Donald Trump Semakin Pusing
Abdul Azis Alimuddin May 21, 2026 12:07 AM

Oleh: Amir Muhiddin
Wakil Ketua Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS) Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - Perang Amerika Serikat (AS) bersama sekutunya Israel melawan Iran, kini sudah berlangsung dua bulan lebih dan nyaris belum ada titik temu kedua belah pihak untuk berdamai, malah kelihatan eskalasi peperangan, terutama di selat Hormuz semakin meluas dan memanas, selain kedua belah pihak sudah saling serang kembali sesudah gencatan senjata sepihak oleh AS, juga keduanya saling melontarkan pernyataan dengan narasi provokatif, menyerang bahkan saling mengolok-olok.

Proposal damai yang ditawarkan oleh Iran bukannnya dipertimbangkan, malah dianggap sebagai sampah dan sama sekali tidak dapat diterima (unacceptable).

Trump bahkan melabeli proposal damai Iran sebagai usulan yang “bodoh” dan dinilai tidak sesuai dengan syarat awal yang diajukan Washington.

Seperti diketahui bahwa Iran mengajukan “proposal balasan 5 poin” yang mengharuskan AS menghentikan perang secara total di seluruh kawasan Timur Tengah.

Poin ini mencakup penghentian agresi militer AS-Israel, pencabutan sanksi ekonomi, pembebasan blokade laut, ganti rugi perang, serta pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

Sementara itu Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dan tim keamanan nasional Washington menyatakan menolak skema kontrol Selat Hormuz oleh Iran dan AS tetap menuntut syarat utama berupa penghentian total program nuklir, pembatasan rudal, serta jaminan kebebasan navigasi internasional di Teluk Persia sebelum blokade ekonomi dicabut.

Saling tolak proposal antara AS dan Iran menandai bahwa negosiasi perdamaian yang diprakarsai Pakistan mengalami kebuntuan, kedua belah pihak enggan menurunkan ego.

Tapi dari pihak Iran sendiri menyebut bahwa solusi perdamain AS Iran memang sulit tercapai karena terhambat oleh keinginan AS yang memaksa Iran untuk menghilangkan sama sekali potensi nuklir sampai pada titik nol, termasuk pengayaan uranium untuk kepentingan non militer, seperti pembangkit tenaga listrik dan sebagainya.

Donald Trump kini semakin pusing memikirkan kebijakan seperti apa lagi yang harus dilakukan untuk menundukkan Iran, berbagai cara telah dilakukan, misalnya telah menyerang Iran pertama kalai pada 2 Februari 2026 yang kemudian membunuh Pempin Iran Ayatollah Ali Khamenei, lalu menyerang secara bertubi-tubi berbagai pangkalan militer dan tempat-tempat strategis termasuk kilang-kilang minyak, membujuk dan menggertak dengan berbagai cara, semuanya gagal, bahkan kelihatannya Iran semakin kokoh, baik dalam bidang persenjataan maupun dukungan dari rakyatnya.

Seperti diketahui bahwa Rakyat Iran yang setiap saat berkumpul dan melakukan demonstrasi untuk mendukung pemerintahnya melawan AS, memberi semangat yang luar biasa bagi rezim Ayatollah untuk tetap melawan, bahkan Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC tidak pernah abai sedetikpun melihat pergerakan musuh yang sewaktu-waktu akan menyerang.

Misil balestik Iran, tank, drone dan semangat jihat IRGC tetap siaga penuh yang menandai bahwa Iran tidak akan tunduk kepada AS, sekali pun itu harus dibayar dengan nyawa yang dinilai jihat dan suhadah.

Beberapa hari lalu pemerintah Iran memamerkan lagi berbagai persenjataan baru dan beberapa hari kemudian melakukan latihan perang di sekitar pesisir Selat Hormuz yang nenandai bahwa Iran siap melayani AS jika ingin memaksakan kehendaknya.

Ini artinya Iran siap perang, termasuk perang jangka panjang.

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bahkan langsung menginstruksikan jajaran militer untuk siaga tempur tinggi dan bersiap menghadapi konfrontasi militer jangka panjang jika diplomasi gagal.

Para pengamat militer mengakui bahwa Iran sangat cerdik dalam berperang dan dalam mempertahankan diri, malah kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut kalau AS kalah strategi dan dipermalukan oleh Iran.

Ia menilai bahwa Iran lebih unggul dalam taktik dan negosiasi dan membuat AS terjebak.

Bukan hanya itu, mayoriotas rakyat AS pun menyarankan agar AS mundur saja dari konflik di Iran, demikian juga masyarakat internasional bersuara bulat agar AS menarik diri dari Iran, masalahnya, konflik ini sudah menciptakan keresahan global akibat kelangkaan minyak, pupuk, tekanan inflasi dan krisis pangan dunia.

Sulit untuk menyebut AS sedang mengalami “kekalahan” secara militer, namun mereka kini berada dalam posisi kebuntuan strategis yang memaksa dilakukannya perubahan taktik secara mendadak.

Itu sebabnya pada tanggal 6 Mei 2026 Presiden Donald Trump secara resmi telah mengumumkan penghentian sementara “Operation Freedom Project”.

Langkah ini diambil bukan karena kekalahan di medan tempur, melainkan sebagai upaya untuk memberi ruang bagi negosiasi diplomatik guna mencapai kesepakatan final dengan Iran.

Pemimpin Iran mengeklaim AS menderita “kekalahan memalukan” karena gagal membuka paksa selat tersebut hanya dengan kekuatan militer tanpa melalui kompromi politik.

Karena operasi serangan utama (Operation Epic Fury) dianggap telah selesai namun belum mencapai tujuan pembebasan navigasi sepenuhnya.

Hingga kini Selat Hormuz masih dalam kendali militer Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC yang kemudian memicu terjadinya kemacetan pelayaran global akibat penutupan jalur strategis tersebut.

Ketegangan ini dipicu oleh berlanjutnya blockade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Saling blokade ini membuat Ratusan kapal tanker dan kargo tertahan di sekitar selat untuk mengantre izin transit dari otoritas Iran.

Proses pemulihan lalu lintas pelayaran diperkirakan memakan waktu sangat lama.

Gangguan yang telah berlangsung selama lebih dari 70 hari ini menguras pasokan minyak dunia hingga 1 miliar barel.

Akibatnya, harga minyak mentah Brent melonjak hingga menembus US$101 per barel.

Singapur memperingatkan bahwa krisis energi berkepanjangan ini dapat memicu stagflasi ekonomi yang lebih parah dibanding krisis tahun 1970-an.

Kita berdoa, mudah-mudahan perdamaian akan segera terwujud sehingga kita semua terhindar dari malapetaka dan penderitaan yang amat panjang ini. Semoga.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.