4 Bulan Warga Lampung Tengah Bertaruh Nyawa Lintasi Sungai Buntut Jembatan Putus
Noval Andriansyah May 20, 2026 11:19 PM

Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Empat bulan terakhir menjadi masa penuh kecemasan bagi warga Kampung Tanjung Ratu, Kecamatan Way Pengubuan, Kabupaten Lampung Tengah.

Putusnya jembatan utama penghubung wilayah membuat aktivitas harian warga berubah menjadi perjuangan yang mempertaruhkan keselamatan.

Rasa frustrasi itu akhirnya memuncak saat puluhan warga, mulai dari emak-emak, tokoh masyarakat hingga para pelajar, turun menggelar aksi protes pada Rabu (20/5/2026).

Mereka membawa poster tuntutan sambil menyuarakan penderitaan akibat jembatan yang tak kunjung diperbaiki pemerintah.

Bagi warga, jembatan sepanjang lebih dari 50 meter yang melintasi Sungai Way Pengubuan bukan sekadar akses biasa. Jalur itu selama ini menjadi penghubung utama menuju sekolah, pasar hingga pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Baca juga: Jembatan Putus 4 Bulan, Warga Lampung Tengah Protes Akses Lumpuh Total

Kini setelah jembatan putus, warga dipaksa memilih antara memutar jauh atau menghadapi risiko maut demi bisa menyeberang.

“Pilihannya memutar 40 kilometer atau bertaruh nyawa. Sungai Way Pengubuan yang dalam dan lebar membuat warga tidak punya pilihan aman untuk menyeberang,” ujar seorang warga bernama Sopian dengan nada getir.

Jika mengambil jalur aman, warga harus melewati rute memutar melalui Kampung Pocoti, Cending hingga Puji Rahayu dengan jarak mencapai sekitar 40 kilometer. Padahal saat jembatan masih berfungsi, perjalanan hanya memakan jarak sekitar 1,5 kilometer.

Kondisi itu membuat beban hidup warga semakin berat. Orang tua harus mengeluarkan biaya transportasi lebih besar agar anak-anak mereka tetap bisa bersekolah tanpa mempertaruhkan keselamatan.

Namun tidak semua warga mampu menanggung ongkos tambahan tersebut. Akibatnya, sebagian warga dan pelajar tetap nekat melintasi sisa jembatan rusak dengan cara bergelantungan pada tali besi di atas aliran sungai yang deras dan dalam.

Pemandangan itu kini menjadi keseharian yang memilukan di Way Pengubuan. Anak-anak sekolah harus menahan takut setiap kali menyeberang demi bisa mengikuti pelajaran di sekolah.

Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan sebelum jatuh korban jiwa.

Mereka menilai keterlambatan perbaikan jembatan telah membuat masyarakat kecil terus hidup dalam ancaman bahaya setiap hari.

Sukarela Bantu Seberangkan Pelajar

Melihat kondisi tersebut, sejumlah warga sekitar akhirnya berinisiatif membantu. Mereka secara sukarela berjaga di lokasi jembatan pada jam berangkat dan pulang sekolah untuk memastikan anak-anak tidak terjatuh ke sungai.

Warga turut membantu memegangi dan menuntun para pelajar saat melintasi puing-puing jembatan.

Hal serupa dilakukan saat jam pulang sekolah, ketika mereka kembali membantu penyeberangan anak-anak hingga tiba di rumah masing-masing.

“Beruntung ada warga yang rumahnya dekat sini ikut membantu mereka menyeberang,” kata Sopian.

Senada dengan itu, Ermalina, seorang ibu rumah tangga yang ikut dalam aksi protes, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya.

“Kesal! Kalau dibilang kesal, sudah tidak bisa diungkapkan lagi. Kesal sekali, sangat kesal!” ujarnya.

Ia pun menyampaikan desakan kepada Bupati Lampung Tengah agar segera mengambil langkah nyata sebelum jatuh korban jiwa.

“Pesan untuk Bupati Lampung Tengah, mohon bantuannya agar jembatan kami bisa kembali pulih seperti semula. Anak-anak harus sekolah, warga juga harus bekerja, sementara jalur utama kami rusak seperti ini,” pungkasnya lirih.

(Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.