Dolar di Dapur dan Desa
Abdul Azis Alimuddin May 21, 2026 12:07 AM

Oleh: Fahmi Prayoga
Economist, Public Policy Analyst, and Researcher of SmartID

TRIBUN-TIMUR.COM - Dolar Amerika Serikat mungkin tidak pernah hadir secara fisik di dapur rumah tangga desa.

Ia tidak dipakai untuk membeli beras, minyak goreng, telur, gula, cabai, atau ikan.

Di pasar tradisional, kios pupuk, warung sembako, hingga tempat pelelangan ikan, transaksi sehari-hari tetap berlangsung dalam rupiah.

Namun, ekonomi tidak hanya bekerja melalui apa yang tampak di permukaan.

Ia juga bekerja melalui struktur biaya, rantai pasok, ekspektasi, dan keterhubungan antarpasar.

Dolar dapat tidak hadir sebagai alat pembayaran, tetapi tetap bekerja sebagai penentu biaya.

Ia tidak masuk ke dompet rakyat, tetapi dapat masuk ke harga barang yang dibayar rakyat.

Karena itu, menyatakan bahwa masyarakat desa tidak terdampak dolar hanya karena tidak menggunakan dolar adalah kesimpulan yang terlalu sederhana.

Pernyataan itu mungkin benar secara transaksional, tetapi tidak memadai secara ekonomi.

Dalam ekonomi terbuka, yang menentukan bukan hanya mata uang apa yang dipakai untuk membayar, melainkan mata uang apa yang membentuk harga.

Rantai Biaya

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, hubungan ini dapat dibaca dengan cukup konkret.

Petani di Sidrap, Bone, Wajo, atau Enrekang membutuhkan pupuk, pestisida, alat pertanian, dan biaya angkut.

Nelayan di Pangkep, Bulukumba, Sinjai, atau Takalar membutuhkan BBM, es, mesin kapal, dan perlengkapan melaut.

Peternak membutuhkan pakan dan obat-obatan.

Sebagian dari kebutuhan itu terhubung, langsung atau tidak langsung, dengan harga internasional.

Pupuk memiliki komponen impor. Pakan ternak dipengaruhi bahan baku global.

BBM dan energi terkait dengan pasar dunia.

Mesin, suku cadang, plastik kemasan, dan barang antara lainnya juga tidak sepenuhnya bebas dari pengaruh nilai tukar.

Ketika rupiah melemah, dampaknya memang tidak selalu datang seketika.

Harga tidak otomatis berubah pada hari yang sama.

Pedagang masih dapat memakai stok lama.

Distributor mungkin menunda penyesuaian harga.

Produsen bisa menahan margin keuntungan untuk sementara.

Tetapi jika tekanan berlangsung cukup lama, biaya itu akan mencari jalan keluar.

Biasanya, jalan keluarnya adalah harga akhir.

Transmisi ke Dapur

Dalam ekonomi, mekanisme ini dikenal sebagai exchange-rate pass-through, yakni proses ketika perubahan nilai tukar diteruskan ke harga domestik.

Besarnya dampak berbeda antarbarang dan antarsektor.

Ia bergantung pada kandungan impor, struktur pasar, kekuatan distributor, elastisitas permintaan, dan kemampuan produsen menyerap kenaikan biaya.

Dapur rumah tangga adalah tempat transmisi itu akhirnya terbaca.

Ketika minyak goreng naik, ibu rumah tangga menghitung ulang belanja harian.

Ketika pakan lebih mahal, peternak kecil menimbang ulang biaya produksi.

Ketika pupuk naik, petani menghadapi pilihan sulit: mengurangi pemakaian pupuk, menunda tanam, atau menerima margin yang semakin tipis.

Dengan demikian, kurs bukan sekadar angka yang bergerak di layar bank.

Ia adalah harga relatif yang menghubungkan ekonomi domestik dengan dunia luar.

Ia memengaruhi ongkos produksi, biaya distribusi, dan daya beli.

Dolar mungkin jauh dari desa, tetapi efeknya dapat sampai ke desa melalui barang yang dibeli dan biaya yang ditanggung.

Keadilan Beban Ekonomi

Persoalan kurs juga bukan semata persoalan teknis moneter.

Ia menyangkut distribusi beban ekonomi.

Kelompok berpendapatan tinggi memiliki lebih banyak ruang untuk menyesuaikan diri.

Perusahaan besar bisa melakukan lindung nilai, mengatur ulang kontrak, atau mengalihkan sebagian biaya kepada konsumen.

Sebaliknya, rumah tangga miskin dan rentan memiliki pilihan yang jauh lebih terbatas.

Mereka tidak memiliki portofolio valas, tabungan besar, atau instrumen perlindungan risiko.

Pendapatan mereka sering kali tetap, bahkan tidak pasti, sementara harga barang kebutuhan pokok bergerak mengikuti tekanan biaya.

Di titik inilah pelemahan rupiah dapat berubah dari persoalan makro menjadi persoalan keseharian.

Ia tidak lagi hanya dibahas di ruang rapat bank sentral atau laporan pasar keuangan.

Ia hadir dalam keputusan rumah tangga: mengurangi lauk, menunda pembelian, menekan konsumsi, atau mencari tambahan pendapatan.

Desa sebagai Bantalan

Meski demikian, desa tidak boleh hanya dipandang sebagai korban.

Desa memiliki sumber daya tahan yang sering tidak dimiliki kota.

Masih ada sawah, kebun, pekarangan, ternak kecil, kolam ikan, jaringan sosial, dan tradisi gotong royong.

Ketika harga barang tertentu naik, sebagian masyarakat masih dapat bertahan melalui pangan lokal dan dukungan komunitas.

Kekuatan ini penting. Desa, dalam batas tertentu, tidak sepenuhnya bergantung pada pasar.

Ia masih memiliki hubungan langsung dengan tanah, air, pangan, dan jaringan sosial.

Karena itu, ketahanan desa tidak hanya ditentukan oleh pendapatan uang, tetapi juga oleh akses terhadap sumber penghidupan.

Namun, ketahanan sosial desa tidak boleh dijadikan alasan bagi negara untuk mengecilkan masalah.

Justru karena desa memiliki potensi sebagai bantalan ekonomi, kebijakan publik harus memperkuatnya.

Kedaulatan pangan dan energi harus diterjemahkan ke dalam irigasi yang berfungsi, pupuk yang terjangkau, bibit yang baik, jalan produksi yang layak, gudang pangan yang aktif, dan data bantuan sosial yang akurat.

Menjaga Rupiah dari Struktur

Pemerintah perlu menjelaskan kepada publik secara jujur bagaimana pelemahan rupiah memengaruhi ekonomi rakyat.

Publik tidak membutuhkan bahasa yang menakutkan, tetapi juga tidak cukup diberi kalimat penenang.

Yang dibutuhkan adalah penjelasan proporsional: barang apa yang rentan, kelompok mana yang terdampak, dan kebijakan apa yang disiapkan.

Menenangkan publik memang penting. Ekspektasi buruk dapat memperburuk keadaan.

Namun, menenangkan tidak sama dengan menyederhanakan persoalan.

Kredibilitas lahir bukan dari pernyataan yang mengabaikan risiko, melainkan dari kemampuan negara menjelaskan risiko dan menunjukkan instrumen kebijakan yang bekerja.

Pada akhirnya, membela rupiah tidak cukup dilakukan melalui imbauan.

Rupiah dibela melalui disiplin fiskal, kredibilitas moneter, stabilitas harga pangan, efisiensi logistik, penguatan produksi domestik, dan pengurangan ketergantungan impor.

Rupiah tidak hanya dijaga di pasar uang.

Ia juga dijaga di sawah, pelabuhan, gudang, jalan desa, pasar tradisional, kapal nelayan, dan dapur rumah tangga.

Masyarakat desa memang tidak memakai dolar.

Tetapi ketika harga pupuk, pakan, BBM, minyak goreng, kemasan, atau kebutuhan pokok naik, mereka ikut membayar akibatnya.

Itulah sebabnya dolar bukan hanya cerita tentang pasar keuangan.

Ia juga cerita tentang dapur, desa, dan keadilan ekonomi.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.