Terungkap Kenapa Bos Asal Australia Ditunjuk Urusi Ekspor SDA Termasuk Minyak Sawit Indonesia
Fitriadi May 23, 2026 10:03 AM

 

BANGKAPOS.COM - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) baru saja membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

PT DSI merupakan perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) khusus mengelola ekspor sumber daya alam (SDA) strategis Indonesia.

Satu di antaranya adalah mengurusi ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) melalui satu pintu.

Baca juga: Purbaya Kantongi Data dan Modus 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Ekspor CPO ke AS

Pembentukan PT DSI jadi sorotan karena posisi direktur utamanya adalah warga negara asing (WNA).

Menteri Investasi/Kepala BKPM yang juga menjabat sebagai CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani telah menunjuk Luke Thomas Mahony sebagai Dirut PT DSI.

Nama Luke telah tercantum dalam Surat Keputusan Pengesahan Nomor AHU-0039765.AH.01.01 Tahun 2026 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum pada 19 Mei 2026.

Baca juga: TBS Sawit Petani di Babel Dibeli Tengkulak Hanya Rp 1.750

Batas Waktu yang Jelas

Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, meminta pemerintah memberikan batas waktu yang jelas terkait kepemimpinan WNA di posisi Dirut PT DSI.

Mufti mengaku terkejut karena posisi yang sangat vital bagi devisa dan industri nasional tersebut justru diserahkan kepada pihak asing.

"Kami jujur cukup terkejut ketika mendengar bahwa PT Daya Anagata Sumber Daya Indonesia (DSI), yang nantinya memegang peran sangat strategis dalam tata kelola ekspor sumber daya alam Indonesia, justru akan dipimpin oleh warga negara asing," kata Mufti kepada wartawan, Jumat (22/5/2026).

Meski mempertanyakan figur WNA, Mufti mencoba melihat kebijakan tersebut secara objektif.

Ia menilai langkah Presiden Prabowo Subianto ini merupakan upaya serius untuk membenahi praktik under-invoicing (pelaporan nilai ekspor di bawah harga pasar) yang selama ini merugikan negara.

"Artinya, mungkin pemerintah melihat persoalan ini sudah terlalu serius. Negara tampaknya tidak ingin mengulangi kegagalan masa lalu, ketika tata kelola ekspor komoditas strategis justru bocor, dimainkan mafia, atau dikelola oleh pihak-pihak yang tidak memiliki integritas dan profesionalisme yang baik," ujar Mufti.

Mufti menjelaskan, kehadiran profesional asing mungkin menjadi pilihan pahit yang diambil pemerintah demi memastikan sistem yang bersih dan profesional, setelah berkaca pada kegagalan sistem di masa lalu yang memicu kerugian negara dalam jumlah besar.

Ia menegaskan, ketergantungan pada tenaga asing dalam mengelola kekayaan alam tidak boleh berlangsung lama. 

Mufti meminta posisi tersebut segera dikembalikan kepada anak bangsa setelah fondasi tata kelola ekspor Indonesia sudah kuat.

"Kami meminta pemerintah memberikan batas waktu yang jelas. Jangan menggantung tanpa kepastian. Masyarakat perlu tahu, sampai kapan posisi strategis ini dipimpin oleh warga negara asing?" ungkapnya. 

Ia memberikan estimasi waktu transisi sekitar enam bulan hingga satu tahun untuk pembenahan sistem.

"Kalau memang ini bagian dari masa transisi untuk membenahi sistem, membangun tata kelola baru, dan membersihkan praktik-praktik buruk, kami bisa memahami. Tetapi setelah sistem berjalan sehat, enam bulan, satu tahun, atau ketika fondasi tata kelola sudah kuat, maka posisi itu harus kembali dipimpin oleh anak bangsa yang profesional, bersih, dan berintegritas," jelasnya. 

Ke depan, DSI akan menjadi eksportir tunggal Indonesia. Badan tersebut statusnya BUMN di bawah Danantara.

Presiden Prabowo dalam rapat paripurna di DPR 20 Mei lalu menyebutkan bahwa pembentukan badan tersebut untuk mengoptimalkan penerimaan negara.

Selain itu, untuk memperkuat pengawasan ekspor sekaligus menghilangkan praktik kurang bayar ekspor, transfer pricing, hingga pelarian devisa hasil ekspor.

Alasan Tunjuk WNA Jadi Dirut DSI

Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, menjelaskan alasan penunjukan Luke Thomas Mahony sebagai Dirut DSI, BUMN baru pengelola ekspor.

Penunjukan warga negara Australia tersebut didasarkan pada pengalaman Luke di perdagangan komoditas global, khususnya sektor mineral dan ekspor.

Sebelum menjabat di PT DSI, Luke Thomas tercatat pernah memegang posisi Direktur sekaligus Chief Strategy and Technical Officer PT Vale Indonesia Tbk, dengan fokus pada strategi bisnis dan operasi pertambangan.

Rosan menyebut pengalaman Luke di sektor trading dan industri mineral menjadi faktor utama yang dibutuhkan untuk memperkuat kinerja ekspor nasional di pasar internasional.

“Kita melihat banyak pertimbangan, terutama track record dan pemahamannya di bidang tersebut. Pengalaman di perusahaan multinasional seperti Vale juga menjadi nilai penting,” kata Rosan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Selain kompetensi teknis, pemerintah juga menilai kemampuan adaptasi Luke, termasuk penguasaan bahasa Indonesia serta jejaring bisnis global yang dimilikinya.

“Dia bisa bahasa Indonesia, istrinya orang Indonesia. Tapi yang paling penting pengalaman trading, mineral, dan network-nya juga kuat,” lanjut Rosan.

Luke Thomas sendiri bukan nama baru di lingkungan Danantara. Ia sebelumnya menjabat Senior Executive Vice President (SEVP) Business Performance & Optimization sejak September 2025.

Kinerja di posisi tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah menempatkannya sebagai direktur PT DSI yang akan fokus pada penguatan ekspor komoditas strategis Indonesia.

Sosok Luke Thomas Mahony

Luke Thomas Mahony bukan sosok asing di industri pertambangan global.

Luke Thomas Mahony memiliki pengalaman lebih dari dua dekade di sektor tambang dan manajemen strategis.

Sebelum dipercaya memimpin PT DSI, Luke menjabat sebagai Senior Executive Vice President (SEVP) Business Performance & Optimization di Danantara Indonesia sejak September 2025.

Kariernya di sektor tambang juga cukup panjang. Ia pernah menduduki posisi Chief Strategy and Technical Officer di PT Vale Indonesia Tbk pada periode Juli 2024 hingga September 2025.

Sebelumnya, Luke berkarier selama hampir satu dekade di Vale Base Metals yang berbasis di Kanada.

Selama berada di perusahaan tersebut, ia memegang sejumlah posisi penting, mulai dari jabatan teknis hingga pengambil keputusan strategis.

Salah satu posisi tertinggi yang pernah diembannya adalah Chief Technical Officer pada Desember 2022 hingga Februari 2024, sebelum kemudian melanjutkan tugas sebagai direktur perusahaan.

Jejak profesional Luke juga membawanya ke BHP Billiton, salah satu perusahaan tambang terbesar dunia.

Di perusahaan itu, ia pernah menjabat sebagai Principal Business Analyst hingga Manager Production Prestrip.

Tak hanya pengalaman lapangan, Luke juga memiliki latar pendidikan yang kuat di bidang teknik pertambangan dan keuangan.

Ia menyelesaikan pendidikan sarjana Teknik Pertambangan di University of New South Wales, Australia.

 Selain itu, Luke mengantongi tiga gelar magister dari universitas yang sama, yakni Master Keuangan, Master Teknik Pertambangan, dan Master Geomekanika.

Dengan kombinasi pengalaman internasional, kemampuan teknis, dan latar akademik di sektor tambang, Luke kini menghadapi tantangan baru memimpin BUMN yang diproyeksikan menjadi instrumen penting dalam memperkuat posisi Indonesia di perdagangan komoditas global.

Kehadirannya di pucuk pimpinan PT DSI juga menjadi perhatian karena perusahaan tersebut diproyeksikan memainkan peran strategis dalam pengelolaan ekspor SDA nasional di masa mendatang.

Rekam Jejak Karier

Luke bukan nama baru dalam dunia pertambangan internasional.

Kariernya telah berlangsung lebih dari 21 tahun dan mencakup berbagai posisi penting di perusahaan tambang global.

Pengalamannya tidak hanya berada di bidang teknis, tetapi juga mencakup manajemen perusahaan dan pengambilan keputusan strategis.

1. Danantara Indonesia

Sebelum dipercaya memimpin PT DSI, Luke menjabat sebagai Senior Executive Vice President (SEVP) Business Performance & Optimization di Danantara Indonesia sejak September 2025.

Posisi ini membuat Luke terlibat langsung dalam perencanaan strategis perusahaan investasi dan pengelolaan aset negara.

2. Pernah Menjadi Petinggi PT Vale Indonesia

Sebelum bergabung dengan Danantara, Luke menjabat sebagai Chief Strategy and Technical Officer di:

PT Vale Indonesia Tbk

Periode jabatan: Juli 2024–September 2025

Posisi ini menjadi salah satu pengalaman penting karena PT Vale Indonesia merupakan pemain besar industri nikel nasional.

3. Hampir Satu Dekade di Vale Base Metals Kanada

Salah satu periode karier terpanjang Luke terjadi saat ia bekerja di Vale Base Metals yang berbasis di Kanada.

Periode: Juli 2014–Agustus 2024

Selama hampir 10 tahun, Luke menempati berbagai jabatan penting: Chief Technical Officer

Karier panjangnya di Kanada memperlihatkan bahwa Luke tidak hanya memahami persoalan teknis pertambangan, tetapi juga manajemen perusahaan global.

4. Berkarier di Raksasa Tambang Dunia BHP Billiton

Sebelum masuk Vale, Luke juga pernah bekerja di: BHP Billiton.

Periode: Juli 2010–Juli 2014

Jabatan yang pernah dipegang: Principal Business Analyst, Manager Production Prestrip.

Pengalaman di BHP dinilai sangat berharga karena perusahaan ini dikenal memiliki standar tinggi dalam tata kelola industri pertambangan dunia.

Latar Pendidikan Luke Thomas

Selain pengalaman profesional yang panjang, Luke juga memiliki latar pendidikan yang sangat dekat dengan industri yang digelutinya.

Ia menempuh pendidikan di University of New South Wales, Australia.

Riwayat pendidikannya meliputi:

  • Sarjana: Mining Engineering (Teknik Pertambangan)
  • Pascasarjana: Master Keuangan (2004)
  • Master Teknik Pertambangan (2006)
  • Master Geomekanika (2009)

Kombinasi pendidikan ini membuat Luke memiliki kemampuan yang relatif lengkap.

Pengalaman internasional selama lebih dari dua dekade akan diuji untuk menjawab tantangan pengelolaan SDA Indonesia yang semakin kompleks.

Dari tambang Australia, Kanada, hingga perusahaan global, perjalanan karier Luke Thomas Mahony kini memasuki babak baru: memimpin BUMN strategis Indonesia yang diproyeksikan menjadi salah satu instrumen penting pengelolaan kekayaan alam nasional.

(Tribunnews.com/Fersianus Waku, Taufik Ismail) (Kompas.com/Yohana Artha Uly, Aprillia Ika)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.