Ketua DPW NasDem NTT Alex Ofong Tegaskan Pentingnya Politik Berbasis Gagasan dan Kritik Konstruktif
Adiana Ahmad May 24, 2026 11:19 AM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai NasDem NTT ( Ketua DPW Nasdem NTT ) Alex Ofong menegaskan pentingnya membangun politik berbasis gagasan, intelektualitas dan kritik konstruktif dalam menghadapi dinamika demokrasi dan kontestasi politik ke depan.

Hal itu dikatakan Alex Ofong dalam Diskusi Akhir Pekan (DIAN) keempat bertema “Partai Politik dan Konsolidasi Elektoral” yang digelar di Lantai II Gedung NasDem NTT, Kota Kupang, Sabtu (23/5/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi dan mahasiswa yakni Lazarus Ratu dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nusa Cendana (Undana), Bruno Rey Sonby Pantola, S.I.P., M.I.P., dosen FISIP Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira), serta Abner Paulus Raya Sanga, S.Sos., M.Si., dosen FISIP Undana.

Diskusi dibuka langsung Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai NasDem NTT, Alex Ofong. Dalam sambutannya, Alex menegaskan konsolidasi elektoral tidak semata-mata berbicara soal kemenangan politik, tetapi juga kualitas demokrasi dan kapasitas intelektual partai politik dalam membaca persoalan masyarakat.

Baca juga: Ketua Fraksi Nasdem Ungkap Alasan Satpol PP Ende Tahan 25 Sapi Kurban di Pelabuhan 

Menurut anggota DPRD NTT itu, forum DIAN yang kini memasuki pelaksanaan keempat diharapkan mampu membangun cara berpikir baru dalam kerja-kerja politik.

 mindset dan insight. Harus punya berbagai perspektif terhadap persoalan masyarakat, sehingga politisi dan aktivis tidak hanya mengejar kemenangan elektoral,” kata Alex.

Ia mengutip pandangan pengamat politik Rocky Gerung bahwa kemenangan politik harus dibangun di atas aksesibilitas, elektabilitas dan intelektualitas.

“Untuk mencapai elektoral yang bagus, kita tidak hanya mendapat kuantitas tetapi juga kualitas. Kualitas itu ditentukan oleh etika dan intelektualitas,” ujarnya.

Alex menjelaskan, forum diskusi yang digelar rutin setiap akhir pekan di akhir bulan tersebut menjadi ruang dialektika untuk membuka wawasan dan memperkuat konsolidasi politik dan elektoral di internal partai.

Ia juga menyoroti masih kuatnya stigma negatif terhadap partai politik di tengah masyarakat. Karena itu, NasDem NTT terus melakukan pembenahan melalui ruang-ruang diskusi kritis yang melibatkan akademisi, mahasiswa dan masyarakat.

“Ada fakta dan problematika politik yang luar biasa. Dari diskusi ini akan menjadi tolok ukur pengembangan politik ke depan dengan berbagai kritik yang ada. Kami sangat serius dengan pemikiran kritis. Dengan kritik-kritik ini kami terus berbenah diri,” katanya.

Menurut Alex, politik tidak hanya berbicara tentang perebutan kekuasaan, tetapi juga bagaimana kekuasaan dikelola untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat, termasuk kemiskinan.

Baca juga: Ketua Fraksi Nasdem Ungkap Alasan Satpol PP Ende Tahan 25 Sapi Kurban di Pelabuhan 

“Kami tidak ingin mendiamkan angka kemiskinan. Politik itu memperebutkan kekuasaan dan pengelolaan kekuasaan,” katanya.

Pada kesempatan itu, Alex juga menekankan pentingnya memenangkan argumentasi sebelum memenangkan pemilihan.

“Kita harus percaya bahwa partai tidak saja menang karena uang. Apabila ingin memenangkan pemilihan maka terlebih dahulu memenangkan argumentasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, NasDem NTT sengaja melibatkan mahasiswa FISIP Undana yang tengah menjalani magang di DPW Partai NasDem sebagai narasumber diskusi karena dinilai memiliki basis pengetahuan komunikasi politik yang dapat memberikan kontribusi gagasan dan strategi pengembangan partai.

“NasDem sangat membutuhkan nutrisi politik. Jadi kalau ada masukan sebagai nutrisi silakan sampaikan melalui diskusi-diskusi. Kami sangat membutuhkan kritik,” ujarnya.

Dalam pemaparan materi, mahasiswa FISIP Undana, Lazarus Ratu menyoroti pentingnya pembentukan kandidat dan komunikasi politik yang sehat dalam kerja-kerja partai politik. 

Ia membandingkan semangat restorasi Partai NasDem dengan tagline “bersatu, berjuang dan menang” yang menurutnya harus diterjemahkan dalam kerja politik yang nyata di tengah masyarakat.

Baca juga: Target PAD Rp 2,8 Triliun Jadi Sorotan, Diskusi NasDem NTT Kupas Tantangan Fiskal Daerah

Menurut Lazarus, komunikasi politik seharusnya dibangun melalui ruang-ruang diskusi dan media yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

“Komunikasi politik harus disampaikan kepada semua orang melalui diskusi dan media. Pejabat juga sering menyampaikan statement yang terkadang aneh,” katanya.

Ia menilai masih banyak masyarakat yang belum memahami politik dan bahkan masih jauh dari kemajuan. Karena itu, partai politik memiliki tanggung jawab besar memberikan pendidikan politik kepada masyarakat.

Lazarus juga menekankan pentingnya kampanye yang demokratis dan profesional, sekaligus didukung data yang akurat mengenai kondisi dan kebutuhan masyarakat.

“Partai politik harus tahu apa yang terjadi di masyarakat, termasuk apa yang dibutuhkan masyarakat. Melalui anggota DPRD yang dimiliki partai politik, harus disampaikan agar kebijakan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti masih rendahnya keterlibatan masyarakat dalam pemilu. Karena itu, menurutnya, partai politik harus mampu membangun strategi marketing politik yang mendorong partisipasi publik, termasuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana penyebaran informasi politik.

“Lewat marketing partai harus memastikan keterlibatan masyarakat dalam memberikan hak suaranya. Tingkatkan informasi partai politik melalui media sosial,” katanya.

Sementara itu, dosen FISIP Unwira, Bruno Rey Sonby Pantola menilai partai politik tidak hanya berbicara tentang basis suara dan kemenangan pemilu, tetapi juga harus menjadi ruang lahirnya ide dan gagasan.

Baca juga: Ketua Fraksi NasDem DPRD NTT Soroti Surat Keberlanjutan Tenaga Honorer dari Dikbud 

Ia menyebut politik sejatinya merupakan ruang konflik gagasan yang harus terus dihadirkan demi kepentingan masyarakat.

“Partai politik merupakan sebuah ide. Ruang politik adalah ruang konflik dengan menyimpan ide pada ruang publik lalu didiskusikan bersama,” katanya.

Menurut Bruno, komunikasi politik tidak boleh hanya bergantung pada media sosial, tetapi harus dibangun melalui dialog langsung dengan masyarakat.

“Jika dengan duduk bersama maka kita dapat menghadirkan ruang persekongkolan hati nurani. Turun ke masyarakat dan menyampaikan ide itu dengan masyarakat. Jangan mementingkan kelompok tertentu. Membuat seni baru dalam berpolitik,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kecenderungan publik yang selalu mengaitkan politik dengan korupsi sehingga mengabaikan ide dan gagasan yang sebenarnya menjadi inti dari politik itu sendiri.

“Tidak perlu bicara soal korupsi. Diskusilah ide dan gagasan untuk membangun kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Sedangkan pemateri ketiga, dosen FISIP Undana, Abner Paulus Raya Sanga mengatakan politik merupakan etalase realitas yang harus mampu membaca kondisi nyata di tengah masyarakat.

“Politik merupakan etalase realitas. Partai politik dalam aktivitasnya harus membahas realitas yang ada dalam etalase tersebut,” katanya.

Ia menjelaskan komunikasi politik sangat dipengaruhi oleh cara pesan disampaikan kepada publik. Menurutnya, pesan politik bersifat simbolik dan membutuhkan media yang tepat agar dapat dipahami masyarakat.

“Kebohongan itu ketika disampaikan berulang kali maka dianggap sebagai kebenaran. Begitulah komunikasi,” ujarnya.

Abner juga menyinggung pentingnya identitas dan pencitraan dalam politik. Menurutnya, citra bersifat netral tergantung bagaimana ditempatkan dan digunakan oleh partai politik maupun figur politik itu sendiri. (fan) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.