Fakta Terkuak! Wali Kota Farhan Bongkar Penyebab Daging Sapi di Bandung Berpotensi Langka dan Mahal
Eri Ariyanto May 19, 2026 03:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketersediaan daging sapi di Kota Bandung, Jawa Barat tengah menjadi sorotan serius setelah muncul peringatan potensi kelangkaan di pasaran.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, akhirnya buka suara dan membeberkan sejumlah faktor yang memicu kondisi tersebut.

Menurutnya, akibat gangguan suplai dan distribusi menjadi salah satu penyebab utama terganggunya pasokan daging.

Selain itu, peningkatan permintaan masyarakat menjelang periode tertentu turut memperparah tekanan terhadap stok yang ada.

Kondisi ini diperburuk oleh naiknya biaya logistik dan pakan ternak yang berdampak pada harga jual di tingkat peternak.

Jika tidak segera diantisipasi, situasi ini dikhawatirkan dapat memicu kenaikan harga secara signifikan di tingkat konsumen.

Pemerintah kota disebut tengah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menjaga stabilitas pasokan daging sapi.

Langkah-langkah intervensi pasar pun mulai disiapkan guna mencegah gejolak harga yang lebih luas.

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena daging sapi merupakan salah satu komoditas utama kebutuhan masyarakat Bandung.

Baca juga: Nasib PKL di Bandung Usai Penertiban, Tak Dapat Kompensasi & Relokasi: Jualan Online Jadi Solusi

Seperti diketahui, Muhammad Farhan mengatakan, komoditas daging sapi segar di Kota Bandung saat ini berpotensi mengalami kelangkaan akibat gangguan suplai dan distribusi.

"Daging sapi saat ini sedang tidak sebanyak biasanya karena ada sebuah hubungan dagang antara pedagang di pasar yang tidak mau menerima harga sapi yang sudah disembelih atau karkas yang terlalu tinggi dari rumah pemotongan hewan," ujar Farhan di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, Senin (18/5/2026).

Tidak hanya di pasar saja, saat ini rumah potong hewan di Kota Bandung pun terpaksa menerima sapi potong impor hidup yang harganya tiba-tiba naik.

"Rumah pemotongan hewan terpaksa menerima sapi dengan harga tinggi karena dari para pengusaha yang menggemukan sapi juga harga sudah sangat naik," jelasnya.

Farhan menjelaskan, selain berpotensi langka, daging sapi segar juga berpotensi terjadi kenaikan harga di pasar.

"Penyebab harga naik itu dua. Satu, bibit sapi impor dari Australia, India dan New Zealand. Dari selandia baru itu memang harganya naik. Demikian juga dengan sebagian pakan ternaknya naik. Nah jadi ini memang akibat berantai yang menyebabkan pedagang itu merasa terlalu berat untuk menjual dengan harga yang diminta oleh para penyuplai daging di Kota Bandung," imbuhnya.

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Nasdem Muhammad Farhan saat memberikan pernyataannya tentang penolakan digitalisasi aksara Jawa oleh lembaga internet dunia, di Bogor, Sabtu (16/1/2021).
MUHAMMAD FARHAN - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. . (Kompas.com)

Farhan menambahkan, suplai daging sapi di Kota Bandung selama ini terlalu bergantung dengan sapi potong impor sehingga harga pasaran akan mengikuti harga impor.

"Daging segar di kota Bandung ini memang harus kita akui hanya 2 persen yang berasal dari pasar lokal terutama dari Nusa Tenggara Timur dan dari Jawa Tengah, Jawa Timur," tuturnya.

Farhan menjelaskan, Pemerintah Kota Bandung akan berupaya untuk mempertahankan suplai dan harga daging sapi tetap stabil di pasaran.

"Pemerintah akan berusaha melakukan pendekatan mulai dari importirnya, para pengusaha penggemukannya, para pengusaha pemotongan hewannya, sampai kepada para pedagang yang ada di pasar tradisional," ucapnya.

Selain itu, salah satu strategi yang akan dilalukan agar stok daging sapi di pasar tidak jadi langka dan naik harga adalah dengan mengimpor daging beku.

"Untuk meng-cover itu semua, kita tentu saja menggunakan jalur lain yaitu kita menggunakan jalur impor daging beku yang juga akan dibuka untuk memenuhi kebutuhan pasar melalui pasar-pasar modern. Jadi kebutuhan daging sapi sebetulnya sih bisa terpenuhi, cuma tinggal masalah selera masyarakat," jelasnya.

Sementara itu, dari informasi yang diterima dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung, harga daging sapi segar di pasaran saat ini berada di kisaran Rp130.000 hingga Rp 160.000 per kilogram sesuai dengan kualitas. 

Pedagang Daging Sapi di Pasar Kosambi Mogok Berjualan, Harga Tembus Rp 160.000 per Kilogram

Kenaikan harga daging sapi menjelang Idul Adha mulai menekan pedagang pasar tradisional di Kota Bandung.

Sejumlah pedagang daging sapi di Pasar Kosambi memilih mogok berjualan sebagai bentuk protes atas lonjakan harga dari rumah potong hewan dan jagal pada Senin (18/5/2026). 

Dari pantauan di lokaksi, deretan lapak daging sapi di Pasar Kosambi tampak kosong. Hampir seluruh pedagang menutup lapaknya.

Aksi mogok ini dipicu kenaikan harga daging sapi. Saat ini, harga daging sapi di Pasar Kosambi telah menembus kisaran Rp 150.000 hingga Rp 160.000 per kilogram.

Dani, salah satu pembeli di Pasar Kosambi, mengaku kecewa karena tidak bisa mendapatkan daging sapi seperti biasanya.

“Enggak ada memang. Saya juga biasa ke sini penuh dengan pedagang daging sapi, tapi sekarang enggak ada,” ujar Dani, Senin (18/5/2026). 

Ia mengatakan, kondisi seperti ini baru pertama kali ia temui menjelang hari besar keagamaan.

“Karena mendekati Idul Adha, tapi biasanya enggak begini. Biasanya tetap ada. Tadi katanya dari rumah potong hewan enggak ada, dari jagalnya juga enggak ada,” katanya.

Dani mengaku terpaksa mencari alternatif ke pasar lain untuk memenuhi kebutuhannya.

“Harapannya ada lah, karena kan ada kebutuhan buat masyarakat,” ujar dia.

Sementara itu, komoditas protein hewani lain seperti ayam potong masih relatif stabil. 

Erwin, pedagang ayam di Pasar Kosambi, mengatakan belum ada lonjakan berarti untuk harga ayam.

“Kalau daging ayam masih relatif normal sih, belum ada kenaikan,” kata Erwin.

Menurut dia, harga ayam saat ini dijual di kisaran Rp 38.000 hingga Rp 40.000 per kilogram, dengan pasokan yang masih lancar.

“Ayam masih dijual antara 38 sampai 40 ribu. Pasokan masih lancar, masih ada,” ujarnya.

Meski demikian, Erwin memperkirakan harga ayam juga berpotensi naik mendekati Idul Adha seperti pola tahunan.

“Tiap mau ada momen tertentu pasti naik, apalagi hari raya. Cuma naiknya belum tahu ke berapa,” kata dia.

Ia juga membenarkan aksi mogok dilakukan pedagang daging sapi karena adanya kenaikan harga sekitar Rp 10.000 per kilogram dari pemasok.

“Katanya sih lagi ada demo karena kenaikan Rp 10.000 per kilo, jadi mereka demo dua hari, hari ini mulai, mungkin sampai besok,” ujar Erwin.

(TribunNewsmaker.com/Eri Ariyanto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.