TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Konvoi juara Persib Bandung pada Minggu 24 Mei 2026, direncanakan melewati sejumlah rute, termasuk Jalan Lembong, tempat berdirinya momen sepak bola.
Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Adhitia Putra Herawan, mengatakan rute konvoi dan titik akhir perayaan dipilih bukan hanya untuk kepentingan seremoni juara, tetapi juga sebagai momentum memperkenalkan sejarah dan budaya Kota Bandung kepada publik.
Adapun rutenya dari parkiran barat Gedung Sate, kemudian melintasi Jalan Banda, Jalan Riau, Jalan Merdeka, Perintis Kemerdekaan, Lembong, Veteran, Simpang Lima, Jalan Asia Afrika dan berakhir di depan Gedung Merdeka.
“Alasan kenapa kami memilih rute tersebut, karena kami melihat konvoi ini harus dijadikan sebagai momentum untuk mengenalkan budaya Kota Bandung dan juga titik-titik bersejarah Kota Bandung,” ujar Adhitia, dikutip Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, ada tiga titik bersejarah yang akan dilalui rombongan konvoi Persib saat parade juara berlangsung.
Titik pertama yakni kawasan Patung Bola di Jalan Lembong, kemudian Titik Nol Kota Bandung, dan terakhir Gedung Merdeka di kawasan Asia Afrika.
Di Jalan Lembong sendiri, terdapat monumen sepakbola yang diidentikan dengan pemain Persib Bandung, karya Nyoman Nuarta pada masa Wali Kota Ateng Wahyudi.
Praktisi dan peneliti hukum olahraga, Eko Noer Kristiyanto atau yang akrab disapa Eko Maung, meluruskan sejarah monumen sepak bola di kawasan Jalan Tamblong-Lembong, Kota Bandung.
Dikatakan Eko, monumen tersebut tidak dibuat khusus untuk Persib Bandung maupun merepresentasikan figur pemain atau legenda Maung Bandung.
Menurut Eko, versi resmi dari monumen tersebut sejak awal memang dipersembahkan untuk warga Kota Bandung, bukan identitas eksklusif Persib.
Persepsi publiklah, kata dia, yang kemudian mengaitkan monumen itu dengan Persib karena situasi dan momentum kejayaan klub saat itu.
“Patung itu bukan figur siapa pun, bahkan bukan patung Persib juga. Itu memang monumen sepak bola yang dipersembahkan untuk warga Kota Bandung,” ujar Eko saat diwawancarai, Jumat (22/5/2026).
Penulis buku Suporter Indonesia Naik Kelas ini pun mengatakan, penegasan tersebut juga pernah disampaikan langsung oleh seniman pembuat monumen tersebut, Nyoman Nuarta.
Menurutnya, selama ini banyak asumsi publik yang mengaitkan monumen tersebut dengan sosok tertentu, mulai dari pemain Persib hingga ikon klub. Namun, secara resmi hal itu tidak pernah dinyatakan.
“Selama ini orang ngomong itu patung Ajat, patung Robby, padahal bukan. Senimannya sendiri sudah menjelaskan itu bukan figur tertentu,” katanya.
Eko mengakui dalam perjalanannya monumen itu memang telanjur lekat dengan Persib. Bahkan, kata dia, dulu sempat muncul tradisi suporter yang memandikan monumen tersebut saat perayaan ulang tahun atau Persib meraih kemenangan.
Anggapan publik yang menjadikan monumen itu sebagai ikon Persib tetap sah-sah saja. Namun, Eko menilai PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), maupun pihak terkait perlu memberikan pemahaman soal sejarah resmi monumen tersebut.
“Kalau masyarakat menganggap itu ikon Persib, sah-sah saja karena itu persepsi. Tapi secara institusional resmi harus dijelaskan juga bahwa versi awalnya itu monumen untuk warga kota,” katanya.
Eko menjelaskan pembangunan monumen itu diinisiasi Pemerintah Kota Bandung bersama sejumlah pihak, termasuk tokoh yang berkaitan dengan komunitas olahraga dan sponsor saat itu.