Renungan Harian Katolik Suara Pagi
Bersama Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Josef Freinademetz STM Nenuk
Atambua Timor
Kamis, 21 Mei 2026
St. Kristoforus dr Magallan
Kis 22:30; 23:6-11; Mzm 16:1-2a.5.7-8.9-10.11; Yoh 17:20-26.
Warna Liturgi Putih
“Supaya Mereka Semua Menjadi Satu”
Dalam doa-Nya yang terakhir sebelum sengsara, Yesus Kristus berdoa bukan hanya untuk para murid yang hadir saat itu, tetapi juga untuk kita semua yang percaya kepada-Nya. Inti doa itu sangat menyentuh: “Supaya mereka semua menjadi satu.”
Yesus tahu bahwa setelah Ia tidak lagi bersama para murid secara fisik, tantangan terbesar bukan hanya penderitaan atau penganiayaan, tetapi perpecahan.
Karena perpecahan perlahan-lahan menghancurkan kasih, mematikan persaudaraan, dan membuat hati manusia menjadi dingin.
Kalau kita melihat kehidupan sekarang, doa Yesus ini terasa sangat relevan. Kita hidup di tengah dunia yang mudah sekali terpecah. Dalam keluarga, suami dan istri bisa tinggal serumah tetapi jarang berbicara dengan hati.
Anak dan orang tua saling mencintai, tetapi sering tidak saling memahami. Kadang ada luka lama yang disimpan bertahun-tahun hanya karena satu kata yang menyakitkan dan tidak pernah diselesaikan.
Di lingkungan masyarakat, orang mudah bermusuhan karena perbedaan pilihan politik, status sosial, bahkan karena komentar di media sosial.
Banyak orang lebih mudah menulis kata-kata kasar daripada menyampaikan kasih. Kita hidup di zaman di mana orang bisa sangat dekat lewat teknologi, tetapi justru semakin jauh secara hati.
Bahkan dalam kehidupan menggereja pun kadang ada persaingan, iri hati, merasa diri paling benar, atau kecewa satu sama lain. Akibatnya, pelayanan yang seharusnya menjadi tanda kasih Tuhan malah menjadi
tempat lahirnya luka dan perpecahan.
Melalui Injil hari ini, Yesus Kristus mengingatkan bahwa persatuan bukan sekadar hidup berdampingan. Persatuan lahir dari kasih yang mau berkorban.
Yesus sendiri memberi teladan itu. Ia tetap mengasihi murid-murid-Nya meskipun mereka sering tidak mengerti diri-Nya. Ia tetap setia meskipun nantinya ada yang menyangkal dan mengkhianati-Nya.
Kasih Yesus tidak berhenti hanya karena Ia terluka. Itulah kasih yang mempersatukan. Kadang kita menunggu orang lain berubah dulu baru kita mau berdamai.
Kita menunggu orang lain meminta maaf dulu. Tetapi Yesus mengajarkan sesuatu yang berbeda: kasih selalu berani memulai lebih dahulu.
Persatuan dimulai dari hal-hal kecil: memilih mendengar daripada memotong pembicaraan, memilih memahami daripada menghakimi, memilih meminta maaf walaupun merasa benar, memilih mendoakan daripada membenci.
Memang tidak mudah. Mengampuni itu berat. Berdamai itu tidak selalu nyaman. Tetapi hati yang penuh kasih selalu menemukan jalan untuk mempersatukan, bukan memisahkan. Jangan sampai kita terlihat aktif dalam doa dan pelayanan, tetapi gagal menghadirkan kasih di rumah sendiri.
Dunia tidak terlalu membutuhkan orang hebat. Dunia lebih membutuhkan orang yang hatinya penuh kasih. Orang yang mampu mempersatukan ketika yang lain saling menjauh.
Orang yang membawa damai ketika banyak orang memilih kebencian. Mungkin hari ini Tuhan sedang mengingatkan kita tentang seseorang yang perlu kita hubungi kembali.
Mungkin ada keluarga yang sudah lama tidak kita sapa. Mungkin ada sahabat yang hubungannya retak. Mungkin ada luka yang sebenarnya sudah waktunya disembuhkan. Jangan menunda kasih. Jangan menunggu sampai semuanya terlambat. Karena pada akhirnya, orang tidak akan diingat karena kekayaan atau jabatannya, tetapi ka kasih yang ia berikan kepada sesamanya.
Dan itulah doa Yesus bagi kita: agar kita hidup saling mengasihi, saling menerima, dan menjadi satu di dalam Tuhan.
Doa: Tuhan Yesus yang penuh kasih, Engkau berdoa agar kami semua menjadi satu. Namun sering kali kami lebih mengikuti ego daripada kasih. Kami mudah marah, mudah terluka, dan sulit mengampuni. Lembutkanlah hati kami, Tuhan. Ajarlah kami untuk menghadirkan damai di dalam keluarga, di lingkungan kerja, dan dalam hidup menggereja. Berilah kami keberanian untuk memulai perdamaian, meskipun kami yang harus mengalah lebih dahulu. Semoga kasih-Mu tinggal dalam hati kami, sehingga melalui hidup kami, orang lain dapat merasakan kehadiran-Mu.... Amin.
Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Kamis Pekan VII Paskah, Novena Roh Kudus hari ke 7. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin.
(Pastor John Lewar SVD)