Menkeu Purbaya Buka Suara Usai Nilai Rupiah Anjlok: Uang Kita Melemah Tapi Ekonomi Tumbuh Melesat 
Rita Lismini May 18, 2026 06:45 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Akhirnya Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa buka suara setelah pelmik nilai rupiah anjlok bikin geger publik. 

Saat ini pembahasan soal rupiah anjlok sedang menjadi perbincangan hangat di media sosial. 

Terlebih lagi, tanggapan Prabowo soal rupiah anjlok bikin publik geleng-geleng kepala. 

Alih-alih membuat masyarakat tak panik, Presiden Prabowo justru melontarkan kalimat 'orang di desa nggak pakai dollar'. 

Seketika publik meluapkan bentuk amarah mereka di media sosial mereka. 

"Ya, kalimat PEMBODOHAN PUBLIK ini diucapkan dari mulut seorang PRESIDEN. Kaget? Jujur nggak, memangnya berharap apa sih kalian sama orang yang fetishnya ngata-ngatain orang pinter gini?! Dia beneran sebenci itu sama orang pinter. Karena semakin banyak orang pinter, maka semakin susah pula dia bisa “MEMBODOH-BODOHI” rakyatnya,".

"Bener pak, saya didesa gak pake dollar,tpi pke tenaga dan airmata..Upah karet cuma 200rbu/2mggu disaat harga pada naik," 

"Ya Allah pantes selalu gagal jadi presiden karena memang minim literasi," 

Tulis sejumlah netizen di postingan Prabowo soal nilai rupiah anjlok. 

Di sisi lain, kini sebagian masyarakat mulai membandingkan kondisi saat ini dengan krisis moneter 1997-1998 yang pernah mengguncang Indonesia hingga menyebabkan kehancuran ekonomi dan gejolak sosial besar-besaran.

Kekhawatiran itu semakin menguat setelah nilai tukar rupiah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah perdagangan modern.

Pelemahan tersebut turut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah pada perdagangan awal pekan.

Menanggapi situasi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak bisa disamakan dengan krisis 1998.

Ia meminta masyarakat maupun pelaku pasar agar tidak terburu-buru panik melihat pelemahan rupiah yang terjadi.

Purbaya Tegaskan Situasi Saat Ini Berbeda dengan Krisis 1998

Pernyataan itu disampaikan Purbaya saat merespons sentimen negatif pasar yang membuat IHSG dibuka melemah pada perdagangan Senin (18/5/2026).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada sesi preopening turun 94,344 poin atau 1,40 persen ke level 6.628,976.

Menurut Purbaya, kondisi ekonomi nasional saat ini masih berada dalam jalur pertumbuhan sehingga tidak tepat jika langsung dibandingkan dengan situasi krisis 1997-1998 silam.

“Ini kan banyak sentimen (IHSG melemah), kalau rupiah melemah seolah-olah kita akan bergerak seperti 1997-1998 lagi. Beda, 1997-1998 itu kebijakannya salah dan instability sosial politik terjadi setelah setahun kita resesi. 1997 pertengahan itu kita sudah resesi,” kata Purbaya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).

Ia menekankan bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini dinilai masih cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi disebut masih berjalan sehingga pemerintah tetap memiliki ruang untuk melakukan langkah-langkah perbaikan.

“Kita kan sekarang belum resesi, ekonomi masih tumbuh kencang. Jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semuanya,” tegas dia.

Rupiah Sentuh Rekor Terlemah

Meski pemerintah mencoba menenangkan pasar, tekanan terhadap rupiah memang terlihat semakin berat. Berdasarkan data Reuters, Senin (18/5/2026), nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.645 per dollar AS.

Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 1,17 persen dibanding perdagangan sebelumnya sekaligus mencatatkan level intraday terlemah sepanjang sejarah di pasar spot.

Tak hanya itu, sejak awal tahun 2026 atau secara year to date (YTD), rupiah tercatat telah melemah sekitar 5,99 persen terhadap dollar AS.

Jika ditarik lebih jauh sejak Oktober 2024, depresiasi rupiah bahkan telah mencapai sekitar 12 persen. Saat itu, kurs rupiah masih berada di kisaran Rp 15.400 per dollar AS sebelum akhirnya terus merosot hingga kini berada di level Rp 17.600-an.

Sementara berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot kembali terdepresiasi 77 poin ke posisi Rp 17.674 per dollar AS pada pukul 12.17 WIB dalam perdagangan Senin siang.

Purbaya Minta Investor Tak Panik

Di tengah situasi pasar yang penuh tekanan, Purbaya juga mencoba memberikan optimisme kepada investor pasar modal. Ia meminta pelaku pasar tidak diliputi kepanikan berlebihan menghadapi pelemahan IHSG maupun rupiah.

“Kalau saya bilang jangan takut, serok bawah sekarang. Kalau saya lihat teknikalnya, sehari dua hari sudah balik. Jadi jangan lupa beli saham,” tegas dia.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah masih percaya kondisi pasar keuangan Indonesia dapat kembali stabil dalam waktu dekat.

Kilas Balik Krisis 1998

Sebagai perbandingan, pada puncak krisis moneter 1998 lalu, nilai tukar rupiah sempat jatuh hingga menyentuh sekitar Rp 17.000 per dollar AS. Krisis tersebut kemudian berkembang menjadi krisis multidimensi yang mengguncang ekonomi, politik, hingga sosial Indonesia.

Namun dalam masa pemerintahan Presiden ke-3 RI BJ Habibie, rupiah perlahan berhasil dipulihkan hingga kembali berada di kisaran Rp 6.500 per dollar AS dalam waktu sekitar 17 bulan.

Kini, ketika rupiah kembali berada di kisaran angka yang mirip dengan era krisis tersebut, pemerintah berupaya meyakinkan publik bahwa situasi saat ini masih jauh berbeda dan fondasi ekonomi nasional dinilai tetap berada dalam kondisi yang lebih terkendali.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.