Laporan langsung wartawan Tribunnews.com dan Media Center Haji dari Arab Saudi, Sri Juliati
TRIBUNNEWS.COM - Rasa bahagia tak terelakkan dari wajah Mbah Marsiyah, jemaah haji tertua se-Indonesia asal Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, di usia yang hampir 105 tahun, Mbah Marsiyah akhirnya bisa menyaksikan langsung Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah.
Pada Jumat (22/5/2026), warga Desa Bulu, Kecamatan Semen itu mulai menjalani rangkaian ibadah hajinya dengan melaksanakan tawaf qudum, yakni tawaf penghormatan yang dianjurkan bagi jemaah setibanya di Kota Makkah.
Di usia yang tak lagi muda, perjalanan menuju Baitullah itu menjadi momen yang telah lama ia impikan.
Mbah Marsiyah mengaku bahagia akhirnya bisa melihat Ka'bah yang selama ini hanya dipandangnya dari lembar sajadah.
Baca juga: Kondisi Jenazah Kakek Firdaus Jemaah Haji yang Hilang di Makkah, Gelang Identitas Masih Melekat
"Alhamdulillah, seneng ndeleng Ka'bah. Wong wis diangen-angeni ket suwe (Alhamdulillah, senang melihat Ka'bah. Sudah diharapkan sejak lama)," ucapnya kepada tim Media Center Haji (MCH).
Menggunakan kursi roda, ibu lima anak tersebut memulai tawaf di lantai 2 Masjidil Haram sekitar pukul 01.30 waktu Arab Saudi.
Selama menjalani tawaf di lantai 2 Masjidil Haram, Mbah Marsiyah didampingi penuh oleh anaknya, Maidah, yang nyaris tak pernah bergantian mendorong sang ibu.
Beberapa saat menjelang azan pertama di Masjidil Haram sekira pukul 03.00 WIB, Mbah Marsiyah merampungkan tawaf qudum.
Kini setelah tawaf qudum, Mbah Marsiyah bersiap menjalani puncak ibadah haji yang akan berlangsung mulai Selasa, 26 Mei 2026.
Mbah Marsiyah adalah jemaah haji tertua di Indonesia. Wanita kelahiran Kediri, 1 Juli 1921 itu berangkat berhaji setelah menunggu lima tahun.
Diketahui, Mbah Marsiyah telah mendaftar haji pada tahun 2021. Namun karena ia mendaftar di usia hampir 100 tahun, maka Mbah Marsiyah masuk dalam kebijakan percepatan keberangkatan.
Pohon sawo di depan rumahnya menjadi saksi perjuangan Marsiyah mengumpulkan lembar demi lembar uang hasil berjualan bubur sumsum untuk mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji.
"Alah nggih sekedhik-sekedhik, kadang nggih Rp 5 ribu, kadang Rp 2 ribu, mboten kathah (Alah ya sedikit-sedikit, kadang ya lima ribu, kadang ya dua ribu, tidak banyak)," kata dia.
Oleh Mbah Marsiyah, uang tersebut dimasukkan ke dalam kaleng yang kemudian disimpan di rumah.
Baca juga: Jelang Puncak Haji, Jemaah Diminta Tak Bepergian Sendiri Tanpa Koordinasi Petugas
Setelah tabungan terkumpul, anak-anaknya membantu menambahkan kekurangan biaya pendaftaran haji.
Selama menabung, Mbah Marsiyah bahkan tak pernah bercerita kepada tetangganya bahwa tengah mengumpulkan uang untuk berangkat ke Baitullah.
Kini, karena faktor usia, ia yang tergabung dalam kloter SUB 112 sudah berhenti berjualan. Aktivitas hariannya pun lebih banyak di rumah bersama keluarga yang merawatnya.
Di usianya yang lebih dari satu abad, Marsiyah masih terlihat bugar. Saban hari, ia berjalan-jalan di sekitar rumah, meski dalam durasi tak lama.
Ia mengaku pernah terjatuh saat di kamar mandi sehingga membuatnya tak bisa berjalan sendiri alias harus digandeng sang anak.
"Sekarang sudah tidak apa-apa," ujarnya. (*)