BMKG Prediksi El Nino Aktif Mulai Juni 2026, Kemarau di Indonesia Diperkirakan Lebih Panjang
M Zulkodri May 24, 2026 09:03 AM

 

BANGKAPOS.COM--Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino mulai aktif pada Juni 2026 dan berpotensi berlangsung hingga periode Maret sampai Mei 2027.

Fenomena iklim global tersebut diperkirakan memiliki intensitas sedang hingga kuat dan dapat menyebabkan musim kemarau di Indonesia berlangsung lebih panjang serta lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fatani, mengatakan kondisi ini perlu menjadi perhatian karena kemunculan El Nino diprediksi bertepatan dengan puncak musim kemarau di Indonesia.

“Untuk tahun ini, El Nino akan mulai aktif diperkirakan di bulan Juni, nanti dia dengan intensitas kira-kira moderate sampai kuat,” ujar Faisal di Senayan, Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Menurutnya, dampak paling besar diperkirakan mulai dirasakan pada periode Juni hingga September 2026, bertepatan dengan masa puncak musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia.

“Dan itu yang perlu kita waspadai ketika di bulan Juni, Juli, Agustus, nanti puncak musim kemarau Agustus, September, itu dapat membuat kemarau di Indonesia akan lebih panjang dan juga lebih kering dari yang terjadi dalam rata-rata 30 tahun terakhir,” katanya.

El Nino dan Musim Kemarau Berbeda

BMKG menjelaskan masih banyak masyarakat yang menganggap El Nino dan musim kemarau sebagai fenomena yang sama. Padahal secara ilmiah, keduanya memiliki karakteristik berbeda.

Musim kemarau merupakan siklus iklim tahunan yang secara normal terjadi akibat pengaruh angin monsun Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah Indonesia.

Sementara El Nino merupakan fenomena anomali iklim global yang muncul akibat peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang kemudian memengaruhi pola cuaca dunia.

BMKG mencatat fenomena El Nino umumnya terjadi setiap tiga hingga tujuh tahun sekali.

Risiko Kekeringan dan Kebakaran Meningkat

Dalam kondisi normal, musim kemarau biasanya hanya menyebabkan penurunan curah hujan secara bertahap.

Namun jika El Nino muncul bersamaan dengan musim kemarau, dampaknya dapat meningkat secara signifikan.

Penurunan curah hujan dapat terjadi lebih drastis, suhu udara meningkat, serta risiko kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan menjadi lebih tinggi.

Wilayah yang diperkirakan paling merasakan dampak El Nino berada di bawah garis khatulistiwa seperti Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sementara wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Kalimantan bagian utara diperkirakan tidak mengalami dampak terlalu signifikan.

Pemerintah Mulai Antisipasi Sektor Air dan Pangan

Mengantisipasi dampak terhadap ketersediaan air dan ketahanan pangan nasional, pemerintah mulai melakukan sejumlah langkah pencegahan.

Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan cadangan air di ratusan bendungan yang tersebar di berbagai daerah.

“Kita melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengisi tampungan-tampungan air kita ini agar swasembada pangan dapat kita jamin di tahun ini,” kata Faisal.

Kemarau berkepanjangan dinilai dapat berdampak pada sektor pertanian karena pasokan air untuk irigasi berpotensi menurun dan memengaruhi produktivitas pangan.

Dampak Terhadap Kesehatan Masyarakat

Selain sektor lingkungan dan pangan, cuaca panas ekstrem akibat El Nino juga diperkirakan dapat memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengingatkan masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama saat suhu mencapai titik tertinggi.

“El Nino ekstrem menyebabkan kenaikan suhu yang signifikan. Hindari beraktivitas di luar ruangan saat suhu udara sangat tinggi,” ujarnya.

Menurut Ani, suhu panas berlebih dapat memicu dehidrasi, heatstroke, serta memperparah penyakit kronis seperti gangguan jantung dan paru-paru.

Selain itu, kualitas udara yang menurun selama musim kemarau juga berpotensi meningkatkan risiko penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

BMKG mengimbau masyarakat mulai meningkatkan kewaspadaan dengan memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas di bawah terik matahari, menggunakan pelindung tubuh, dan rutin memantau perkembangan cuaca melalui informasi resmi BMKG.(*)

Sumber: Kompas.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.