Tidak banyak pertandingan di sepak bola internasional yang memiliki tensi setinggi duel Inggris melawan Argentina.
Kedua rival ini telah bertemu sebanyak 14 kali sepanjang sejarah, dengan persaingan yang benar-benar memanas sejak laga legendaris di Piala Dunia 1986, yang berlangsung tak lama setelah Perang Falklands masih membekas dalam ingatan publik.
Keduanya kembali berhadapan di Piala Dunia 1998 dan 2002, dua laga yang sama-sama diselimuti kontroversi. Pada 1998, kartu merah David Beckham menjadi sorotan di Saint-Etienne, sementara empat tahun kemudian Inggris berhasil membalas sedikit dendam di Sapporo berkat keputusan penalti yang diperdebatkan.
Michael Owen menjadi pusat perhatian dalam kedua pertandingan tersebut. Ia mencetak salah satu gol terbaik Piala Dunia 1998 ketika menggiring bola melewati pertahanan Argentina sebelum menuntaskannya dengan tenang. Empat tahun kemudian, setelah memenangkan Ballon d’Or, Owen kembali memimpin lini depan Inggris.
Tugas untuk menghentikannya saat itu diemban oleh Mauricio Pochettino, yang kemudian dikenal sebagai pelatih Tottenham Hotspur. Ia menjadi bagian penting dari lini pertahanan Argentina asuhan Marcelo Bielsa, yang melaju mulus di babak kualifikasi dan datang ke Jepang-Korea Selatan sebagai salah satu favorit juara.
Setelah pertemuan sebelumnya berakhir lewat adu penalti, banyak yang memperkirakan laga ini juga akan ditentukan oleh margin tipis — dan prediksi itu benar-benar terjadi.
Menjelang akhir babak pertama, Owen berlari masuk ke kotak penalti, berusaha melewati Pochettino, lalu terjatuh. Wasit Pierluigi Collina langsung menunjuk titik putih, dan David Beckham sukses mengeksekusi penalti tersebut, memberi kemenangan 1-0 untuk tim asuhan Sven-Goran Eriksson.
Namun tidak semua pihak yakin penalti itu layak diberikan, karena Owen dituduh melakukan diving.
“Itu penalti karena wasit memberikannya… [*tertawa*],” ujar Pochettino kepada majalah FourFourTwo.
“Suatu kali di Qatar, saya bertemu Pierluigi Collina, wasit dalam pertandingan itu. Dia tidak pernah mengakui bahwa itu kesalahan, tapi kita semua tahu bahwa dengan adanya VAR, keputusan itu pasti akan dibatalkan. Saya sudah menonton rekamannya jutaan kali.”
“Dari sudut pandang wasit, mungkin saya juga akan memberikannya. Tanpa teknologi seperti sekarang, saya bisa mengerti. Tapi saya tidak pernah menyentuh Owen.”
“Ketika saya melatih Southampton, Owen bekerja sebagai komentator televisi. Saya tahu dia akan datang suatu hari, jadi saya bilang pada petugas media klub bahwa saya ingin menyapanya. Saya sudah menyiapkan foto — yang jelas menunjukkan saya tidak menyentuhnya. Dia menandatanganinya dan menulis, ‘Kau pasti menyentuhku,’ disertai gambar wajah tersenyum.”
“Kami tertawa bersama. Dia cerdas, dan saya sedikit naif,” tambah Pochettino sambil mengenang momen itu.