TRIBUNNEWS.COM - Berbagai peristiwa dunia menarik perhatian publik dalam sehari terakhir.
Iran menutup sebagian besar wilayah udaranya setelah muncul spekulasi bahwa AS tengah mempertimbangkan serangan militer baru terhadap Teheran.
Sementara itu, Trump dipastikan absen di pernikahan putranya, Donald Trump Jr, di Bahama. Ia memilih tetap berada di Gedung Putih karena situasi konflik sensitif.
Iran memutuskan menutup sebagian besar wilayah udaranya di tengah munculnya spekulasi mengenai kemungkinan serangan militer baru dari Amerika Serikat terhadap Teheran.
Pembatasan tersebut, mencakup sejumlah bandara di wilayah barat Iran dan diperkirakan berlangsung hingga awal pekan depan.
Dampak dari kebijakan itu langsung terlihat dari data pelacakan penerbangan internasional yang menunjukkan wilayah udara Iran mendadak hampir kosong dari lalu lintas pesawat komersial.
Banyak maskapai penerbangan internasional mulai menghindari jalur udara Iran demi alasan keamanan.
Data dari FlightAware memperlihatkan sejumlah penerbangan rute Eropa menuju Asia kini dialihkan melewati koridor selatan Teluk.
Perubahan rute tersebut membuat waktu perjalanan menjadi lebih panjang sekaligus meningkatkan biaya bahan bakar operasional maskapai.
Selain itu, perusahaan pemantau penerbangan internasional mencatat gangguan dan pengalihan rute di kawasan Timur Tengah meningkat hampir 35 persen dalam beberapa pekan terakhir seiring meningkatnya tensi geopolitik di kawasan.
Hingga kini pemerintah Iran belum menjelaskan secara rinci alasan utama penutupan wilayah udara tersebut.
Namun langkah itu terjadi di saat hubungan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat dilaporkan masih mengalami kebuntuan.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Iran menuduh Amerika Serikat (AS) mengajukan tuntutan yang berlebihan, Sabtu (23/5/2026).
Saat ini, para pemimpin Republik Islam tersebut tengah mempertimbangkan proposal perdamaian terbaru.
Sementara, AS kemungkinan sedang mempertimbangkan serangan baru.
Panglima militer Pakistan yang berpengaruh tiba di Teheran pada Jumat (22/5/2026) untuk memperkuat mediasi.
Sedangkan, Presiden AS Donald Trump tiba-tiba mengubah rencananya untuk tidak menghadiri pernikahan putranya dan tetap berada di Washington karena "keadaan yang berkaitan dengan pemerintahan," yang memicu spekulasi bahwa situasi telah memasuki tahap yang sensitif.
Dilansir Arab News, Trump menggambarkan negosiasi yang tersendat-sendat minggu ini sebagai berada di "garis batas" antara serangan yang diperbarui dan kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Adapun konflik dimulai dengan serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 dan menyebabkan blokade yang saling bertentangan di sekitar Selat Hormuz yang strategis yang telah mengganggu perekonomian global.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan kemarahannya kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah Washington memilih membuka jalur diplomasi dengan Iran dibanding melanjutkan serangan militer.
Hal itu terungkap setelah sumber Israel menyebut bahwa hubungan Netanyahu dan Trump memanas setelah keduanya terlibat percakapan sengit via sambungan telepon pada saat membahas strategi perang terhadap Iran.
Sebelumnya Washington dikenal mendukung tekanan militer dan strategi agresif terhadap Teheran. Namun awal pekan ini Trump memutuskan untuk menghentikan rencana serangan terhadap Iran.
Keputusan penundaan tersebut diambil setelah sejumlah negara Arab di kawasan Timur Tengah meminta Washington memberikan kesempatan bagi jalur diplomasi dan negosiasi.
Perubahan sikap tersebut sontak memicu kekecewaan Netanyahu hingga dia mendesak Amerika Serikat tetap melanjutkan operasi militer sesuai rencana awal karena menurutnya menunda serangan terhadap Iran merupakan langkah yang salah.
Pasalnya, pemerintah Israel selama ini memandang Iran sebagai ancaman utama bagi keamanan nasionalnya.
Israel menilai program rudal dan pengaruh militer Iran di kawasan Timur Tengah terus berkembang dan berpotensi memperkuat kelompok-kelompok sekutu Teheran di wilayah konflik.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dipastikan tidak akan menghadiri pernikahan putranya, Donald Trump Jr., yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini.
Dikutip dari dari Politico, pernikahan Donald Trump Jr. dengan sosialita Palm Beach bernama Bettina Anderson akan berlangsung secara tertutup dan intim di Bahama.
Trump Jr sebelumnya pernah menikah dengan Vanessa Trump selama 12 tahun sebelum resmi bercerai pada 2018. Setelah itu, ia sempat menjalin hubungan dengan Kimberly Guilfoyle yang juga dikenal sebagai mantan istri Gubernur California, Gavin Newsom.
Absenya Trump dalam pernikahan anaknya sontak memicu perhatian publik karena terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik terkait Iran dan situasi keamanan internasional.
Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Presiden Trump menyebut alasan ketidakhadirannya berkaitan dengan urusan pemerintahan dan kondisi global yang dinilai cukup serius.
Oleh karena itu Trump menegaskan bahwa dirinya merasa perlu berada di Gedung Putih, Washington DC selama situasi internasional masih berkembang.
“Saya merasa penting bagi saya untuk tetap berada di Washington, DC, di Gedung Putih selama periode penting ini,” tulis Trump.
Meski tidak menjelaskan secara detail, Trump sebelumnya telah memberi sinyal bahwa konflik Iran menjadi salah satu alasan utama yang membuatnya membatalkan agenda pribadi, termasuk menghadiri pernikahan sang putra.
Saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada Kamis (21/5/2026), Trump mengatakan bahwa momen pernikahan tersebut “bukan waktu yang tepat” karena adanya persoalan besar yang sedang dihadapi pemerintah AS.
Ia bahkan secara langsung menyebut Iran sebagai salah satu isu yang menyita perhatian pemerintahannya.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Rusia akan mengatur kunjungan wartawan asing ke lokasi serangan Ukraina terhadap sebuah perguruan tinggi di Starobelsk, wilayah Republik Rakyat Luhansk, salah satu wilayah Ukraina yang dianeksasi pada tahun 2022.
Hal tersebut, disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova yang menanggapi tuduhan Barat bahwa serangan tersebut tidak dilakukan oleh Ukraina.
"Ketika para pejabat Barat, termasuk utusan Latvia yang telah kehilangan martabatnya, menyebarkan kebohongan terang-terangan pada pertemuan Dewan Keamanan PBB kemarin, dengan mengklaim bahwa angkatan bersenjata Ukraina tidak menyerang perguruan tinggi di Starobelsk, kami sedang mengatur kunjungan koresponden asing yang terakreditasi di Moskow ke lokasi tragedi tersebut," tulisnya di Telegram, Sabtu (23/5/2026).
Sebelumnya, militer Rusia mengatakan bahwa Ukraina melancarkan serangan drone ke gedung akademik dan asrama Sekolah Tinggi Kejuruan Universitas Pedagogi Lugansk di kota Starobelsk pada dini hari pada Jumat (22/5/2026).
Sebanyak 86 siswa berusia antara 14 dan 18 tahun berada di dalam gedung tersebut saat serangan terjadi.
Menurut Kementerian Situasi Darurat Rusia, serangan itu menewaskan 16 orang dan melukai 40 lainnya, serta 11 siswa masih hilang.
BACA SELENGKAPNYA >>>
(Tribunnews.com)