Donald Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Segera Rampung, Teheran Siapkan 14 Poin
Pipit Maulidya May 24, 2026 10:04 AM

 

SURYA.CO.ID - Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menunjukkan sinyal positif.

Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa kesepakatan damai antara kedua negara sudah sebagian besar dinegosiasikan dan rinciannya akan segera diumumkan dalam waktu dekat.

Di sisi lain, pihak Teheran mengonfirmasi tengah merampungkan kerangka kerja berisi 14 pasal untuk menyudahi ketegangan, meski mereka tetap memberikan catatan kritis terhadap sikap Washington.

Klaim Donald Trump dan Fokus Pembukaan Selat Hormuz

Melalui akun media sosial pribadinya, Truth Social, Donald Trump menyatakan optimistis bahwa draf perjanjian damai ini sudah memasuki babak akhir.

Salah satu poin krusial yang disorot adalah pemulihan jalur perdagangan internasional di Timur Tengah.

"Kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, tinggal menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan berbagai negara lain sebagaimana disebutkan,” tulis Trump.

"Aspek akhir dan rincian dari kesepakatan tersebut saat ini sedang didiskusikan, dan akan segera diumumkan dalam waktu dekat," kata Trump.

Baca juga: Prabowo Ungkap Kondisi Pangan RI di Tengah Perang Dunia: Beras-Jagung Sudah Swasembada

Selain membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pasokan minyak dunia, Trump memberikan garansi terkait arah kebijakan luar negerinya.

Trump menegaskan secara mutlak bahwa perjanjian baru ini wajib membatasi ambisi militer Teheran secara ketat, serta sepenuhnya mencegah Iran untuk mengembangkan senjata nuklir.

Sebelum melempar pengumuman ini ke publik, Trump diketahui telah melakukan diplomasi telepon intensif dengan sejumlah pemimpin di kawasan Timur Tengah, mulai dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, hingga Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu pada Sabtu (23/5/2026).

Respons Iran: Siapkan 14 Pasal, tetapi Tetap Waspada

Dari pihak seberang, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, membenarkan adanya tren positif di mana posisi kedua negara saling mendekat dalam sepekan terakhir.

Kendati demikian, Iran enggan terburu-buru dan menyebut konvergensi ini bukan jaminan otomatis tercapainya kesepakatan pada isu-isu kunci.

Baqaei bahkan mengkritik sikap AS yang dinilai kerap melontarkan pernyataan yang membingungkan.

"Pernyataan kontradiktif," ujar Esmaeil Baqaei saat mengomentari sikap dari pihak AS.

Lebih lanjut, Baqaei menjelaskan bahwa pihaknya saat ini sedang fokus menyusun draf formal sebagai fondasi perdamaian.

"Niat kami pertama-tama adalah untuk menyusun nota kesepahaman, semacam perjanjian kerangka kerja yang terdiri dari 14 pasal," kata Baqaei, dikutip dari AFP, Sabtu (23/5/2026).

Iran menargetkan rincian perjanjian akhir ini dapat dirampungkan dalam kurun waktu 30 hingga 60 hari setelah draf kerangka kerja disepakati.

Adapun pergerakan positif ini juga tidak lepas dari peran Kepala Militer Pakistan, Asim Munir, yang berkunjung ke Iran untuk bertindak sebagai mediator kedua belah pihak.

Soal Selat Hormuz dan Isu Nuklir

Meskipun Donald Trump menggembar-gemborkan pembukaan Selat Hormuz, Iran memiliki pandangan tersendiri mengenai otoritas jalur laut strategis tersebut.

Sejak perang pecah, kendali lalu lintas kapal global di sana berada di bawah militer Iran, di mana setiap kapal wajib mengantongi izin Teheran sebelum melintas.

"Selat Hormuz tidak ada hubungannya dengan AS. Mekanisme untuk selat tersebut harus ditetapkan antara Iran dan Oman sebagai negara pesisir," tegas Baqaei.

Selain itu, draf 14 poin yang diajukan Iran ternyata tidak mencakup rincian tentang program nuklir, yang selama ini menjadi isu paling sensitif bagi Washington.

Menurut Teheran, perkara nuklir serta tuntutan pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran akan digodok dalam agenda terpisah.

"Menjadi subjek diskusi terpisah pada tahap selanjutnya. Ini juga merupakan salah satu poin yang perlu kita teliti secara detail dalam waktu dekat," pungkas Baqaei.

Meskipun masih ada perbedaan terkait teknis di lapangan, draf awal ini menandai langkah maju terbesar dalam diplomasi kedua negara.

"Sebuah kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, dan masih menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan berbagai negara lain. Selain banyak elemen lain dari kesepakatan tersebut, Selat Hormuz akan dibuka," pungkas Trump dalam unggahan lanjutannya di Truth Social.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.