Raymond–Joaquin Ungkap Momen Tersulit Debut Thomas Cup 2026: Tak Sesuai Ekspektasi, Sulit Move On
Acos Abdul Qodir May 21, 2026 05:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Indonesia harus mengakhiri langkah lebih cepat di Thomas Cup 2026 setelah gagal melewati fase grup.

Situasi itu menjadi pengalaman berat bagi sektor ganda putra muda, Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin, yang menjalani debut di ajang beregu paling bergengsi tersebut dengan tekanan tinggi sejak awal.

 
Debut Thomas Cup yang Penuh Tekanan

Raymond dan Joaquin mengaku atmosfer Thomas Cup 2026 terasa jauh berbeda dibanding turnamen individu.

Sebagai pemain muda, keduanya langsung dihadapkan pada tanggung jawab besar membawa nama tim di setiap pertandingan.

Nikolaus Joaquin menilai tekanan sudah terasa sejak laga awal dan semakin meningkat saat menghadapi lawan-lawan kuat di fase grup.

“Evaluasinya, kemarin kan pertama kali main di fase grup Thomas Cup. Itu jadi salah satu evaluasi besar karena sebelumnya belum pernah, dan itu juga pengalaman pertama kali saya main Thomas Cup,” ujar Joaquin di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta.

Baca juga: Rekam Jejak Indonesia di Thomas Cup: Sejarah Buruk Tercipta di Tahun 2026

 
Atmosfer Beregu Tak Bisa Disamakan

TERSINGKIR - Pebulutangkis ganda putra Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, harus mengakhiri langkah di babak 32 besar Badminton Asia Championships 2026 setelah kalah dramatis dari pasangan Korea, Kang Min Hyuk/Ki Dong Ju, Rabu (8/4/2026).
TERSINGKIR - Pebulutangkis ganda putra Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, harus mengakhiri langkah di babak 32 besar Badminton Asia Championships 2026 setelah kalah dramatis dari pasangan Korea, Kang Min Hyuk/Ki Dong Ju, Rabu (8/4/2026). (Tribunnews.com/HO/dok: PBSI)

Menurut Joaquin, Thomas Cup memiliki karakter berbeda dibanding turnamen perorangan. Setiap pertandingan membawa beban kolektif yang membuat tekanan mental semakin tinggi.

“Thomas Cup itu dari beregu-beregu yang lain beda sendiri. Tegangnya luar biasa buat saya, karena semua orang pengen main di sana,” katanya.

Ia menyebut suasana pertandingan membuat setiap poin terasa sangat krusial, terutama di fase grup yang menentukan nasib tim.

 
Momen Tersulit: Saat Kekalahan Tak Bisa Diterima

Joaquin mengungkap momen paling berat justru terjadi ketika Indonesia dipastikan tidak lagi memiliki peluang untuk melanjutkan langkah di turnamen.

“Yang belum bisa move on itu pas hari kalahnya,” ungkapnya.

Momen tersebut menjadi pengalaman emosional pertama baginya di level beregu internasional, terutama karena hasil akhir tidak sesuai harapan awal tim.

Baca juga: Fajar/Fikri Move On dari Thomas Cup, Fokus Singapore dan Indonesia Open 2026

 
Raymond Rasakan Tekanan dari Pinggir Lapangan

Meski tidak selalu turun di partai penentu, Raymond Indra tetap merasakan ketegangan besar dari sisi lapangan.

Atmosfer pertandingan yang menentukan nasib tim memberi pengalaman berbeda dibanding turnamen biasa.

“Bisa ngerasain atmosfer sama rasa tegangnya,” kata Raymond.

Ia menilai pengalaman tersebut penting sebagai pembelajaran mental untuk menghadapi turnamen beregu di masa depan.

 
Evaluasi dan Harapan ke Depan

Raymond dan Joaquin menilai hasil Indonesia di Thomas Cup 2026 menjadi bahan evaluasi penting bagi tim.

Mereka menyebut skuad Indonesia sebenarnya memiliki kualitas yang kompetitif, namun masih perlu pembenahan dalam menghadapi tekanan di momen krusial.

Pengalaman debut ini disebut menjadi bekal berharga untuk perkembangan mereka sebagai atlet muda.

Baca juga: Bahagia Sederhana Nikolaus Joaquin: Main di Karpet Abu-abu All England, Ukir Sejarah Indah

 
Siap Bangkit di Kesempatan Berikutnya

Meski hasil tidak sesuai ekspektasi, keduanya menegaskan kesiapan untuk kembali memperkuat Indonesia jika mendapat kepercayaan di turnamen berikutnya.

“Kalau dipercaya turun, ya pasti kita kasih yang maksimal aja,” ujar Raymond.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.