Renungan Harian Katolik
Rabu, 20 Mei 2026
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
ALASAN MENDASAR DUNIA MENJADI MUSUH ABADI PARA UTUSAN TUHAN
(Kis. 20:28-38; Mzm. 68:29-30.33-35a.35b.36c; Yoh. 17:11b-19)
"Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka, dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia." (Yoh. 17:14)
Kita ada dan hidup dalam dunia. Secara ragawi kita menyatu dengan dunia dan Allah membentuk manusia dari debu tanah.
Meskipun demikian kita tidak harus menggenggam erat dunia ini sebagai milik yang tak dapat dilepaskan. Dunia hanya tempat singgah sementara.
Pada tempat diam sekarang, kita mempersiapkan diri untuk pada waktunya beralih ke tempat kediaman permanen yang Allah telah siapkan bagi orang-orang percaya.
Tempat singgah temporal ini cukup menantang. Bisa menyelamatkan bisa juga membinasakan, sebab ada kejahatan di dalamnya. Peluang pencemaran, perpecahan dan menjauh dari Tuhan dan sesama terbuka lebar bagi siapa pun.
Ancaman terhadap perpecahan yang tak terhindarkan tampak dalam wasiat doa Yesus bagi para pengikutnya, 'Semoga mereka bersatu." Kerinduan terbesar Yesus ialah agar kita hidup dalam persekutuan sebagai orang-orang yang percaya kepada-Nya. Hidup dalam roh cinta kasih: merasa senasib dan sepenanggungan. Setia pada Injil dan Tuhan sebagai pusat kebersamaan kita.
Yesus berdoa supaya Bapa melindungi kita dari yang jahat yaitu bahaya perpecahan permanen dengan Allah dan Yesus. Jaminan keselamatan ada dalam persatuan utuh dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus.
Dunia menjadi musuh abadi para para murid karena Firman Allah yang Yesus berikan kepadanya. Dunia yang tersesat dalam kecemaran justru dikuduskan dalam Firman karena kebenaran. Dunia butuh pewartaan Injil, maka Yesus memanggil para murid dan mengutus mereka ke tengah dunia.
Apapun alasannya, dunia adalah tempat perutusan yang mesti dijelajahi. Ia ladang misi yang menanti untuk dijamah dan jangkau.
Oleh Firman Allah, para utusan setia menjadi saksi Tuhan di dalam dunia. Hanya dalam Firman Allah kita dikuduskan, dan dikuatkan untuk bersakti tentang Tuhan yang menyelamatkan semua orang.
Ketika tinggal bersama sebagai insan-insan beriman, maka dunia menjadi tempat tinggal yang menyenangkan bagi setiap penghuninya. Dalam kebersamaan sebagai saudara terjalinlah hidup rukun, saling menaruh cinta kasih, gembira dan percaya serta saling meneguhkan.
Santo Paulus menasihati para pemimpin umat di Efesus untuk hati- hati dan waspada terhadap bahaya perpecahan.
Pemecah belah Paulus sebut sebagai singa-singa ganas yang datang untuk memecah-belah dengan ajaran palsu yang menyesatkan. Menggembalakan umat bukanlah perkara yang ringan.
Kerentanan terhadap perpecahan diantisipasi dengan kewaspadaan, kerendahan hati dan keberanian karena kebenaran Firman Tuhan. Kekuatan Tuhan sangat dibutuhkan dalam tugas kegembalaan ini.
Pemazmaur menanggapi dalam madahnya, "Kerahkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, tunjukkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, Engkau yang telah bertindak bagi kami. Demi bait-Mu di Yerusalem raja-raja menyampaikan persembahan kepada-Mu." (Mzm. 68:29-30).
Setia pada Injil dan Tuhan sumber utama kekuatan persekutuan kita.
Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Rabu/Pekan VII Paskah/A/II, 200526)