Ratusan Warga Kirab 8 Gunungan di Festival Candi Kembar Klaten, Angkat Sejarah Prasasti Wukiran
Tri Widodo May 24, 2026 11:32 AM

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Ratusan warga dari delapan dukuh di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, tampil memukau dalam Festival Candi Kembar, Sabtu (23/5/2026).

Mereka mengarak delapan gunungan sambil mengenakan pakaian adat hingga busana kreasi budaya Nusantara.

Baca juga: Pesepeda dari Berbagai Negara Gowes di Jalur Candi, Peserta KLIC Fest Nikmati Prambanan-Plaosan

Baca juga: Dubes Belanda dan Jerman Gowes di Social Culture Ride Klicfest 2026, Prambanan Jadi Pusat Aktivitas

Kirab budaya tersebut dimulai dari kawasan Kompleks Candi Sewu menuju Candi Plaosan dengan jarak kurang lebih dua kilometer.

Sepanjang perjalanan, warga tampak antusias menyaksikan rombongan kirab yang berjalan kaki membawa gunungan hasil bumi.

Sesampainya di Lapangan Paseban Plaosan, masing-masing kelompok bergantian menampilkan pertunjukan budaya berupa tarian hingga teatrikal.

Meski sempat diguyur hujan deras, semangat peserta maupun penonton tetap tinggi mengikuti jalannya festival.

Satu di antara peserta kirab, Iwan Rinanto (46) dari Dukuh Cepoko, mengatakan kelompoknya mengangkat tema sejarah lokal dari Prasasti Wukiran atau Prasasti Pereng.

“Jadi cerita yang kami bawa tentang Prasasti Wukiran atau Prasasti Pereng,” ujar Iwan kepada TribunSolo.com.

Ia menjelaskan, prasasti tersebut berkaitan dengan sejarah Kerajaan Mataram Kuno yang memuat informasi mengenai wilayah Sima atau tanah perdikan.

Menurutnya, kisah dalam prasasti itu juga berkaitan dengan Rakai Pikatan saat membangun Candi Plaosan sebagai persembahan untuk istrinya.

“Intinya menceritakan ketika Rakai Pikatan membuat Candi Plaosan untuk persembahan istrinya,” jelasnya.

Selain itu, dalam cerita tersebut juga disebutkan tokoh Empu Kumbayoni yang menjadi bagian sejarah Keraton Ratu Boko.

Iwan mengatakan tema tersebut dipilih karena berkaitan erat dengan sejarah di wilayah setempat.

“Jadi, kita memang mengangkat budaya di lingkungan kita,” katanya.

Kirab Gunungan 

Tak hanya menampilkan budaya, peserta juga membawa gunungan berisi hasil bumi khas masyarakat setempat.

Iwan berharap penampilan budaya tersebut bisa menambah wawasan masyarakat maupun wisatawan mengenai sejarah asli kawasan Prambanan.

“Harapannya nanti para turis mengetahui sejarah sebenarnya. Dan kita mengangkat cerita itu berdasarkan fakta dari Prasasti Wukiran yang sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia,” ucapnya.

Festival Candi Kembar menjadi bagian dari rangkaian Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026.

Sebelumnya, sejumlah agenda internasional juga telah digelar dalam rangkaian acara tersebut, di antaranya International Cycling History Conference (ICHC) dan International Veteran Cycling Association (IVCA).

Rangkaian KLIC Fest 2026 dijadwalkan ditutup di Kompleks Candi Sewu, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Minggu (24/5/2026). (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.