Nasionalisme Pisang “Epek”
Abdul Azis Alimuddin May 21, 2026 12:07 AM

Oleh: Muh. Iqbal Latief
Dosen Sosiologi/Kapus Opini Publik LPPM UH

TRIBUN-TIMUR.COM - Seremoni Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) tahun ini, merupakan peringatan yang ke-118 tahun.

Setiap 20 Mei, bangsa ini akan berkumpul di lapangan dan berupacara memperingati Harkitnas.

Tapi, hanya sebatas itukah?

Bagaimana dengan nasionalisme bangsa saat ini, masih kokoh atau sudah mengalami pergeseran?

Sekarang ini, siapa yang perlu menjaga dan mempelopori agar nasionalisme bangsa, tidak goyah oleh perubahan zaman?

Apakah para pemimpin di negara yang berpenduduk lebih kurang 280 juta jiwa, masih memperlihatkan nasionalisme yang membara atau sudah melempem?

Tanya ini, memang harus dimunculkan pada setiap momentum peringatan Harkitnas.

Beragam realitas sosial di negara ini, seakan ingin menyatakan bahwa “nasionalisme” kita rada tidak baik baik saja alias mulai mengalami ketergerusan nilai.

Semangat persatuan, kesatuan dan kesadaran untuk berjuang pada satu bangsa yang berdaulat sebagai esensi nasionalisme, makin menjadi pertanyaan serius.

Apalagi jika dikaitkan dengan realitas generasi muda bangsa saat ini yang dikenal dengan istilah generasi Z atau Gen-Z, maka nasionalisme bangsa makin disorot.

Adanya hastag “kabur aja dulu” atau “Indonesia Gelap”, ini adalah fenomena sosiologis yang tidak bisa diabaikan sebagai wujud dari kecenderungan perilaku sosial anak muda sekarang.

Itulah sebabnya tema Harkitnas tahun ini, adalah “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”.

Maknanya, pemimpin bangsa harus menjaga perilaku generasi muda untuk tetap bersatu dan menjaga kedaulatan negaranya agar tidak dimangsa oleh negara lain apalagi ditengah persaingan global saat ini.

Tapi, bagaimana menumbuhkan semangat nasionalisme yang tinggi di kalangan Gen-Z?

Teman saya secara berkelakar menyatakan bahwa contoh nasionalisme (pengorbanan) yang paripurna adalah nasionalisme “Pisang Epek”.

“Lihat saja itu pisang “epek” (pisang jepit), semangat berkorbannya luar biasa.

Bayangkan, awalnya dikuliti, kemudian dibakar – setelah itu digeprek (dijepit) sampai melebar dan terakhir dicemplungkan dan disiram gula merah yang panas.

Tapi pisang epek itu, tidak merana dan hancur sia-sia.

Malah masih memberikan kenikmatan yang luar biasa, bagi yang mencicipinya (pisang epek).

Artinya, perjuangan model pisang “epek” inilah yang harus menginspirasi Gen-Z untuk menjaga kedaulatan Negaranya “, ungkap teman saya yang ahli membuat amsal (perumpamaan).

Yah, pisang “epek” bisa menjadi makna simbolik dari nasionalisme yang harus diinjeksi pada fikiran, sikap dan tindakan anak-anak muda saat ini.

Agar mereka, mampu membangun perilaku rela berkorban untuk negeri tercinta.

Tapi ada syaratnya, yaitu harus ada contoh atau keteladanan dari para pemimpin dan generasi sebelumnya.

Kalau tidak ada? Itulah masalah -- kita semua tidak ingin Gen-Z hanya memproduksi hastag pesimis dibanding yang optimis.

Selamat Harkitnas, selamat buat para Gen-Z negeri ini, tetaplah optimis.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.