TRIBUNNEWSMAKER.COM - Firasat seorang ibu akhirnya menjadi kenyataan setelah putranya, Muhammad As'ad Aras (32), relawan kemanusiaan asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, dikabarkan ditangkap aparat Israel saat menjalankan misi bantuan ke Gaza.
Kabar penangkapan itu langsung mengguncang keluarga besar Muhammad As'ad Aras yang sejak awal mengaku diliputi rasa cemas sebelum keberangkatan sang relawan ke wilayah konflik Palestina.
Sang ibu bahkan mengaku sempat memiliki firasat buruk dan terus merasa gelisah beberapa hari sebelum insiden tersebut terjadi.
As’ad diketahui berangkat sebagai bagian dari misi kemanusiaan internasional untuk menyalurkan bantuan bagi warga Gaza yang hingga kini masih dilanda krisis akibat konflik berkepanjangan.
Namun di tengah perjalanan misi tersebut, kapal atau rombongan relawan yang diikutinya dilaporkan dicegat oleh pihak Israel.
Situasi itu membuat komunikasi dengan keluarga sempat terputus dan memicu kepanikan di kampung halaman As’ad di Sinjai.
Pihak keluarga kini hanya bisa berharap pemerintah Indonesia dan lembaga internasional segera turun tangan untuk memastikan keselamatan As’ad serta relawan lainnya.
Peristiwa ini pun menyita perhatian publik karena menyangkut keselamatan warga negara Indonesia yang tengah menjalankan aksi kemanusiaan di wilayah perang.
Di media sosial, doa dan dukungan terus mengalir untuk As’ad, sementara kisah firasat sang ibu ikut menjadi sorotan dan mengundang haru banyak orang.
Baca juga: Heboh! Oknum Satpol PP Tulungagung Diduga Pesta Miras Bareng Pelaku Pembobolan Kantor Disbudpar
Seperti diketahui, tangis Robiyah pecah setelah mengetahui anaknya, Muhammad As'ad Aras (32), ditangkap tentara Israel saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina.
Relawan asal Kelurahan Bongki, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, itu diketahui tergabung dalam rombongan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 yang membawa bantuan kemanusiaan melalui jalur laut internasional.
Muhammad As'ad Aras menjadi satu dari sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang dilaporkan ditahan otoritas Israel saat armada bantuan menuju Gaza dicegat di perairan internasional.
Ibunda As'ad mengaku sudah memiliki firasat buruk sebelum mendengar kabar penangkapan putranya.
"Saya dari kemarin sangat gelisah dan sudah ada firasat bahwa ada masalah yang terjadi," ujar Robiyah saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Bongki, Kecamatan Sinjai Utara, dikutip dari Tribun Timur, Rabu (20/5/2026).
Menurut Robiyah, As’ad bersama ratusan relawan lainnya berangkat dari Pelabuhan Albatros, Turki, menuju Gaza pada Kamis (14/5/2026).
Namun dalam perjalanan, armada Global Sumud Flotilla dilaporkan dicegat tentara Israel di dekat Siprus, Mediterania Timur.
"Terkait Pak As’ad, kronologi diculiknya itu pada saat mulai berlayar dan tepat hari Senin (18/5/2026) tengah malam. Kapal mereka dibajak," katanya.
Robiyah mengatakan, kabar penangkapan As’ad pertama kali diterima keluarga dari pihak kantor dan adik korban yang berada di Jakarta.
"Ada grup WhatsAppnya di situ. Saya lihat bahwa anak saya ditangkap Israel," katanya.
Menurut Robiyah, putranya bersama relawan lain sebenarnya sudah siap menghadapi berbagai risiko dalam misi tersebut.
"Dan mereka sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi," ujarnya.
Pihak keluarga juga mengaku sempat melakukan komunikasi terakhir dengan As'ad saat kapal bantuan mulai diserang.
"Saya terakhir telponan saat kapalnya diserang, katanya 'Ma kami diserang', dan setelah itu panggilan telepon selular terputus dan tidak pernah aktif hingga saat ini," kata Robiyah, dikutip dari Kompas.com, Rabu.
Di mata keluarga, As'ad dikenal sebagai sosok pendiam namun memiliki kepedulian sosial tinggi.
"Anak itu tidak banyak bicara, tapi ketika bicara betul-betul dalam maknanya," kata Robiyah.
Robiyah mengatakan, putranya telah aktif dalam kegiatan kemanusiaan sejak 2014.
As'ad juga disebut pernah menempuh pendidikan di Al Markaz Darul Istiqamah sebelum melanjutkan studi di Bogor dan Jakarta.
"Pada saat itu mulai lagi menjadi relawan," ujarnya.
As’ad merupakan anak keempat dari 10 bersaudara dan dikenal sering memberi semangat dan solusi bagi keluarga.
Selain aktif dalam kegiatan sosial, As'ad juga tergabung bersama sekitar 500 aktivis kemanusiaan dari berbagai negara dalam misi Global Sumud Flotilla menuju Gaza.
Meski cemas, Robiyah mengaku tetap mendukung keputusan putranya ikut dalam misi kemanusiaan tersebut.
"Memang sejak awal pamit ingin ke Palestina kami sadar bahwa sangat berbahaya tetapi mau tidak mau kami sebagai orangtua mendukung keputusan yang diambilnya," ucap Robiyah.
Robiyah berharap pemerintah Indonesia segera mengambil langkah untuk membebaskan para relawan yang ditahan.
"Harapan saya agar pemerintah segera ambil tindakan dan solusi terbaik agar para relawan ini segera dibebaskan," katanya.
Dalam misi tersebut, As'ad tidak sendiri. Sejumlah WNI lain, termasuk relawan kemanusiaan dan jurnalis Indonesia, juga ikut dalam pelayaran menuju Gaza.
Mereka tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina melalui jalur laut internasional.
Kapal relawan tersebut kemudian dicegat tentara Israel di perairan dekat Siprus, Mediterania Timur.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)