Komentari Artikel The Economist, Sudirman Said: Pemerintah Harus Pulihkan Kepercayaan Pasar
Choirul Arifin May 22, 2026 10:35 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rektor Universitas Harkat Negeri sekaligus mantan Menteri ESDM Sudirman Said meminta pemerintahan Prabowo Subianto segera melakukan pembenahan untuk mengembalikan kepercayaan pasar yang terus turun.

"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Semua pihak rasanya mesti bahu-membahu melakukan restoring confidence, membangun kembali trust. Yang paling bertanggung jawab pihak yang sedang memikul kekuasaan," tutur Sudirman dalam diskusi bertajuk "Menakar Akurasi Laporan The Economist: Apakah Indonesia Menuju Jurang?", Jakarta Selatan, Jumat (22/5/2026).

Seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab untuk terus mengingatkan pemerintah, sementara pihak yang berada di dalam pemerintahan harus mau mendengarkan kritik dan masukan.

Sudirman juga menyoroti kecenderungan pemerintah yang dinilai lebih responsif terhadap kritik dari media asing dibanding masukan dari akademisi dan analis dalam negeri.

"Pada waktu ekonom kita bicara, pada waktu analis kita bicara, yang orang-orang itu orang pintar semua, itu seperti diabaikan begitu saja. Tapi begitu The Economist-nya ngomong, baru kebakaran jenggot," ucapnya.

Sudirman menyebut Indonesia sebenarnya memiliki sumber daya manusia berkualitas yang selama puluhan tahun dibangun melalui investasi pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri.

Baca juga: Sudirman Said Soroti Laporan The Economist: Kepercayaan Pasar ke Pemerintah Terus Merosot

Menurut dia, pemerintah seharusnya lebih banyak mendengar pandangan para ahli dan akademisi sebelum persoalan berkembang menjadi lebih serius.

"Saya pernah berhitung sekitar 800.000 sarjana kita kirimkan sejak Orde Baru itu ke berbagai sekolah-sekolah terbaik. Ada 70.000-an doktor dan profesor, ada 300.000 ekonom, ada 1.500 sains politik, yang sebetulnya kalau mereka kita dengar baik-baik, mungkin akan banyak hal yang bisa kita cegah menjadi masalah yang terlalu dalam," jelasnya.

Ia menilai momentum setelah terbitnya laporan The Economist seharusnya menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk melakukan pembenahan tata kelola dan membuka ruang dialog yang lebih luas dengan para pakar.

"Bila kita mau serius berbenah, maka ini waktunya mendengar mereka-mereka yang merupakan investasi dari kita semua, merupakan hasil dari pembangunan," terang Sudirman.

Baca juga: Pembelaan Menkeu Purbaya Dapat Kritikan dari The Economist Soal Fiskal RI Diambang Krisis

Ia berharap berbagai pihak dapat bersama-sama mencari solusi agar Indonesia dapat keluar dari tekanan ekonomi dan politik yang tengah menjadi sorotan internasional.

"Mari kita sama-sama dengarkan para pakar untuk menjawab apakah Indonesia menuju jurang atau bisa kita cegah bersama," kata Sudirman.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.