memukul dirinya sebagai bukti.

Tak berhenti di situ, Hera juga mengaku kembali mendapat kekerasan saat dipanggil turun ke lantai bawah.

“Ibu Erin nendang kepala saya sampai saya terjengkang,” ucapnya.

Baca juga: Komentar Rieke Diah Pitaloka soal Kasus Erin Eks Andre Taulany vs ART, Singgung Perlindungan Korban

Dalam kesaksiannya, Hera mengaku sempat meminta izin pulang karena tidak kuat menerima perlakuan tersebut. Namun permintaannya ditolak Erin karena belum ada pengganti.

Ponsel Hera pun sempat dirampas Erin dan dibanting ke lantai karena dianggap mengadu kepada pihak yayasan. Namun, karena Hera hafal nomor penyalurnya, dia meminta dua rekannya sesama ART di sana untuk menghubungi.

Baru pada malam hari, pihak yayasan datang menjemput dirinya pada malam hari. Namun, Erin menolak menemui pihak yayasan dan justru meminta satpam mengusir mereka.

“Katanya kalau mau ketemu harus bawa polisi karena dia (Erin) temannya pejabat dan polisi,” ujar Hera.

Pihak yayasan kemudian meminta pendampingan polisi dari Polsek Pesanggrahan untuk menjemput Hera.

Namun saat mengetahui polisi datang, Hera malah kembali mendapat kekerasan dari Erin.

"Dia mukul kepala saya pakai tangan, terus narik baju saya dan mencekik saya sambil bilang jangan teriak,” kata Hera.

Dalam kondisi panik, Hera mengaku berusaha melawan dan berteriak meminta tolong. Dia akhirnya berhasil melepaskan diri saat sudah berada di balkon rumah.

“Saya lari enggak pakai sandal, enggak mikirin HP, enggak mikirin gaji. Yang penting saya selamat,” ucap Hera.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.