TRIBUNSUMSEL.COM -- Mantan Menko Polhukam Mahfud MD ikut angkat bicara mengenai respons Presiden Prabowo Subianto terkait melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS.
Mahfud menilai, pernyataan presiden yang menganalogikan dampak dolar tidak sampai ke pedesaan justru memicu polemik dan respons negatif yang dinilainya sangat kasar dari masyarakat.
"Nah, yang kedua saya galau tadi kenapa menurut saya dari keseluruhan statement Presiden Prabowo selama menjadi presiden ini yang paling banyak menimbulkan olok-olok."
"Yang soal dolar itu. Mulai dari nenek-nenek, kakek-kakek, muda, putra putri ,di sosial media muncul terus gitu, diolok-olok betul presiden kita ini."
"Maaf kasar sekali olok-oloknya itu," kata Mahfud dalam Podcast 'Terus Terang' di kanal YouTube Mahfud MD Official, Selasa (19/5/2026).
Mahfud lantas berpendapat, pernyataan Prabowo yang menyebut orang desa tak memakai dolar ini mungkin saja keliru.
Karena pada dasarnya Indonesia masih berurusan dengan dolar, terutama untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.
"Menurut saya memang ya keliru kali ya mengatakan orang desa kan enggak pakai dolar. Kita negara ini pinjam uang setiap hari kan berurusan dengan dolar. Iya kan itu kan akibatnya ke harga-harga seperti tadi, impor pangan kita juga membayarnya dengan dolar dan segala macam."
"Pinjam ke luar negeri juga pakai dolar. Kalau pakai dolar kan di desa-desa, mungkin orang secara langsung, makan dari berasnya sendiri sayurnya sendiri. Tapi masa cuma itu kebutuhan orang, ekonomi kan bukan itu saja menurut saya," jelas Mahfud.
Lebih lanjut Mahfud pun merasa Prabowo harus diberi tahu lagi untuk menjaga pernyataannya agar tidak menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
"Kesalahan itu bukan hanya ahli ekonomi yang bisa nyatakan salah gitu dan olok-oloknya menjadi enggak enak. Kita sebagai anak bangsa ya, Presiden kita kok dibegitukan oleh orang-orang kita sendiri, yang kadang kala mungkin entah siapa dia."
"Tapi ini menurut saya yang paling banyak menimbulkan olok-olok keras, tapi juga ledekannya yang merendahkan. Kalau keras itu kan okelah gitu tapi ledekannya yang merendahkan, kemudian secara sosial perasaan itu bisa berdampak negatif ya," ungkap Mahfud.
(*)