Nama Jalan di Kota Gorontalo Berubah Lagi, Terbaru Jl Jaksa Agung Suprapto Diganti BJ Habibie
Fadri Kidjab May 20, 2026 05:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Nama Presiden ke-3 Republik Indonesia, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, kini resmi diabadikan sebagai nama salah satu ruas jalan protokol di pusat Kota Gorontalo. 

Langkah monumental ini diambil Pemerintah Kota Gorontalo sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap kontribusi besar sang "Bapak Teknologi Indonesia" yang memiliki ikatan historis yang sangat kuat dengan bumi Serambi Madinah.

Peresmian nama jalan baru tersebut dilakukan dalam momentum yang sangat sakral, yakni bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 tingkat Kota Gorontalo pada Rabu (20/5/2026). 
Penetapan ini diharapkan mampu menyuntikkan semangat perjuangan dan inovasi serta keteladanan BJ Habibie kepada seluruh generasi muda di Provinsi Gorontalo.

Sebelumnya, ruas jalan yang kini menyandang nama Jalan BJ Habibie tersebut dikenal luas oleh masyarakat setempat dengan nama Jalan Jaksa Agung Suprapto. Jalur ini merupakan salah satu urat nadi perekonomian, pendidikan, dan pusat aktivitas publik yang sangat strategis dan padat kendaraan di wilayah ibu kota provinsi.

Secara geografis, titik lokasi Jalan BJ Habibie ini membentang cukup panjang di pusat kota, dimulai dari kawasan simpang Jalan Jenderal Sudirman hingga menembus jalur utama Jalan HB Jassin. Berdasarkan data teknis tata ruang, panjang lintasan jalan yang mengalami perubahan nama ini mencapai kurang lebih 1 kilometer (km).

Kawasan di sepanjang Jalan BJ Habibie ini dikenal sangat hidup dan bernilai strategis karena di sana berdiri berbagai fasilitas pendidikan publik yang penting. 

Di antaranya adalah dua sekolah menengah pertama negeri yang memiliki sejarah panjang dan mencetak banyak alumni berprestasi, yaitu SMP Negeri 1 Gorontalo dan SMP Negeri 6 Kota Gorontalo.

Selain lembaga pendidikan tingkat menengah, di ruas jalan ini juga berdiri megah kampus Universitas Bina Taruna (Unbita) Gorontalo. Keberadaan kampus ini memperkuat status Jalan BJ Habibie sebagai kawasan pendidikan terpadu yang setiap harinya ramai oleh aktivitas dinamis para mahasiswa, dosen, dan civitas akademika.

Tak hanya menjadi pusat perputaran roda pendidikan, Jalan BJ Habibie juga menjadi rumah bagi industri kreatif dan media massa lokal. 

Salah satunya adalah kantor media digital TribunGorontalo.com yang aktif mengabarkan informasi pembangunan daerah, turut berlokasi tepat di sepanjang jalur protokol yang strategis ini.

Titik lokasi ini kian penting karena berbatasan langsung dengan Taman Kota Gorontalo. 

Taman tersebut merupakan ruang terbuka hijau (RTH) utama di pusat kota yang berfungsi sebagai cadangan oksigen esensial, sekaligus tempat interaksi sosial bagi sekitar 200-an ribu jiwa penduduk yang mendiami ibu kota Provinsi Gorontalo.

Sebelum digantikan oleh nama BJ Habibie, nama jalan ini didedikasikan untuk Soeprapto, tokoh hukum terkemuka yang pernah menjabat sebagai Jaksa Agung Republik Indonesia pada era tahun 1950-an. 

Beliau dikenal luas sebagai figur penegak hukum yang sangat tegas, berintegritas tinggi, dan independen dalam menjalankan keadilan.

Meskipun kini namanya di tataran lokal disesuaikan, jasa besar Jaksa Agung Suprapto tetap melekat erat dalam sejarah hukum nasional dan namanya masih banyak diabadikan di berbagai kota lain di Indonesia. 

Pergantian nama ini di tingkat daerah murni dilakukan untuk memberikan ruang bagi penokohan figur yang memiliki kedekatan emosional dan historis yang mendalam dengan masyarakat Gorontalo.

2 Ruas Jalan Protokol Lain di Pusat Kota

MAPS -- Jl Wolter Monginsidi, jalan yang resmi berganti nama jadi Jl Ajoeba Wartabone, Rabu (20/5/2026).
JALANAN GORONTALO -- Jl Wolter Monginsidi, jalan yang resmi berganti nama jadi Jl Ajoeba Wartabone, Rabu (20/5/2026). (Google Maps)

Selain Jalan BJ Habibie, Pemerintah Kota Gorontalo dalam kesempatan yang sama juga meresmikan perubahan nama pada dua ruas jalan utama lainnya.

Langkah ini menjadi bagian dari penataan kembali nomenklatur tata ruang kota agar lebih mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal serta menghargai jasa para pahlawan daerah yang telah berjuang.

Ruas jalan kedua yang mengalami transformasi nomenklatur adalah Jalan Robert Wolter Monginsidi yang kini resmi berganti nama menjadi Jalan Ajoeba Wartabone.

Langkah ini diambil untuk memberikan porsi penghormatan yang lebih besar kepada tokoh pergerakan lokal yang memiliki rekam jejak emas dalam kemerdekaan.

Sebelumnya, nama jalan tersebut digunakan untuk mengenang Robert Wolter Monginsidi, seorang pejuang kemerdekaan pemberani asal Sulawesi Utara yang gugur di tangan penjajah dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah pusat pada tahun 1973 silam.

Kini, nama ruas jalan tersebut dialihkan kepada sosok Ajoeba Wartabone, yang tidak lain merupakan kakak kandung dari Pahlawan Nasional asal Gorontalo, Nani Wartabone. Ajoeba Wartabone dikenal luas sebagai seorang jurnalis senior yang tajam, intelektual visioner, sekaligus pejuang kemerdekaan yang gigih.

Ajoeba Wartabone sangat melekat di ingatan kolektif masyarakat berkat seruan patriotiknya yang sangat legendaris, yaitu “Sekali ke Djokja, Tetap ke Djokja”.

Seruan ini menjadi simbol kokohnya komitmen masyarakat Gorontalo dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di masa-masa krusial revolusi fisik.

Secara administratif dan geografis, Jalan Ajoeba Wartabone ini membentang luas di wilayah Kelurahan Tenda, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo. Jalur ini merupakan salah satu kawasan paling ikonik karena di sepanjang jalan ini berdiri Alun-alun Kota Gorontalo atau yang akrab disebut Lapangan Taruna Remaja.

Di sepanjang jalur Jalan Ajoeba Wartabone ini juga berdiri sejumlah tempat ibadah bersejarah berupa gereja-gereja tua, serta Markas Kepolisian Resor Kota (Polresta) Gorontalo Kota.

Jalur ini memegang peranan krusial sebagai akses utama kedua yang menghubungkan pusat aktivitas masyarakat menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Gorontalo.

Sementara itu, perubahan nama jalan yang ketiga menyasar pada Jalan Palma. Ruas jalan yang mulanya menggunakan nama flora tersebut kini resmi diubah dan diabadikan menjadi Jalan Dr. Zainal Umar Sidiki, sebuah nama yang sangat dihormati dalam dunia kedokteran dan politik lokal.

Baca juga: Hadiri Peresmian Jembatan Ulapato, Bupati Gorontalo Sofyan Puhi Harapkan Peningkatan Ekonomi Lokal

Penghormatan Momentum Harkitnas

Dr Zainal Umar Sidiki merupakan sosok pelopor yang tercatat dalam sejarah sebagai dokter pertama asli putra daerah Gorontalo. Selain dedikasinya yang sangat tinggi di bidang kesehatan masyarakat, beliau juga merupakan politisi ulung yang dipercaya rakyat menjadi anggota DPR RI selama tiga periode berturut-turut.

Prosesi peresmian ketiga nama jalan baru, termasuk Jalan BJ Habibie ini, dilaksanakan dengan khidmat di depan Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Gorontalo. Acara tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti resmi serta pembukaan tirai papan nama jalan baru secara simbolis.

Kegiatan bersejarah ini dipimpin langsung oleh tokoh senior sekaligus mantan Wali Kota, Adhan Dambea.

Kehadirannya memberikan bobot tersendiri pada acara peresmian tersebut, yang turut disaksikan oleh jajaran pejabat forkopimda, tokoh adat, akademisi, serta elemen masyarakat setempat yang menyambut positif kebijakan ini.

Pemilihan momentum Hari Kebangkitan Nasional ke-118 dinilai sangat tepat oleh berbagai pihak. Harkitnas bukan sekadar perayaan seremonial tahunan, melainkan sebuah refleksi besar bagi daerah untuk membangkitkan kembali memori kolektif atas jasa para pemikir dan pejuang bangsa.

Dengan hadirnya Jalan BJ Habibie dan dua nama tokoh daerah lainnya di pusat kota, Pemerintah Kota Gorontalo berharap nilai-nilai integritas, kecerdasan, dan patriotisme yang dimiliki para tokoh tersebut dapat terus mengalir dalam kehidupan sehari-hari warga.

Kini, masyarakat yang melintasi kawasan simpang Sudirman hingga HB Jassin tidak lagi menyebut jalur tersebut sebagai Jalan Jaksa Agung Suprapto, melainkan Jalan BJ Habibie. Perubahan ini juga diikuti dengan penyesuaian data administrasi kependudukan dan pemetaan digital agar memudahkan sistem navigasi di masa mendatang.

Melalui restrukturisasi identitas tata ruang ini, wajah Kota Gorontalo kini tampil dengan narasi sejarah yang lebih kuat, sekaligus menjadi media edukasi visual yang hidup bagi setiap orang yang menyusuri sudut-sudut jalanannya. 

Perubahan Nama Jalan Kota Gorontalo

Sebelumnya, Pemerintah Kota Gorontalo telah mengubah sejumlah nama jalan, antara lain sebagai berikut:

Jl. Laks. Martadinata ke Jl. R. Atje Slamet

Jl. Merdeka menjadi Jl. Taki Niode

Jl. Sam Ratulangi menjadi Jl. Letkol Drs. Jusuf Bilondatu

Jl. Beringin menjadi Jl. Prof. Dr. H. Hasan Abas Nusi

Jl. Raden Saleh menjadi Jl. Drs. Achmad Nadjamuddin

JL Pangeran Hidayat menjadi Jl. Ir. H. Joesoef Dalie

Jl. Tondano menjadi Jl. Drs. H. Achmad Arbie D

Jl. Kasuari menjadi Jl. Dr. H. Medi Botutihe

Jl Gunung Lompo Battang menjadi Jl. H. A.R Koniyo

Jl Teuku Umar menjadi Jl. H. Yusuf Polapa 

- Jl DI Panjaitan menjadi Jl Nani Wartabone

- Jl Andalas menjadi Jalan Jhon Aryo Katili

- Jl Taman Ria menjadi Jalan Prof Lafran Pane

- Jl Raden Saleh menjadi Jalan Ahmad Nadjamuddin

- Jl Samratulangi menjadi Jalan Letkol Yusuf Bilondatu

- Jl Agus Salim menjadi HB Jassin

 

(TribunGorontalo.com/*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.