TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo akan mengusulkan Kampung Lele Asap Jati di Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, sebagai Indikasi Geografis (IG). Usulan disampaikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) ke pemerintah pusat.
Kepala DKP Kulon Progo, Drajat Purbadi menjelaskan usulan IG menjadi penting agar produk Lele Asap secara legal dikenal asalnya dari Kulon Progo.
"Kami upayakan agar produk Lele Asap ini tidak diakui oleh daerah lain," kata Drajat, Rabu (20/05/2026).
Usulan disampaikan dalam bentuk proposal ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dilengkapi dengan narasi pendukung. Penyusunan proposal akan dibantu oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) DIY.
Setelah proposal disusun dan dikirimkan, proses verifikasi masih harus dilakukan. Tujuannya guna memastikan bahwa daerah yang diusulkan benar-benar layak untuk menjadi IG.
"Prosesnya bisa berlangsung selama 6 bulan, baru setelahnya ada penetapan sebagai IG," ungkap Drajat.
Kampung Lele Asap Jati sendiri belum lama ini diresmikan oleh Pemkab Kulon Progo. Rabu kemarin, paket wisata sebagai pendukung Kampung Lele Asap turut diluncurkan, menggandeng Desa Wisata Banaran.
Menurut Drajat, upaya itu dilakukan agar produk Lele Asap semakin dikenal oleh masyarakat. Terutama agar mereka tahu bahwa Lele Asap berasal dari Kulon Progo, mengingat produknya lebih banyak dipasarkan ke luar, terutama Bantul.
"Kami ingin Lele Asap jadi salah satu ikon kuliner dan buah tangan khas dari Kulon Progo," jelasnya.
Drajat mengatakan Lele Asap dari Padukuhan Jati, Kalurahan Banaran memiliki keunikan dari rasanya yang khas. Sebab proses pengasapannya menggunakan batok kelapa yang dibakar.
Ketua Kampung Lele Asap Jati, Dedi Tri Hermawan mengatakan bahwa produk Lele Asap sudah eksis sejak tahun 1970. Saat ini ada sekitar 30 produsen Lele Asap, yang bisa menghasilkan 500 kilogram (kg) dalam sehari.
Ia berharap Pemkab Kulon Progo bisa memfasilitasi pendampingan bagi para produsen Lele Asap. Sebab mereka ingin mampu melakukan produksi dari hulu ke hilir, termasuk melakukan pemasaran secara mandiri ke jangkauan pasar yang lebih luas.
"Apalagi ke depan Kampung Lele Asap Jati akan menjadi sentra wisata kuliner, kami ingin produk Lele Asap bisa semakin dikenal secara luas sebagai ikon Kulon Progo," kata Dedi.(alx)